Monday, 5 November 2007

My Old Blog Posted! (Republish)

Membelilah Sedikit Mungkin…!

Mau itu produk lokal ataupun bukan, namanya jual beli, ya semuanya itu sudah kontra-revolusi. Masalahnya, kita semua tidak bisa ‘kan benar-benar lepas dari sistem ini? Jadi, kenali saja akarnya, dan usahakan agar kita sedikit mungkin terlibat dalam sistem ini. Membeli produk lokal dalam artian membantu teman kita yang punya usaha kecil untuk bertahan hidup, itu bagus. Membeli produk lokal dari seorang ibu tua dan miskin penjual surabi murah di pinggir jalan, itu bagus. Membeli produk lokal dari kenalan kita yang membuat usaha independen dan hasil jualnya untuk membiayai sekolahnya dia, itu bagus. TAPI MEMBELI “PRODUK LOKAL” SEPERTI TETUKO CN 235, MOBIL TIMOR, AYAM SUHARTI ATAU SARUNG CAP GAJAH DUDUK, ITU SAMA SEKALI TIDAK MEMBUATKU, TEMAN-TEMANKU YANG KESULITAN DANA DAN PARA PEKERJA YANG ENTAH ITU ORANG INDONESIA ATAU BUKAN JADI DAPAT BERUBAH KONDISINYA…!

Hampir lupa, kalau kalian mengusulkan nasionalisme, kalian akan membuat negara ini tidak ada bedanya dengan kediktatoran yang pernah Indonesia alami dimana Koes Ploes ditahan hanya karena mengapresiasikan dirinya dengan musik mereka. Sama seperti itu juga, atas dasar sosialisme nasionalis yang serupa, Hitler muncul menjadi tokoh yang mengerikan di abad lampau. Atau yang kalian usulkan adalah nasionalisme ala Zapatista? Zapatista tidak menyuruh agar para indian Maya memboikot produk asing, wong mereka pakai senjata M-16 dan berbagai produk McDonnel Douglass, handycam Sony, laptop bersoftware Microsoft untuk berperang dan mempertahankan hak-hak hidup mereka kok! Lagian, di Chiapas ‘kan penduduk yang terlibat dalam gerakan yang dikomando-in si Marcos masih lumayan homogen, indian Maya. Lah Indonesia…? Hitung berapa jumlah suku di Indonesia dan baca koran, lihat bagaimana antar suku saja di sini saling bentrok. Mau mengikuti siapa hayo…? Atau mau membuat teori soal nasionalisme kalian sendiri? Bagus kalau begitu, tapi kalau praktek nasionalisme kalian itu kayak yang kalian tulis di artikel kalian itu…wah, tidak deh!

Yeah. Kalian telah mendukung revolusi, revolusi untuk orang kaya Indonesia. Tapi, aku bukan orang kaya walaupun tidak juga bisa disebut miskin, tapi aku tidak suka dengan ide kalian yang pro-orang kaya dan pro-konglomerat Indonesia. Selamat, kita telah berseberangan jalan. See you on the battlefield…karena saat terjadi kekosongan kekuasaan, orang-orang yang kalian dukung itulah yang menjadi target penjarahanku yang pertama.

Oh ya, pernah dengar sistem Neo-Liberalisme dimana para elit politik Indonesia yang notabene juga rakyat Indonesia ambil bagian di dalamnya? Saran: kalian bicara kapitalisme tapi seakan kalian tidak mengerti soal apa itu kapitalisme, jadi pelajari lagilah soal apa itu kapitalisme dan bagaimana sistem itu bekerja, mungkin dengan begitu kalian akan mengerti kemana larinya duit yang digunakan untuk membeli produk dalam negeri seperti kata kalian itu. Hidup Rakyat…? No way!

Aku terlalu sibuk untuk merebut kembali hidupku yang telah tercuri dari diriku sendiri.

Pilihan atau Kutukan…?

Kalau ada seorang perempuan ditanya apakah dia mau dieksploitasi untuk tampil menjadi seorang bintang iklan, masa iya dia tidak mau? Taruhan, sebahagian besar perempuan pasti ingin sekali menjadi bintang iklan! Tapi sekarang kalau pertanyaannya: mau tidak menjadi bintang iklan yang harus tampil dengan pakaian ketat atau harus menunjukkan betapa indahnya payudara, paha atau kulit mereka? Nanti dulu! Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Karena apakah ini berarti perempuan tersebut dieksploitasi? Belum tentu juga, ‘kan pilihannya ada pada perempuan itu sendiri. Kalau dia bilang iya, berarti dia memang mau mengeksploitasi tubuhnya karena dia mendapatkan imbalan dari sana, misalnya. Kalau dia bilang tidak, itu juga haknya dia. That’s merely her choices. Period.

Ok, sekarang kita lihat peran perempuan di dalam iklan yang memang membutuhkan keindahan fisik mereka tersebut. Jangan lupa kalau pada kenyataannya ada banyak pilihan peran perempuan di dalam iklan, selain hanya menjual keindahan fisik mereka, iya ‘kan? Tapi khusus untuk peran yang mengharuskan mereka untuk menonjolkan keindahan tubuhnya, biasanya produknya juga bukan hanya untuk lelaki tapi juga perempuan. Loh! Kok bisa?

Ya, sekarang kalau kita mau menjual produk pelangsing tubuh untuk perempuan, pernah tidak kita lihat iklan yang menggunakan perempuan bertubuh besar dan berpembawaan maskulin misalnya. Tidak pernah ‘kan? Karena mereka harus menampilkan perempuan-perempuan yang istilahnya bertubuh ideal tersebut sebagai hasil akhir dari penggunaan produk tersebut. Lalu sekarang, salahnya siapa? Perempuan yang menjadi model iklan tersebut atau perempuan-perempuan yang terobsesi memiliki tubuh seperti itu? Menurutku sih, tidak ada yang salah! Mereka semua hanya menjadi dirinya sendiri! Tapi keinginan, kebutuhan akan produk tersebut serta perempuan-perempuan yang menjadi sasaran iklan tersebut memang DIBENTUK oleh masyarakat dan lingkungan kita sendiri yang mengagung-agungkan perempuan dengan bentuk tubuh seperti itu. Mengerti ‘kan maksudku?

Nah, kalau untuk produk buat laki-laki bagaimana? Kenapa perempuan yang dipilih juga biasanya yang istilahnya tidak ada matinya dalam arti fisik? Karena kalau kita ingin menjual ‘kecantikan dalam’ atau inner beauty di dalam sebuah iklan, itu susahnya minta ampun! Ya iyalah, sekarang bagaimana caranya kita menggambarkan seorang perempuan yang berani, kreatif, sensitif, jujur dan keibuan misalnya. Kita sendiri semua tahu untuk mengetahui karakter dan sifat perempuan butuh waktu dan proses! Iya ‘kan, Cinta? Sedangkan, untuk menilai seorang perempuan bertubuh sempurna menurut standar lelaki? Gampang! Pandangi saja dia selama lima menit. Cara berjalan, berbicara, melipat kaki, selesai. Perempuan ini amat sangat menarik fisiknya! Dalam kurung: seksi abis…

Makanya, untung juga sih iklan televisi di sini durasinya paling lama 30 detik, coba kalau sejam!? Gila! Mungkin seperti nonton sebuah film pendek yang pada akhirnya hanya akan membuat kita beli dan beli terus kali! Plus kepercayaan kita akan figur-figur buatan televisi dan iklan-iklan untuk mendefinisikan siapa yang keren, jelek, seksi, gagah, pintar, funky dan lain sebagainya itu pasti jadi makin aneh-aneh dan tidak masuk akal deh! Hihihihi!

Namun peran perempuan dengan keindahan fisik mereka memang sangat kuat pengaruhnya di masyarakat kita selain terhadap kaum laki-laki itu sendiri. So, jangan takjub kalau kalian mungkin pernah melihat iklan sebuah produk yang sebenarnya sama sekali mungkin tidak ada hubungannya dengan perempuan apalagi perempuan bertubuh indah luar biasa, namun keberadaan mereka terasa sekali kalau dipaksa dimasukkan di sana. Bahkan mungkin malahan jadi merusak iklan itu sendiri!

Habisnya bagaimana? Menurut hasil riset pemasaran yang umumnya dibuat oleh badan-badan riset maupun oleh produsen-produsen besar itu, pembeli mereka memang paling tertarik dengan visual bergambar perempuan-perempuan seperti itu, Cinta…! Dibandingkan dengan menggunakan humor atau gambar indah seperti alam, anak-anak maupun binatang sekalipun, perempuan bertubuh indah tampaknya memang masih menempati posisi teratas untuk gambar yang paling menarik untuk ditampilkan di iklan. Ini berlaku untuk produk massal yang berarti memang untuk masyarakat umum, tidak hanya mereka yang istilah katanya memiliki tingkat pendidikan tinggi maupun tinggal di kota serta mempunyai gaya hidup modern saja.

Produsen-produsen tadi ‘kan juga tidak bodoh untuk mau mengeluarkan banyak uang untuk membuat iklan yang tidak menarik pembeli apalagi sasaran pembelinya itu tadi. Iya ‘kan…? Money talking, tolol…! Lebih baik mereka menggunakan uang mereka untuk sesuatu yang sudah pasti menguntungkan daripada memilih menggunakan sebuah gambar yang masih belum tentu menarik pembeli mereka atau tidak. Iya ‘kan…? Makanya jadi produsen dong sekali-sekali, jangan jadi konsumen melulu!Heheheh…!

Jadi, kembali ke awal…ada banyak hal yang menjadikan hal ini terjadi karena semuanya memang berhubungan dalam iklan, pemasaran dan komunikasi. Tidak bisa hanya dengan menghancurkan billboard, atau merusak spanduk saja misalnya, karena seksploitasi perempuan di iklan ternyata melibatkan banyak pihak untuk mau merubah itu! Kalau hanya salah satunya saja ya tidak mungkin jalan! Karena iklan adalah ilmu komunikasi menjual barang, ini berarti kita bicara bahasa yang dimengerti semua orang di bidang pemasaran ‘kan…?

Ingin membuat sebuah cara berkomunikasi atau bahasa berbeda di dalam iklan selain paha mulus dan dada montok? Jangan beli produk yang menggunakan iklan dengan figur perempuan seperti itu kalau jelas-jelas kalian tidak membutuhkan produknya! Kedua, lagipula kalian ‘kan tahu definisi perempuan seksi dan cantik bukanlah seperti yang mereka buat, tapi definisi kalian untuk diri kalian sendiri. Benar, tidak…?

Jangan senyum-senyum saja dong! Jawab! Hahahaha…!

Sepakat Untuk Tidak Sepakat

“Bandung Lautan Asmara”, “Itenas VS Unpad”, “Itenas 2001” or whatever, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi. Apparently, the girl on the video used to be my classmate. Terlepas dari siapa-siapanya, kasus ini menjadi kontroversi besar di kampus gwe. Polemik timbul antara yang “membela” dan “menghujat”, sampai-sampai pernah diadakan “sidang” terbuka berbentuk talk show bebas. Tapi yang jelas, bahwa fenomena ini merupakan sebuah “tip of the iceberg” atau “fenomena gunung es”. Masih banyak yang bisa kita temukan jauh di bawah “puncak” gunung ini, mungkin yang lebih sensasional. Jadi, mengapa kita harus selalu memposisikan kita sebagai “algojo” yang hanya melihat “hitam dan putih” dari satu masalah. Banyak faktor yang memicu timbulnya fenomena ini, jadi siapa kita??? Berhak menghakimi “dia” yang notabene menjadi korban produk budaya dan gencarnya tayangan-tayangan pendukung timbulnya masalah seperti ini. Mind your own business!

“Mencintai” PELACUR

Pelacur dan Pelacuran
Di banyak negara yang relatif “maju dan modern” pelacur dan pelacuran itu jelas ini dan itunya yang diatur dalam undang-undang. Di negara-negara yang relatif “bodoh” pelacur dan pelacuran masih kontinu bisa menjadi apa saja, sebab tidak jelas undang-undangnya. Tidak mengherankan kalau para pelacur diharu-biru, dianggap obyek belaka, dan dinista. Penistaan itu berulangkali muncul dalam razia pelacur dan pelacuran, semisal dalam obrak-abrik dan bahkan pembakaran rumah-rumah bordil, dengan alasan yang tidak jelas. Padahal, pelacur, sebagaimana halnya mereka yang butuh pelacur, adalah sama-sama manusia.

Empat Perkara
Sikap menista dan menganggap pelacur hanya sebagai angin dan obyek belaka yang lalu diharu-biru adalah indikasi sikap primitif.

Pertama: Bukan Bandit
Para pelacur itu pada umumnya bukan bandit. Seperti warga negara lainnya, mereka juga punya hak-kewajiban sipil-privasi yang sama. Ini harus dihormati! Sebab order sosial/kolektif berdasar order individu, dan bukan sebaliknya.

Kedua: Alasan Kabur
Alasan pengharu-biruan dan penistaan amat kabur. Alasan moral kesucian misalnya, berasal dari bahasa surga yang abstrak. Saat diterjemahkan ke bahasa bumi yang konkret, rentan distorsi. Sarat 1001 subjektivitas! Sesuka sang penerjemah!

Ketiga: Mencari Nafkah
Umumnya para pelacur itu hanya mencari nafkah. Menjual jasa. Mereka lalu disebut pendosa. Para pembeli dan pengguna jasa, apakah bukan pendosa?

Keempat: Kerancuan
Kerancuan menyangkut-pautkan pelacuran, seksualitas dan hukum positif. Kemiskinan/pemiskinan seksualitas dalam pelacuran - yang sepenuhnya bersifat pribadi bagi konsumen dan menjadi barang komoditi bagi pelacur - bukan fondasi yang kuat bagi pengurangan hak-hak sipil pelacur dan apalagi mendiskriminasikannya.

Laporan 150 Halaman
Empat perkara itu secara lebih rinci bisa dibaca dalam sebuah laporan 150 halaman (kuarto, spasi satu) yang intinya mengajak kita “mencintai” pelacur sebagai sesama manusia yang punya hak/kewajiban sama dalam hidup bersama di bumi konkret.

Mengurus Tiga Perkara
Laporan itu terbit tahun 1997, hasil kerja sama NSWP, Network of Sex Work Projects dan Anti-Slavery International, Inggris. Berdasarkan riset situasi prostitusi di Brazil, Inggris, Wales, Ghana, Belanda, Muangthai dan Turki, yang pada intinya mengurus tiga perkara.
Pertama, agar prostitusi diakui sebagai profesi bagian pluriformitas ketenagakerjaan dalam agenda global, demi penegasan HAM. Kedua, agar persepsi klasik publik yang mengucilkan pelacuran sebagai penyimpangan sosial, “dicerahkan”. Ketiga, represi terhadap pelacur menandai kemunafikan dan ketidakadilan, sebab pelacur adalah realitas sosial yang niscaya sebagai produk sistem masyarakatnya sendiri.

Ibarat Koin Mata Uang
Masyarakat itu ibarat koin mata uang. Maka “mencintai” pelacur adalah kubu sisi luar. Sisi dalam adalah kubu pietisme “karatan” yang tidak mampu bersikap realistik. Kubu ini, menurut laporan, adalah biang dehumanisasi pelacur dan pelacuran. “Berkat” dialah maka penistaan yang dungu-primitif menjadi “harga niscaya” yang harus dibayar pelacur.

Diskriminasi
Pertama, diskriminasi dari polisi dan aparat hukum. Jika pelacuran jadi perkara, hampir selalu sang pelacur jadi terdakwa dan sang klien tidak tersentuh. Begitu mudah polisi menangkap pelacur, memacam-macami, dan acapkali dengan perlakuan kasar.

Soal Registrasi
Kedua, diskriminasi dari sirkuit resmi lain semisal dalam registrasi ketenagakerjaan dan keimigrasian. Pelacur tidak bisa berserikat karena kondisi terisolir atau dilarang. Tidak bisa mengklaim jaminan sosial dan atau rasa aman, bahkan jika mereka membayar pajak sekalipun.

Pembatasan
Ketiga, pembatasan kehidupan pribadi. Di berbagai negara yang entah suci atau sangar, pelacur dihambat dan dilarang menikah, dicap kriminal, hanya boleh tinggal di kawasan tertentu, dan anak-anak mereka “dirampas” negara.

Kondisi Buruk
Keempat, kondisi buruk situasi “kerja” semisal penyanderaan gaji, tidak dibayar teratur atau digaji lebih rendah dari yang disepakati, kerja rutin lebih 12 jam, dan tidak ada liburan dengan gaji - no work, no money!

Sikap Negara
Kelima, sikap mengambang negara yang tidak mampu memastikan posisi pelacur sudah membuat ketiadaan ruang perlindungan legal akan hak-hak pelacur sebagai “pekerja” atau minimal sebagai warganegara. Tiap pelacur selalu rentan eksploitasi oleh klien, mucikari, preman, aparat keamanan, dan bahkan oleh pejabat pemerintah - secara fisik, psikis dan finansial. Ujungnya, dengan kadar masing-masing tergantung waktu dan tempat, para pelacur selalu terpuruk dalam pelecehan aneka wujud semisal diperbudak, jadi obyek, dijualbelikan seperti ternak, ditindas, dan dimanipulasi.

Mengingkari Realitas
Keenam, lima butir di atas menandai wujud peradaban yang mengingkari realitas. Dari sudut politik, ia menandai hipokritisme sirkuit kekuasaan dalam memanjakan sirkuit “hansip jagat surgawi”. Ia juga menandai kemalasan, keengganan, ketakutan atau ketidakmampuan negara memproduksi UU perlindungan pelacur.

Tidak Mengubah Kenyataan
Tanpa perubahan sikap cinta yang revolusioner, apapun sikap-opini-dalil tentang pelacur dan pelacuran, tidak mengubah kenyataan bahwa mereka sudah eksis di bumi sejak era baheula dan masih awet. Banyak nabi dan tukang pikir sudah turun ke bumi. Seabrek buku anti pelacuran sudah terbit. Dogma tentang keterkutukannya sudah diperdengarkan di 1001 kesempatan. Tapi dengan berbagai cara, mereka tetap eksis di semua negara di bumi, apapun bentuk resmi negara itu, bahkan di negara-negara “suci terberkati”.

Pelakunya Siapa Saja
Jadi, apa soalnya?
Apakah kita ditipu, dilecehkan, dinodai, direcoki, diancam dan atau diteror oleh para pelacur? Jika semua perbuatan negatif itu dilakukan pelacur, apa hal tersebut memang nyantel dalam “martabat” kepelacuran? Bukankah semua prilaku negatif itu bisa dilakukan siapa saja apapun profesinya?

Transaksi
Mungkin kita tidak setuju pelacur adalah profesi. Tapi bukankah hakikat profesi itu transaksi? Pihak satu menjual atau melakukan sesuatu dan pihak lain membayar? Bukankah hanya itu yang riil terjadi dalam pelacuran? Hal itu sungguh berbeda dari KKN atau jagat maling. Dalam KKN, yang terjadi ialah penipuan yang seolah-olah transaksi, namun amat culas. Dalam jagat maling, babar blas tidak ada mekanisme transaksi.

Apa Mekanismenya?
Para pelacur, konon, merusak moral masyarakat. Bagaimana cara? Apa para pelacur itu agresif? Aktif berkampanye? Mempunyai pers/media untuk menyebarluaskan “filosofi dan isme” mereka? Sejauh yang aku tahu, di Indonesia, mereka tidak/belum mempunyai akses semacam itu. Mereka pasif dan daya “agresi” praktis tidak ada. Banyak yang minder dan mengkeret. Dengan ketidakberdayaan sosial semacam itu, bagaimana mereka merusak? Bagaimana mekanismenya?

Masyarakat Bisu
Jadi, mengapa pelacur dimusuhi? Pernahkah kita berdiskusi dengan pelacur hingga mengetahui isi hati dan keinginannya? Pernahkah mereka memperdengarkan suaranya? Lewat apa? Partai, organisasi, atau perwakilan? Sejauh yang aku tahu, mereka tidak/belum bicara, sebab sistem kehidupan tidak/belum dialogis. Secara komunikatif, mereka terpuruk menjadi masyarakat bisu tanpa hak dan hanya punya kewajiban. Masih banyak negara yang tidak/belum memperlakukan pelacur sebagai subyek manusia utuh-normal dan warga negara yang punya hak-kewajiban sama seperti warga negara lainnya.

Hanya Obyek Saja
Artinya, para pelacur hanya menjadi obyek bagi sirkuit di luar mereka, termasuk beleid-beleid negara, yang sejatinya menjadi hak mereka pula untuk ikut merancangnya. Jika sistem politik memaksa pelacur tidak punya hak berpendapat, siapa yang bermasalah? Bukankah sirkuit bukan pelacur bisa apa saja terhadap pelacur, dan bukan sebaliknya?

Realitas Sosial
Apapun jawabannya, pelacuran adalah realitas sosial yang pro-kontranya tergantung mutu peradaban zamannya, sang sumber pelacuran itu sendiri. Maka, pelacur akan selalu menanggung konflik batin menghadapi vonis masyarakat, yakni stempel bejat moral yang terus melekat dan membuat prostitusi jadi awet. Sebab, ia bukan diakomodasi dan diurus sebagai soal ketidakadilan sosial, ekonomi, politis dan manipulasi historis (terbukti sehat dan produktif di banyak negara “maju”), tetapi malah divonis sebagai soal moral dengan fondasi langit surgawi yang abstrak (hasilnya nol-plus-nol) dimanapun.

Tidak Ada Dilema
Secara psiko-sosiologis, vonis itu terwujud dalam “apriori bisu” publik menyikapi mantan pelacur yang sudah kapok, ialah masih memperlakukan pelacur secara “khusus” ketika berhasrat kembali ke tengah masyarakat sebagai manusia “biasa”. Akibatnya, para mantan ini cenderung kembali menjadi pelacur lagi dan malas mencari alternatif pekerjaan lain. Jadi, sikap masyarakat yang secara sosial-eksistensial-kemartabatan masih primitif-statis dan tidak dewasa, membuat jagat pelacuran seolah-olah dilema. Padahal, dilema ini tidak ada. Yang ada adalah peradaban yang belum cerdas sebab tidak mampu menerima pelacuran sebagai kenyataan kehidupan.

‘Bergaul dan Mencintai’ Pelacur
Terpenting: pelacur dan pelacuran akan terus menjadi problem kalau sebuah bangsa tidak mampu menyelesaikan biang keladinya ialah kemunafikan sistem peradaban yang diberlakukan. Ketimbang “memusuhi” para pelacur, bagaimana kalau dikembangkan cara bagaimana “bergaul dan mencintai” pelacur secara membumi dan manusiawi, menurut prinsip sistem kehidupan yang cerdas, manusiawi, modern, beradab dan futuristik?

Mimpi Buruk…!?

Bagaimana kabar kalian semua…? Aku hanya ingin memastikan kalau keadaan kalian semua baik-baik saja. Entah itu yang berada di medan juang, squat, distro, gedung pertunjukan, toko-toko minuman ataupun yang ada di jalan. Tidak terasa sudah begitu cepat perjalanan waktu yang telah kita lewati bersama, banyak diantara kita yang memutuskan untuk berpisah jalan, mencoba untuk berkompromi pada kuatnya sang zaman, banyak pula yang masih tersisa dengan gagah menentang dunia dengan penuh kesombongan dan kecongkakan ini. Banyak yang diantaranya tewas terpukul oleh arus utama dan banyak pula yang memilih mati terseret arus kebimbangan yang mereka ciptakan sendiri.

Kita akui atau tidak kalau sebenarnya kita tidak pernah menyangka bakal dihadapkan pada suatu bentuk kehidupan yang seperti ini. Suatu bentuk kehidupan “gila” yang baru sekarang kita temukan dan sadari. Kita tidak menduga sama sekali bahwa dari budaya dan perilaku meniru gaya, model pakaian maupun tingkah laku dari seseorang pujaan yang berdandan shocking dan “nyeleneh” itu mengantarkan kita pada permasalahan yang begitu besar. Ya, sebesar otak, hati yang kita punya. Begitupun dengan jalan keluar yang coba “ditawarkan”. Cukup sederhana memang, mundur teratur, tersungkur dan hancur atau menerjang dan melawan bahaya besar yang menghadang. Aha, cukup dilematis bukan? Di satu sisi kita dihadapkan pada suatu bentuk idealisme dan komitmen yang sudah kita sepakati bersama tapi di satu sisi kita dihadapkan pada situasi dan kondisi lainnya, seperti faktor usia, karir ataupun rumah tangga. Mungkin tidak kita menghilangkan salah satunya…?

Oh iya, aku jadi ingat omongan sobatku, yang bilang “sebetulnya bukan penampilan yang paling penting, tetapi adalah pembangkangan keseharian sampai pada akhir hayat kita!” Wah…terus terang aku jadi berpikir seribu kali, kenapa sobatku yang tidak pernah kenal apa itu Punk/Hardcore, tidak pernah mengenyam pendidikan entah itu SMP, SMA ataupun Perguruan Tinggi dan tidak pernah tahu siapa itu Bakunin, Tolstoy, Nietzsche, Malaka dan Guevara, bisa bicara seperti itu? “Apa kita sudah terlalu banyak minum, ataukah terlalu makan bacaan dan tulisan sehingga membuat kita hanya diam dan akhirnya mati dalam posisi duduk sambil memegang botol ataupun buku pergerakan, sedangkan kita sudah dimakan belatung dan dijadikan sarang laba-laba? Sangat konyol bukan, apabila dikabarkan majalah/koran, seseorang mati tersedak karena minuman ataupun memakan Tuhan-Tuhan mereka sendiri?” tambahnya. NO GOD NO MASTER. Tapi kok…? Oppss…sorry kejauhan!

Ehm…Saat ini banyak sekali teori/aliran kritis yang ada, entah itu sayap kiri, sayap kanan ataupun sayap McDonalds. Mulai dari yang menyebut dirinya seorang Demokratis, Sosialis, Komunis, Anarkis, Agamis ataupun Atheis. It’s Ok! Tapi yang perlu disayangkan, banyak dari aliran-aliran itu yang saling menjegal, saling menjatuhkan dan sering mengklaim bahwa dirinyalah yang paling benar. Perdebatan panjang yang tidak pernah berakhir lantaran kepicikan sebagian besar dari mereka dalam menyingkapi permasalahan. Perselisihan pendapat sedikit saja menyebabkan baku hantam antar teman. Perbedaan penafsiran mengenai sesuatu saja sudah menyebabkan perkelahian antar saudara. Kita tak ubahnya seperti buih-buih air di tengah samudera lepas, dihempaskan oleh gelombang kesana kemari. Apa dengan begitu masalah ini akan terselesaikan? Tidak tahukah kita kalau inilah yang diinginkan oleh musuh kita yaitu “bajingan-bajingan kapitalis”. Pertikaian, perselisihan, permusuhan, perkelahian, dan peperangan antar sesama, rekan, kawan, saudara adalah suatu tindakan yang konyol dan buang waktu.

Karena aku yakin kalau inilah strategi yang dilancarkan oleh bedebah-bedebah itu dalam menghalusinasikan kesadaran-kesadaran kita dalam mengenal musuh-musuh utama! Tidakkah lebih penting berjabat, bergandengan tangan, kuatkan barisan kemudian bersama-sama merobohkan berhala-berhala dan musuh-musuh utama kita yaitu Kapitalisme itu sendiri. Beruntung kalian masih hidup karena kemarin terkena isu yang menyesatkan tersebut. Isu pertikaian antar suku, agama, ras adalah sebagian kecil yang sudah terjadi dan kita rasakan sendri. Bagaimana mereka memporakporandakan kehidupan manusia hampir di berbagai belahan dunia, sudah tidak bisa ditolerir lagi. Kerusuhan yang sudah hampir terjadi di setiap daerah, dari ujung timur Aceh sampai ujung barat Papua adalah hasil dari rekayasa mereka.

Aku pikir bahwa apa yang telah diramalkan oleh kitab-kitab suci, yaitu turunnya setan atau dajjal ternyata sudah terbukti sekarang. Makhluk tinggi besar dengan mata satu di tengah adalah gambaran musuh utama yang kita hadapi sekarang yaitu kapitalisme, sangat kuat dan tidak bisa diremehkan. Sejarah telah membuktikan sepak terjangnya dalam proses penghancuran dunia. Dan saat ini mereka sudah berhasil menancapkan kuku-kukunya yang runcing ke dalam urat nadi kita. Pelan namun racunnya pasti akan segera masuk ke dalam aliran darah dan langsung menuju ke jantung, mematikan semua sistem syaraf yang ada dalam tubuh. Yang perlu ditanyakan dalam hati kita sendiri adalah “apa kita punya kekuatan dan kemauan untuk melawannya? Atau malah menikmati racun yang disuntikkan sambil menunggu hari kematian dan ajal menjemput kita…?” Ya, semua itu balik ke diri kita masing-masing, karena hanya kitalah yang tahu akan kehidupan kita dan keputusan yang kita ambil dan jalani.

Bicara mengenai perlawanan, aku rasa perlu pengkajian ulang. Itu terserah dengan kalian semua. Tapi yang aku tidak tahu, kenapa yang katanya kita meneriakkan protes sosial kelas bawah, kaum pekerja, proletar, dan wong cilik tidak pernah tahu dan kenal dengan mereka? kita tidak ada bedanya dengan anjing-anjing pejabat pemerintah yang muncul di televisi! Kita tak ubahnya sederetan artis papan atas yang hanya menjual keringat, tangisan bahkan darah orang yang teraniaya untuk kepentingan kita, golongan dan segala pembenaran akan diri kita lainnya. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, kita harus menghadapi wajah-wajah dan tatapan yang sinis dari para manusia-manusia yang mengaku meneriakkan nasib mereka. Apa hanya karena pakaian dan model rambut yang berbeda membuat kita berbuat seperti ini…? Apa ini yang namanya Equality atau solidaritas?


“Dunia Bawah Tanah”, diakui atau tidak, ternyata kebanyakan orang masih memandangnya sebagai sekumpulan anak-anak putus harapan dan badut-badut kurang kerjaan, yang berpakaian aneh, butuh perhatian dan kasih sayang, mencoba berteriak dalam kesendiriannya melalui musik-musik yang yang hanya bisa dinikmati oleh golongannya saja dan tidak menimbulkan efek apapun terhadap kesadaran massa secara luas.

Kongkritnya, belumlah dianggap sebagai sesuatu yang menjadi ancaman bagi kelestarian pemerintah ataupun kaum penindas kapitalis itu.

Hmm…semoga saja aku salah memprediksinya. Atau anggap saja tulisan ini adalah orang yang terganggu syaraf otaknya. Aku berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang menggelisahkanku!

Rumah adalah Musuh Utamanya…

+ Jujur Dan Polos +
Sejak awal dia nyerocos, bisa kutangkap, segala hal berbau umum sepertinya mau ia labrak, tendang, dan buang. Tapi cara bicaranya, oh, begitu subtil. Kalem, seenaknya, seperti asal bunyi, kalau menceritakan sikap-sikap hidupnya. Suaranya lumayan bagus, mantap, pelan, jernih, dan terasa runtut. Sistematis! Segalanya jadi tampak teramat jelas oleh ocehannya yang terkesan semaunya. Aku menjadi iri dibuatnya. Sebab hidup di tengah negeri ini, aku tidak pernah mengalami kejernihan akal dan perasaan seperti yang ia tunjukkan. Maksudku, begitu jujur dan polos, terkesan lucu dan seperti bermain-main, sebab segala sesuatunya tampak tidak masuk akal, tapi caranya bertutur sedemikian bersungguh-sungguh. Akibatnya, kita dibuatnya jadi simpang siur. Tanpa bisa berkutik.

+ Manusia Liar +
Dia termasuk kelompok yang menyebut diri manusia liar. Tempat mukim tetap, musuh utamanya. Dengan yakin sobatku itu menandaskan, rumah selalu tidak pernah sehat bagi manusia. Rumah selalu memperbudak manusia. Orang bijaksana tidak pernah terikat dengan rumah. Rumah memaksa manusia cari uang, untuk membayar sewa, kontrak, atau cicilan hipotik. Bagi sobatku, hakikat rumah adalah beban.

+ Rumah Bikin Stress +
Rumah membuat syaraf tegang, umpamanya saat mengurus surat-surat dan tetek bengeknya. Rumah itu manja, butuh perawatan, seperti nenek nyinyir. Orang menjadi mudah tersinggung sebab rumah bikin lingkungan bertetangga. Dengan rumah, manusia menciptakan nerakanya sendiri, untuk diganggu atau mengganggu. Dengung TV, radio, salak anjing, harus saling mengucapkan salam, dan seabrek kebiasaan dan kegiatan yang umpamanya tidak adapun, tidak apa-apa. Kegiatan artifisial, kebiasaan semu dan sejenisnya, yang pada ujungnya membuat tegang. Jadi, hakikat rumah adalah alat bikin stress. Ironisnya, yang membuat itu sang korban sendiri.

Aku makin terkesima mendengarkan ocehannya. Dan dia makin bersemangat berbicara. Rumah, katanya, memaksa orang memperlengkapi diri dengan berbagai perabot dan meubel, yang kata diktat kebudayaan bisa menaikkan status. Lantaran rumah, manusia harus hidup berkelompok. Rumah mendatangkan kewajiban-kewajiban. Kita tak bisa meninggalkannya begitu saja. Rumah menciptakan deret panjang urusan artifisial yang tidak ada habisnya: ihwal sampah, bergosip dan…pulang!

+ Pengembaraan +
Padahal, hidup sejati terletak dalam pengembaraan. Manusia harus berkeliaran tanpa tujuan, kalau betul-betul mau mencari kebebasan dan kebahagiaan. Tanpa rumah, tidak ada istilah pulang atau pergi. Kita bisa terus pergi. Bukankah hakikat hidup adalah ziarah? Tidak satupun yang tetap. Jangan pernah terikat dengan suatu pekerjaan atau kegiatan tertentu, kalau kita tidak ingin menjadi budak. Jadi tukang sapu jalan atau menteri sama saja hakikatnya, ialah memperbudak diri, ialah jadi budak sistem kehidupan yang sudah diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga ujungnya, orang harus bekerja. Pekerjaan jadi kewajiban, yang dianggap bisa mengembangkan diri. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Pekerjaan membuat manusia mengerdilkan diri. Sebab hakikat bekerja adalah cari duit, cari muka, cari pengaruh, cari status, dan buntutnya: cari kesulitan.

Maka orang harus kembali ke jati dirinya yang asli, ialah kembali ke zaman sekuno mungkin. Ke nenek moyang. Dan itu adalah pengembaraan, kesementaraan, yang membuat orang kerasan dan bergairah. Dalam mengembara, orang hanya menjumpai kewajiban yang tidak mengikat, terhadap orang lain, tempat atau barang. Orang menjadi lega dan bebas. Nah, begitulah sikap hidup sobatku, sang manusia anti rumah dan anti kemapanan.

+ Benalu +
Terhadap orang-orang sejenis sobatku, mereka dilukiskan sebagai manusia tanpa atap, manusia luntang-lantung. Masyarakat “mapan” acapkali men-stempel mereka sebagai benalu. Mereka ini ditatap dengan penuh curiga dan benci. Ya, bisa dimaklumi.

+ Melawan Pemilikan +
Tapi bagiku, memaklumi mereka, setidaknya lebih asyik. Bagaimana tidak asyik, sebab ia bilang, bahkan dengan berapi-api, uang bukan dewa yang bisa menyelesaikan segala persoalan. Uang tidak mampu menyelesaikan masalah kebebasan dan kebahagiaan, sebab uang berarti pemilikan. Padahal, kebebasan dan kebahagiaan menuntut bebas dari pemilikan. Akan lebih bagus, melawan pemilikan!

+ Menjadi Budak +
Memiliki harta benda dan status serta pengaruh membuat manusia menjadi budak. Sebab, cepat atau lambat, pada gilirannya tiga hal itu yang justru akan memiliki manusia. Segenap tindakan manusia akhirnya harus diarahkan demi pemenuhan tiga hal tersebut.

Misalnya, pemilikan rumah. Rumah dianggap sebagai tempat berlabuh terakhir tempat manusia menemukan diri. Maka rumah senantiasa dirawat, dikembangkan, diperbesar, diperbaiki, direnovasi, dipermewah, dan entah diapakan lagi, tidak ada habisnya. Masih belum puas, beli rumah baru. Begitu terus menerus. Dan, inilah asal-usul sifat tamak dan iri, sumber segala stress. Sebab tamak dan iri selalu menciptakan pertikaian, persaingan, kasak-kusuk, kebencian, dan ketidakbahagiaan.


+ Hidup Paling Sehat +
Maka, sobatku itu menatap mataku dalam-dalam, jangan pernah sekali-kali punya rumah! Berbahaya. Kita sudah melihat boroknya. Kebahagiaan sejati hanya bisa didapatkan dalam pengembaraan. Hidup liar dan menggelandang adalah cara hidup paling sehat bagi peradaban. Jadi…? Tiba-tiba dia berhenti dan bertanya apakah aku beragama, aku diam saja tidak peduli, dia juga tidak peduli akan ketidakpedulianku, sebab terus bicara makin bersemangat. Ia bilang, jangan sekali-kali menyebut hal-hal rohani kalau tidak bisa memahami bahwa ziarah yang paling rohaniah itu hanya bisa ditemukan wujudnya yang konkret dalam hidup liar dan menggelandang.

Gwe Di Mata Sebahagian Orang…!?

Sebahagian orang nganggap gwe munafik. Sebahagian lagi nganggap gwe pembual. Sebahagian lagi nganggap gwe sok cool. Sebahagian lagi nganggap gwe sakit jiwa. Sebahagian lagi nganggap gwe gak benar!

Padahal gwe gak pernah ngerasa munafik. Gwe gak pernah ngerasa membual. Gwe gak pernah ngerasa sok cool. Gwe gak pernah ngerasa sakit jiwa. Gwe gak pernah ngerasa gak benar.

Dan apa yang gwe rasa toh gak membuat mereka berhenti berpikir kalau gwe munafik. Berhenti berpikir kalau gwe pembual. Berhenti berpikir kalau gwe sok cool. Berhenti berpikir kalau gwe sakit jiwa. Berhenti berpikir kalau gwe gak benar.

Sementara gwe sudah berusaha mati-matian ngejelasin kalau gwe gak munafik. Kalau gwe gak membual. Kalau gwe gak sok cool. Kalau gwe gak sakit jiwa. Kalau gwe bukan gak benar.

Tapi penjelasan gwe malah membuat mereka yakin kalau gwe munafik. Yakin kalau gwe pembual. Yakin kalau gwe sok cool. Yakin kalau gwe sakit jiwa. Yakin kalau gwe gak benar.

Ya, inilah gwe, yang gak munafik. Yang gak membual. Yang gak sok cool. Yang gak sakit jiwa. Yang bukan gak benar.

Walau sebagian orang tetap nganggap gwe munafik. Nganggap gwe pembual. Nganggap gwe sok cool. Nganggap gwe sakit jiwa. Nganggap gwe gak benar.

gwe bilang ke banyak orang kalau gwe gak punya pacar. Gwe gak punya kemampuan untuk mencintai & menyayangi seseorang. Tapi bukan berarti gwe gak punya teman. Gwe punya banyak teman. Mereka semua teman-teman yang baik. Mereka semua teman-teman yang bisa diandalkan dalam segala hal dan gwepun cukup bisa diandalkan sebagai teman. Yang setia memberikan perhatian dan waktunya kapanpun gwe membutuhkannya, walaupun mungkin mereka gak selalu ingin bilang iya, walaupun mungkin mereka sedang kelelahan, sama seperti apa yang sering gwe rasain.

Namun dari sanalah segalanya berpangkal. Semua yang gwe lakuin itu dianggap salah. Sebahagian orang nganggap gwe munafik karena gwe gak pernah mengakui kalau gwe memiliki pacar. Sebahagian lagi nganggap gwe pembual setiap kali gwe bilang kalau hubungan gwe hanya sebatas teman. Sebahagian lagi nganggap gwe sok cool karena mereka pikir gwe gak mau mengakui kalau sebenarnya gwe mencintai seseorang. Sebahagian lagi nganggap gwe sakit jiwa karena gwe berteman dengan begitu banyak anak-anak underground. Sebahagian lagi nganggap gwe gak benar karena gwe gak pernah sholat dan berteman dengan para pemabuk. Perbuatan yang gwe jalani dengan penuh kewajaran itu tiba-tiba berubah menjadi perdebatan.


Anjing…Semua orang ngerasa lebih tahu dibanding diri gwe sendiri, hebat loe yeh nyedz…!

Vivisector Die Fast

Murder in the name of science way. But the sciencentist has never feel the pain. The pain that vivisected victmis recieved and then they die slowly. Vivisector die fast! Support non animal alternative! cause animal hurts too just like us. Feel sad, scared, hurt...just like us! ‘cause there’s no human right without animal right. Torturing animal is not fun…!


Praktek Vivisection sudah ada di seluruh dunia sejak puluhan tahun yang lalu. Ok, sebelum melangkah lebih jauh, coba pahami apa itu vivisection terlebih dahulu. Menurut Kamus Oxford, Vivisection berarti: Pemotongan/perilaku menyakitkan terhadap hewan hidup untuk tujuan penelitian ilmiah. Poin pertama di sini adalah pemotongan. Tidak ada satu makhlukpun yang senang dipaksa untuk dipotong. Entah itu seekor ayam, sapi atau bahkan tikus laboratorium sekalipun. Poin kedua adalah menyakitkan. Siapa yang senang disakiti? Dalam hal ini disakiti sampai mati. Aku tidak akan menghubungkan hal ini dengan rasa sakit yang dikejar oleh banyak kaum sado-masochist, karena memang berbeda! Sakit yang didambakan dengan sakit yang tidak didambakan itu berbeda! Ini adalah mengenai pemaksaan. Hewan-hewan dipaksa memenuhi kehendak manusia dengan cara ini. Ketiga, adalah terhadap hewan hidup. Itu berarti bahwa hewan-hewan ini mati di atas meja operasi. Para ilmuwan bukan memakai bangkai hewan yang sebelumnya sudah mati secara alami, tapi malah membunuhnya dengan cara yang tidak biasa. Terakhir, untuk tujuan penelitian ilmiah. Yup. Aku percaya para ilmuwan adalah kaum berintelegensi tinggi…para cendekiawan. Dan ironisnya mereka masih berlaku seperti kaum barbar…haus darah, berintelegensi tuh namanya…!?

Jadi semua ini atas nama ilmu pengetahuan? Ok, aku mengerti! Tidak ada bedanya dengan menggorok orang atas nama Tuhan ya…? Oh ya, waktu kita di SMA dulu juga, sebelum mulai membedah katak ‘kan harus do’a dulu ya? Jadi tidak ada masalah donk, pasti diampuni ini! Vivisection untuk mencari obat bagi penyakit manusia? Tahu tidak kalian, kalau setiap pemakaian bahan kimia terhadap makhluk hidup tidak akan mendapatkan reaksi yang sama. Contohnya, Moonshiners mengakibatkan ribuan orang buta, karena metyl alkohol yang terkandung di dalam minuman keras mereka. Tapi metyl alkohol yang sama tidak berpengaruh pada mata dari kebanyakan binatang lab. Seratus miligram Scolpamine tidak akan berpengaruh pada kucing dan anjing, tapi lima miligram saja cukup untuk membunuh manusia. Strychine, yang populer diantara para pembunuh dalam cerita detektif sebagai arsenic, tidak mempunyai efek pada kera, bahkan pada dosis yang cukup untuk membunuh sekeluarga manusia sekalipun. Novalgin adalah obat penenang bagi manusia, tapi pada kucing bisa menyebabkan ketegangan dan peludahan, serupa dengan apa yang terjadi pada binatang yang terkena rabies. Dan masih banyak lagi ketidaksamaan reaksi bahan kimia terhadap binatang dan manusia. Hasilnya tidak akan akurat, tolol…!

Hewan memiliki perasaan, aku percaya itu. Hewan bisa merasakan sakit, sedih, takut…Aku juga percaya itu. Sementara manusia (yang merasa memiliki akal budi tentunya) dengan semena-mena memakai mereka (para binatang) sebagai salah satu bagian peralatan biologis, peralatan untuk kebutuhan penelitian. Hey, apa mereka pikir makhluk-makhluk ini akan senang pada saat mereka ditanami elektroda di dalam otaknya ? Apa kalian pikir seekor katak yang kalian bedah akan senang kalian utak-atik isi perutnya? Apa kalian pikir mereka senang ? Ach, Kalau saja mereka diberi pilihan oleh manusia, yang konon adalah makhluk penguasa planet bumi ini. Bantu mereka! Banyak baca, banyak tau…Binatang juga berhak menikmati hidup mereka…Jangan egois, Njink…!

Televisi Oh Televisi…


You watched television everyday and think all that shit will filled your boring life. You let your brain filled by all the useless issues from the things you watched. For me, that things will always waste my time! Wake up from your dream and forget that machine. Television only shows all the beauty in diz world, covering all the rotten reality. FAKE! Hypnotize! Sex, violence, consume, buy this, buy that, blah blah blah. Wake up! You still live in the real world, not on television. Forget the beauty that we watch on TV.

Apa yang kita lihat di TV tuh indah ya, dari aneka cerita cinta sampai ke lawakan (yang sebenarnya semuanya sama saja intinya). Aku akui, aku masih menikmati film-film layar lebar, bukan TV. Aku menikmati program discovery channel, tapi bukan iklan! Apa yang membuat otak kalian rusak? masih belum tahu juga? apa yang kalian lihat di TV mempengaruhi hidup kalian. Benar tidak? Kalian jadikan TV sebagai kehidupan kalian? Kalian jadikan patokan kehidupan!

Hey…hey…Kalian nonton TV berapa jam sehari? Berapa jam seminggu? Coba untuk berhenti melakukan aktifitas ini dan keluar dari kamar kalian…Liat nih dunia asli…Lihat kehidupan nyata kalian…Kalian bisa melakukan apa saja yang kalian mau, bukan hanya ‘melihat’ kehidupan orang lain dan menjadi pasif. Coba kalian bandingkan…lebih asyik mana…hidup menjadi seorang pemain yang aktif atau menyaksikan seorang pemain kehidupan? jangan sia-siakan hidup kalian dengan cara menjadi penonton…jadilah pemain!

Kedua, iklan, setiap hari kalian disuntikkan iklan…Otak kalian dipenuhi dengan produk-produk mutakhir. Dipenuhi dengan jingle-jingle yang membantu kalian semakin menyerap semua semangat konsumsi kalian. Beli! Beli! Beli! Asyik ‘kan? Apa kalian perlu produk itu? Ach…Kalian ‘kan mempunyai banyak uang…tinggal beli…kalau ternyata tidak berguna ya tinggal simpan saja…siapa tahu suatu hari berguna. Iya ‘kan…? Atau kalian juga sudah merasa muak dengan semua yang TV kasih? Jangan buang TV kalian…Jual saja…dan pergilah jalan-jalan, cari dunia yang sesungguhnya, nikmati semua yang kalian temukan di sana, tolol…!

Beri Pilihan…!


Pembantaian besar-besaran oleh nazi. Apa bedanya dengan ulah kita? Pembantaian terhadap hewan oleh manusia. Tidak ada bedanya ‘kan? Spesiesisme bukanlah hal sepele. Beri Pilihan! Beri kehidupan! Kamp konsentrasi Treblinka mirip dengan kandang ayam. Disiksa terus dibantai…!

Spesiesisme. Mungkin ini adalah istilah baru bagi kalian? Isme apalagi ini? Sebenarnya Spesiesisme bukanlah ideologi, tapi lebih tepatnya adalah sebuah perilaku. Mirip dengan rasisme, spesiesisme adalah diskriminasi berdasarkan perbedaan jenis spesies, sementara rasisme, tentu saja kalian tahu, yaitu diskriminasi berdasarkan perbedaan jenis ras. Tentu saja spesiesisme adalah hal yang wajar bagi banyak orang.

“Ach, namanya juga binatang, ‘kan kodratnya memang ada di bawah kaki kita (manusia)”, kata kalian. Ya, tentu saja semua orang akan berpikir begitu setelah manusia menentukan itu. Semua mengakui bahwa manusia punya banyak ‘keistimewaan’ dibandingkan dengan spesies lain, tapi itu bukan berarti makhluk lain tidak memiliki intelegensi. Banyak orang menggunakan pembenaran dari agamanya dengan bilang, “kata kitab suci juga, manusia itu menguasai bumi dan segala isinya”. Nah memang manusia punya kuasa kok, makanya manusia bisa saling bunuh untuk berebut tanah kaya minyak dan sumber daya alam lainnya.

Ketika kita tahu bahwa binatang (manusia dan hewan) punya kehidupan, sistem syaraf (yang serupa dengan sistem syaraf manusia), perasaan, intelegensi dan perilaku yang serupa (dimana tanaman tidak mempunyai satupun hal di atas), tentu saja bentuk kehidupan tetaplah kehidupan, apakah itu anak bayi, bokap kalian, kelinci atau seekor kuda sekalipun. “Life is a life, whether in a cat, or dog or man.”

Menurut pelajaran biologi di SMA dulu, tanaman adalah makhluk hidup karena punya sistem respirasi, eksresi, pertumbuhan dll. Tapi pertanyaannya adalah, BISAKAH TANAMAN MERASAKAN SAKIT DAN PENDERITAAN SEPERTI YANG BISA DIRASAKAN OLEH HEWAN (HUMAN DAN NON-HUMAN)??

Ketika kita menginginkan sebuah perubahan dalam masyarakat, ada baiknya kita merubah diri kita dulu, masihkah kita bertindak diskriminatif terhadap bentuk kehidupan? “When it comes to having a central nervous system, and the ability to feel pain, hunger, and thrist, a rat is a pig is a dog is a boy…!

Tentang Pohon, Kapak, dan Perahu.

Di sebuah taman mudah sekali kita temukan satu atau dua buah pohon, bahkan bisa jadi lebih. Tentu saja kita harus mencari pohon mana yang cocok dijadikan bahan membuat perahu. kita juga harus melewati beberapa proses, mulai dari mengukur diameternya, menganalisa jenis kayunya, membuat blueprint perahu, sampai akhirnya kita mulai menggunakan kapak untuk merealisasikan rencana kita itu. Tapi bagaimana mungkin kita bisa menggunakan kapak kalau kita tidak mempunyai kapak. Solusi normal dalam masyarakat ini adalah dengan membelinya. Alternatif abnormalnya adalah dengan mencurinya atau membuatnya sendiri saja. Kalau kita beli, itu sama saja dengan kita telah berkontribusi kepada sistem yang telah membentuk dunia ini sedemikian rupa, dan itu akan membuktikan lemahnya kekuatan posisi kita dalam lingkaran setan ini. Tapi kalau kita mencuri atau membuatnya sendiri, itu sama saja dengan kita sudah berhasil dalam langkah awal untuk membebaskan diri kita dari rantai ketergantungan terhadap status quo yang membelenggu. Probabilitas menang melawan sistem despotik inipun akan semakin besar karena kita sudah tidak mengadopsi nilai moral musuh-musuh kita dan kita akan berada di dalam wilayah dimana kita tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah mereka perbuat dan selalu diklaim sebagai kebenaran itu.

Setiap INDIVIDU yang memilih untuk berjuang memang harus bisa menentukan posisinya dalam suatu pertempuran dan memilih senjata apa yang tepat untuk digunakan. Setiap manusia yang ada di dunia ini tidak ada satupun yang identik sama, masing-masing eksis dengan pengetahuan dan pengalaman yang berbeda, di tempat dan waktu yang berbeda pula. maka tidaklah heran kalau sesuatu yang namanya perbedaan itu adalah sebentuk kewajaran yang biasa. Setiap sel yang mendedikasikan dirinya untuk berjuang telah mengambil posisi dalam front-front yang dipilihnya sendiri dan masing-masing memegang alat yang diyakininya sebagai senjata yang paling ampuh. Semuanya itu dilakukan sesuai dengan seberapa jauh keterlibatan yang mereka masing-masing inginkan. Semoga…!

Begitulah kira-kira pendapatku sebenarnya tentang kontradiksi dunia formal dan informal ini. Dengan kata lain, Mainstream vs Counter-Culture. Silahkan dicerna sendiri! Tiba-tiba aku jadi ingat perkataan Paulo Freire yang bilang kalau, “mengambil sikap netral dalam pertarungan antara yang kuat melawan yang lemah, adalah sama halnya dengan berpihak kepada yang kuat”. Ach, ya sudahlah, lupakan saja kuotasi bijak buah pemikiran orang lain itu, mari kita definisikan (ulang) perjuangan kita sendiri!

Sekian dulu, but please try first even that so hard…JANGAN HIDUP UNTUK MASA LALU!

Evolve Or Die, Muthafucka…!

“Aku takut. Aku mau hidup…!” rintih perut kepada otak melalui saluran syaraf yang terhubung langsung kepadanya.

Sebuah sikap empati yang sejatipun tanpa diminta seolah memberi komando kepada otak untuk “Berbuat Sesuatu, LAWAN…!” Otak mulai mencari benang merah dibalik segala rangkaian kejadian, peristiwa, mata rantai, sebab dan akibat untuk mencari jalan keluar dari kemelut yang akan melandanya. Gumpalan cerebellum di dalam tempurung kepala inipun mulai teringat salah satu bait dalam kitab suci agama yang sekarang dibencinya, “nasib suatu kaum hanya bisa dirubah atau ditentukan oleh kaum itu sendiri…!”

Lalu, otakpun mulai menganalisa hasil pemikiran orang lain sebelumnya dan mencari relevansinya dengan kondisi obyektif dan kehidupannya sehari-hari. Iapun berkesimpulan bahwa Malcolm X berkata benar dengan slogannya “by any means necessary”, tesis “be realistic demand the impossible” yang dikembangkan oleh kaum Situationist mazhab DeBordian sebelum terjadi pemberontakan mahasiswa di Universitas Sorbounne Paris tahun 1968 tidaklah salah.

Ia juga sampai pada pemahaman bahwa bersikap pasrah kepada jebakan pra-industrialisasi kampus adalah tindakan yang apatis, menghamba-buta kepada idola popular produk simbol pembentukan imej palsu buah karya penetrasi media yang hadir secara repetitif di sekeliling kita - seperti Duta, sang vokalis Sheila On SuckMyAss itu - hanyalah sebuah tindakan imbesil yang akan semakin mengeliminasi tingkat kewaspadaan manusia akan bahaya sebenarnya yang mengancam hidupnya.

Ia tidak akan pernah melupakan perkataan seorang kawan yang menyatakan bahwa perubahan adalah sebuah keharusan bagi manusia yang dialektis dan dunia yang penuh dengan kontradiksi saintis ini. Perubahan dan perubahan…!

Berubahlah atau mati, evolve or die muthafucka…!

Bangsatz…!


“Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi di era neo-liberalisme ini”, menurut para anggota The Chicago Boys. Yeah rite, hebat sekali teorimu itu!

Aku bayangkan ini sebagai persaingan adu balap lari antara seekor kura-kura dengan seekor Cheetah, atau Mbak Eva seorang penjual kantin di kampus Moestopo melawan restoran multinasional sekelas McDonald’s, atau Andie si penjaga warnet IQBAL Stasion melawan Bill Gates sang evil big brother raja software dari dinasti Microsoft yang masuk deretan teratas orang terkaya di dunia, atau warung kopi Bang Boim tempat biasa aku nongkrong melawan gerai franchise Starbucks, atau minuman tradisional Bajigur (TradeMark) yang sudah semakin tersisihkan arus modernisasi melawan korporat soft drink Coca Cola yang lebih mampu membayar mahal spot iklan di TV daripada upah para pekerja yang sudah mampu membesarkan akumulasi modalnya.

Wah, rasanya tidak ada kesulitan sama sekali ‘kan untuk membayangkan siapa yang akan jadi pemenang, apalagi di iklim kompetitif seperti ini, maka logika formal yang berlaku adalah “the winner takes all…!”. Kalau sudah seperti ini rasanya sikap empatiku terhadap industri akan semakin jauh dari api panggang.

***Sebuah Testimonial:
Maafkan aku wahai para orang-orang kaya yang serakah, aku masih menaruh penghormatan tertinggi pada harga diri umat manusia yang kalian tindas, bukan untuk profit sekian trilyun yang masuk ke kantong kalian, Bangsatz!

I Don’t Need Fuckin’ Authority!


Aku telah menentukan sendiri seberapa jauh keterlibatanku, aku t’lah menjadi satu dalam zarahnya dan aku sudah setengah jalan. Hampir mustahil bagiku untuk berhenti.

“Sekali berarti, sudah itu mati!” bunyi sepenggal puisi karya Chairil Anwar.

Sampai titik ini sudah tidak ada gunanya lagi aku membuat kuotasi, karena di sini aku t’lah menolak untuk sekedar menjadi seorang penonton atau pengikut. Aku telah membuat klaim sepihak mengenai peran yang ‘kan kuambil nantinya.

There’s no authority but yourself!” Crass.

Neo-Liberalisme


Ada sebuah petuah klasik yang bilang “lebih baik mencegah daripada mengobati”. Memang benar apa yang dibilang oleh entah-siapa-itu, masih lebih baik mencegah sesuatu yang tidak diinginkan daripada berusaha membuatnya seperti sediakala dikala semua telah terlanjur terjadi. Lebih baik merebut pisau dari tangan penjahat daripada berusaha menyembuhkan luka sang korban yang disayatnya. Dengan kata lain, mengobati sumber masalah adalah antisipasi yang terbaik.

Tersebutlah pada suatu masa, ada sekelompok manusia serakah yang bertekad untuk mewujudkan rencana jahat yang disebutnya sebagai tatanan dunia baru atau new world order. Mereka bertekad untuk menaklukkan dunia di bawah sebuah sistem perekonomian global yang menghamba kepada pembengkakkan nominal keuntungan dan penggelembungan modal. Dalam budaya dunia yang menghamba kepada akumulasi kapital ini, cara bertahan hidup yang terbaik adalah dengan menaklukkan dunia, sementara saling berbagi hanya akan dianggap sebagai sebuah legenda usang dari peradaban yang sudah mati.

Demi terwujudnya konspirasi kejam itu mereka merancang beberapa resep ampuh yang diyakini sebagai solusi yang paling tepat bagi dunia, menurut perspektif mereka tentu saja yang dimaksud adalah dunia perekonomian negara-negara kaya. Resep-resep yang dibuat sesuai dengan iklim kompetitif antar korporasi itu menganjurkan agar segala kegiatan ekonomi, apalagi yang bergerak secara internasional, dibebaskan dari segala aturan yang dianggap menggangu perputaran uang, seperti: pajak, regulasi ekonomi, bea cukai, monopoli, upah minimum regional para pekerja yang tinggi, inefisiensi, campur tangan negara, dan bahkan sampai penghapusan subsidi sektor publik.

Dan inilah yang sekarang sedang melanda Indonesia. Sebagai konsekwensi logis dalam perjanjian untuk turut terlibat dalam era perekonomian global yang ditandatangani oleh diktator penguasa negeri ini dimana ia terlalu besar kepala dengan keberhasilan program konglomerasinya pada masa itu, saat ini pemerintah mau tidak mau harus menjalankan program pemangkasan secara bertahap subsidi barang-barang kebutuhan massa yang dianggap tidak menghasilkan keuntungan apa-apa dan hanya mengganggu aktifitas investasi asing yang kelak akan semakin bebas ditanamkan di negeri ini. Semua ini dilakukan demi penjajahan gaya baru, penindasan modern, kemenangan mutlak kekuatan status quo, demi sebuah neraka yang bernama Neo-Liberalisme, mimpi buruk tanpa akhir. Saat ini kita masih terbangun dan sekarang bukan saatnya untuk berdoa atau minum kopi, tolol!

Menolak kenaikan harga kebutuhan pokok di saat masih ada ancaman yang masih membayangi adalah sebuah tindakan yang keliru bagiku. Kenapa kita harus mengorbankan waktu dan energi yang berharga demi sebuah kemenangan yang senantiasa dibayangi kekalahan itu? Kenapa kita harus keras kepala berusaha menyelesaikan sebuah masalah tanpa mencari tahu dulu apa yang menyebabkan sesuatu itu menjadi masalah? Pemotongan subsidi (yang pada akhirnya akan dihapuskan), kenaikan harga dan tetek bengek lainnya itu hanyalah salah satu agenda krusial dalam neo-liberalisme. Neo-Liberalisme…inilah sang epidemi maha agung yang menjadi sebab-musabab dalam masalah ini. inilah sebenarnya langkah awal yang harus segera dientaskan kalau memang masih mau membebaskan manusia dari marabahaya ekonomis.

Hadapilah! Inilah caraku, ini adalah perjuanganku. Di sinilah sebenarnya posisiku. Aku tidak ingin menyembuhkan luka di saat pisau-pisau tajam itu masih terus berusaha membuat luka tikaman yang lain. Aku ingin merebut pisau itu darinya, aku ingin menggunakan pisau itu untuk melukainya, bahkan membunuhnya. Aku ingin mencari kepastian bahwa ia tidak akan pernah bisa membuat luka lagi. Aku ingin memastikan pisau itu tidak jatuh ke tangan yang salah dan kemudian menghancurkannya agar ia tidak bisa digunakan oleh tangan-tangan yang berdusta, tangan bermuka dua yang nampak manis di depan namun memegang belati dan siap menikam dari belakang. Aku tak ingin ada lagi yang bisa menggunakan pisau itu, termasuk diriku sendiri! Aku menggunakan kekuatanku untuk menolak mempergunakan kekuatan dan mematahkan segala macam rantai ketergantungan juga ketakutan. Semoga tidak ada lagi senjata yang disalahgunakan.

May the resistance as global as capital!

Buy Nothing Day


Buy Nothing Day adalah kampanye penolakan terhadap himbauan Presiden Bush dan beberapa pemimpin dunia lainnya untuk menyelamatkan keadaan perekonomian dunia dengan makin sering berbelanja dan membeli berbagai macam barang lainnya. Dan juga sebagai tandingan atas gempuran korporasi yang “menjual tuhan” dengan perang diskon sesatnya dalam menyambut datangnya Lebaran, Natal, dan Tahun Baru…!

Jangan mau menjadi obyek yang pasif, gunakan otak kalian bukan meminjam punya mereka.
Ayo berhenti jadi pembeli yang konsumtif, SATU HARI INI!

Partai…Partai…dan Partai?


Kalau tidak salah aku pernah mendengar sebuah mitos yang bilang kalau “kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat, massa, warga negara, the governed, atau apalah itu namanya”. Nah berhubung semua orang adalah bagian dari rakyat bla bla bla itu, berarti kita tidak butuh perwakilan donk! ‘kan kita pemegang kekuasaan tertinggi? Kita juga bisa memerintah diri kita sendiri atau membuat aturan kita sendiri karena kekuasaan tertinggi ada di tangan kita. Hey, bukankah itu apa yang dimaksud dengan kata “demokrasi”? Atau jangan-jangan pengatasnamaan “rakyat” itu hanya catutannya para jurkam parpol dan para pelaku pasar ide lagi?

Tahu tidak? Kadang aku suka merasa hina dengan diriku sendiri kalau harus diperintah oleh orang lain sementara aku masih punya kehendak bebas (free will) untuk menentukan hidupku sendiri (self-determination), tapi aku akan merasa jauh lebih hina lagi kalau harus MEMILIH siapa manusia hebat yang bisa memerintah diriku itu. Makanya aku pikir dunia politik formal itu hanya sebuah parodi atas hidup manusia yang sejatinya ingin bebas dan merdeka dari semua ancaman termasuk negara dan ritual Pemilu itu hanya sebuah panggung komedi yang mengorbankan harga diri orang banyak.

Tapi tenang, partai masih ada sisi positifnya kok, yaitu bisa membuat orang seperti aku ini ketawa terbahak-bahak sekaligus membenci setengah hidup. Dan tetap tenang, aku juga punya resep bagaimana caranya membuat partai yang “baik dan benar”, yaitu dengan menghilangkan tiga huruf pertama yang ada dalam kata “partai”, maka kita akan dapatkan apa yang selama ini kita sudah punya tapi selalu dibuang begitu saja.

Hitler punya Third Reich, Trotsky punya Fourth Internationale, dan Bush punya New World Order. Sedangkan aku? Aku punya surga utopia sendiri yang aku bangun sekarang, bukan nanti.

Bagaimana dengan kalian semua…!??

Mimpi-Mimpi Yang Absurd?


- Ingin punya warnet dengan komputer super canggih dan didukung dengan akses super cepat dengan kecepatan akses 1000000 kbps (kilo bytes per second) dan harga warnet 1000 rupiah per jam!

- Ingin punya zine yang dicetak di kertas glossy, full color, terbit setiap hari dan setiap terbit selalu memberikan bonus kaos, cd, kaset, poster! dan dijual dengan harga tidak lebih dari seribu rupiah!

- Ingin punya cafe seluas dan sekelas hard rock cafe, terus tiap malam intensif menampilkan band-band underground! tanpa memasang tarif tiket masuk!

- Ingin punya studio band dengan alat-alat yang lengkap dan super canggih dan biaya sewa studio tidak lebih dari 5000 rupiah!

- Ingin punya band yang manisnya kaya The Cure, powerfullnya kaya Minor Threat, rumitnya kaya Radiohead, gayanya kaya Youth Of Today, liriknya kaya MxPx, emosinya kaya Deftones…pokoknya ingin punya band yang paling kerenlah!

- Ingin punya bangunan sebanyak 400 ruangan dan menjadikan bangunan itu mirip sekolahan tanpa ada guru dan murid, jadi semua individunya bisa saling belajar dan mengajar dan bebas untuk belajar apa yang mereka mau! dan semua tanpa dipunggut bayaran sepeserpun, tidak ada upacara, tidak ada menyanyikan lagu wajib atau lagu kebangsaan, tidak ada bendera dan tidak ada lambang burung di tengah-tengah foto 2 orang tolol! bebas memakai baju apa saja, boleh gondrong dan juga tattoan, boleh merokok di kelas!

- Ingin punya stasiun TV yang siaran 24 jamnya menyiarkan musik keren, film counter culture dan film independent, berita tanpa rekayasa, dan acara diskusi terbuka tanpa memikirkan kesopanan dan kode etik penyiaran! dan semua itu bisa ditonton tanpa harus kepotong oleh iklan!

- Ingin punya stasiun radio yang selalu menyiarkan lagu-lagu keren dari segala jenis aliran musik dengan penyiar yang komunikatif tanpa ada yang namanya ketentuan-ketentuan request lagu dan semua orang bebas untuk menjadi penyiar di radio itu, tanpa iklan juga tentunya!

- Ingin punya restoran keluarga yang punya cabang di seluruh negara (1 juta branch terkemuka di seluruh pelosok dunia) buka 24 jam dengan pilihan menu-menu sehat dan semua itu bisa didapatkan tanpa harus membayar! pokoknya makan gratis sepuas-puasnyalah!

- Ingin punya satu wilayah seluas dataran asia tanpa ada yang memerintah dan diperintah, tanpa ada segerombolan orang pakai seragam dan bubuk-bubuk yang bisa meledak, tanpa ada lambang dan bendera atau hari bersejarah, tanpa ada nama wilayah dan batas wilayah…pokoknya semua manusia terlahir setara, kemanusiaan tak kenal bangsa, hidup bersama, bersuka rela, bebas merdeka, bertanggung jawab (kaya bait lagu Burning Inside - Hantam Prasangka Buruk!!)

…eh sudah pagi yakz! cepetan bangun! Hmmm…gwe mimpi apa ya tadi…?

Hidup Mahasiswa!
Sebuah catatan dari aksi Forkot di Komnas Ham

Terkutuklah Profesor Herbert Marcuse karena telah menciptakan mitos “mahasiswa adalah agen perubahan (agents of change)”. Membusuklah ia di tengah kerak neraka jahanam, kalau memang neraka itu ada. Bagaimana mungkin akan lahir sebuah perubahan dari tangan mahasiswa sementara mereka sendiri adalah salah satu unsur pendukung kokohnya kapitalisme. Memangnya apa sih alasan kita kuliah? Supaya dapat legitimasi formal atas keahlian kita yang nantinya akan digunakan untuk bekerja di salah satu korporat mereka bukan? Sekeras apapun kita berusaha, sudah dilemahkan terlebih dulu dengan adanya perangkap hidup yang menjebak diri kita ke dalam sebuah lingkaran setan, perangkap itu bernama UANG.

Cuih! Coba lihat masa lalu orang yang sekarang ini duduk di parlemen dan merasa dirinya adalah wakil kita semua. Aktifis mahasiswa bukan? Sudahlah, aku hanya ingin sedikit menyumpah-serapah di tengah statusku sebagai aktifis kompromis yang secara simultan melakukan aktifitas “menikmati kekalahan”ku. Yeah, hanya Kompromilah satu-satunya “idealisme” di pasar ide yang akan bertahan sampai kapanpun juga.

Ya benar, statusku sendiri juga seorang mahasiswa. Apa itu membuatku kelihatan keren? Wow, terima kasih deh kalau begitu. Kalau aku disuruh menulis ulang Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka aku akan mendefinisikan arti kata mahasiswa dengan kalimat “calon buruh yang beridealisme secara temporer sambil menyandang status elitis yang permanen”.

Cukup adalah cukup, sekarang aku harus menjalani proses pengkaderan di pabrik penyalur tenaga kerja yang bernama “kampus” itu.

Wahai mahasiswa di seluruh kampus…selamat menikmati mitos!

Curhat Itu Politis, Nyedz!


Kenapa beberapa waktu belakangan ini aktifitas curhat (mencurahkan isi hati), bagi beberapa orang, selalu dianggap sebagai momok yang menjijikan, sebagai aktifitas emosional nan apolitis yang tidak perlu dibahas? Terserahlah mereka mau bicara apa, tapi aku percaya kalau “kebenaran tunggal sudah pasti salah” dan, kalau menurut pepatah Cina kuno, “kebenaran mempunyai seribu wajah”. Segala sesuatu yang ada di dunia ini ibarat sebuah koin yang pasti mempunyai dua sisi mata uang yang berbeda, dibalik segala sesuatu yang tampak pasti ada hal-hal lainnya. Dan karena kebenaran yang sifatnya sangat relatif itulah, maka perlulah kita untuk pikirkan kembali mengenai curhat ini tanpa harus tunduk pada apa yang sudah ada? Hey, bukankah itu gunanya kita punya otak? Itu juga kalau kita memang benar-benar punya otak yang berfungsi dengan baik loh! :)

Personal Is Political”. Aku menganggap bahwa kehidupan pribadi setiap manusia adalah sebuah aktifitas politik harian yang unik dan harus dibagi supaya bisa menghasilkan suatu kesatuan bingkai perjuangan yang kuat. Karl Marx boleh saja berkata “sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas” dalam bukunya Communist Manifesto, tapi dia juga tidak boleh melupakan satu hal, kalau manusia yang jadi salah satu faktor penting dalam sejarah dan kelas itu juga tetap merupakan suatu kesatuan utuh yang terkena dampak hegemoni termasuk jiwanya yang turut menderita akibat penindasan sistem yang multi-dimensional.

Apapun yang kita lakukan dalam hidup kita sehari-hari adalah dampak dari kebusukan sistem dunia yang kita tinggali bersama ini, apapun yang kita lakukan memiliki sebab dan dampak yang politis. Pernah tidak kita memikirkan bahwa dalam sebuah curhat mengenai lawan jenis yang memikat hati karena keunggulan nilai estetikanya juga sarat muatan politis? Pernah tidak kita memikirkan siapa yang telah membentuk persepsi kita tentang bagaimana seseorang itu bisa disebut memiliki fisik yang ganteng atau cantik? Pernah tidak kita mengkaji peran media dalam hal ini? Penetrasi media yang mendikte pikiran kita dengan standar tinggi nilai-nilai estetika mereka supaya membuat kita merasa inferior dan mau membeli produk mereka yang terasa sangat menjanjikan itu. Bukankah hal ini juga berarti ada sebab politis yang telah membentuk pikiran kita sehingga itulah yang akan ada ketika mencurahkan isi hati kita kepada seorang kawan tentang bagaimana sangat jatuh hatinya kita pada sosok manusia yang mempunyai nilai estetika yang sama atau setidaknya mendekati dengan standar yang tersirat di dalam media?

Alasan-alasan itu memang personal tapi juga politis. Bahkan ketika kita memutuskan apa kita ingin membeli atau tidak sepatu Nike yang dibuat dengan membayar murah para buruh anak di Tanggerang yang ada di dalam rantai produksinya, ketika kita memutuskan apa kita ingin melanjutkan studi sesuai keinginan orang tua yang mengatasnamakan prospek masa depan yang lebih baik secara materiil atau menurut minat pribadi demi kepuasan batin, ketika kita memutuskan apa kita ingin menggunakan produk-produk kecantikan sesuai “perintah” iklan yang hadir dalam kehidupan kita sehari-hari dengan tingkat frekuensi yang tinggi, dan lain-lain sebagainya; semua itu juga mengandung alasan-alasan yang politis dan tentu saja ada sebabnya dan berakibat politis pula.

Tidak ada kebetulan atau takdir yang telah digariskan di dunia ini, yang ada hanyalah relatifitas sebab-akibat, dan terbukti semua aktifitas emosional kita sehari-hari yang kelihatannya irasional dan tidak perlu dikaji itu ternyata juga mempunyai latar belakang dan dampak yang politis. Segala perasaan, pengalaman, dan kemungkinan dalam kehidupan manusia sehari-hari tidak hanya masalah pilihan pribadi kita tapi juga ditentukan oleh rangkaian dinamika atmosfir sosial dan politik yang ada di sekitar kita.
Kita merasa kehidupan pribadi kita sebagai kondisi subjektif yang personal tapi pola, karakter dan batasan yang terlibat di dalamnya tetap saja merupakan dampak hegemoni sistem yang kian hari semakin membuat kita merasa terasing (alienated) bahkan dengan diri kita sendiri.

Pembahasan masalah yang remeh seperti ini bagi beberapa orang memang sering dianggap sebagai kegiatan yang kontra-revolusioner, tidak mencerdaskan, dan melemahkan semangat manusia sehingga lupa dengan “panggilan sejarah”nya. Hah!, terserahlah mereka mau berkata apa, orang lain juga tidak akan ada yang mau peduli kalau mereka lebih memilih untuk menjadi robot rasional tanpa emosi dan hidup di dunia materi yang sepi bagai sebuah kompleks pemakaman. Kalau menurut sohibku, bukankah emosi manusia adalah tentang hidup itu sendiri?

Maaf-maaf saja, tapi menurutku manusia yang pintar dan cerdas bukan hanya mereka yang mempunyai dasar referensi yang kuat tapi juga mereka yang mempunyai kematangan berpikir untuk dirinya sendiri dan kemapanan bersikap dalam kehidupannya sehari-hari. Walaupun kita hidup di dalam sistem yang sama dan mendapat perlakuan yang sama pula, efeknya ke setiap orang sangatlah berbeda karena memang pribadi setiap manusia adalah unik. Karena itu berbagi pengalaman dan perasaan mengenai efek sistem yang berbeda ini rasanya sangat diperlukan untuk mendapatkan referensi dari orang lain mengenai bagaimana mereka bisa survive atau bahkan bagaimana mereka bisa melakukan resistensi dalam hidupnya, sekalipun itu hanya dalam tataran mikro.

Jadi untuk apa kita harus merasa rendah diri pada saat mengungkapkan apa yang benar-benar kita rasakan, pikirkan dan inginkan karena menafikkannya tidak akan membuat perubahan yang berarti dalam diri dan hidup kita. Awal sebuah revolusi datang dari dalam diri kita sendiri, Sayang!

Ingat, Personal is political, politics is personal!

“I could never swallow your false ideals of a lifeless happy ending…”

No Comments


Memang sih pada awalnya keliatannya lucu sekali memakai commenting system, tapi lama-lama setelah kupikir-pikir, kayaknya aku tidak butuh commenting system deh, ngapain juga aku memberikan kesempatan pada orang lain buat mengomentari hidupku…Tidak perlu!!!!!! Tai kalian semua…!!!!

Sesuatu Hal Yang Tidak Perlu Dibesar-besarkan!


Seorang temanku berkata: “…iya ndie, aku mengerti kok, akhir-akhir ini kamu lagi benar-benar merasakan “kesakitan”mu ‘ kan? Kamu lagi merasakan yang namanya punya pasangan ‘kan? Baru merasakan ciuman ‘kan? Merasakan dipeluk dan memeluk ‘kan? Tahu kok aku…!”

Yup…! Cinta, cinta, cinta! Sebal tidak sih setiap kali mendengar kata-kata itu? Buat sebahagian orang mungkin ada yang merasa sebal dan merasa kalau perasaan cinta tuh hal yang biasa banget, anjing!! Tidak sebegitu-greatnyalah, tidak sebegitu luar-biasanyalah pokoknya. Masih banyak hal-hal yang lebih hebat daripada perasaan cinta! Mau tahu contohnya? Ok, nih aku sebutkan: main skate bareng teman-teman tongkrongan lebih mantap, nonton hangover hardcore lebih puuool daripada pacaran, mendeface index website polri lebih cool, download mp3 gratisan dari internet juga lebih menyenangkan daripada pacaran ‘kan? Dan banyak lagi hal-hal keren buat dilakukan daripada harus bilang 3 kata bangsat itu ke pacar kalian ‘kan?

Yeah, tapi ternyata sekarang aku merasakan juga yang namanya pacaran setelah 18 tahun hidup di dunia. Ha ha ha…bisa tersenyum lega saat ini dan juga aku bisa menunjukkan ke teman-temanku yang dulu selalu mengejekku dengan kata-kata menyuruh yang bunyinya “pacaran donk, ndie…!” Ok, perhatian semuanya dan sekarang lihat siapa yang aku “gandeng”…ehm senang juga gitu bisa menunjukkan ke orang-orang sok berpasangan tapi tidak keren itu kalau aku juga mempunyai pasangan buat kujadikan tulang rusuk sementara. Ach tidak usah dibesar-besarkanlah! Apalagi kalau melihat ke belakang sebelum aku mempunyai pasangan dan mengingat bagaimana menyedihkannya diriku saat dibuat hancur oleh seorang cewe yang membuatku benar-benar PATHETIC dan tolol banget…eh ada yang tahu ‘kan nama cewek itu siapa?

Ya sudahlah apa lagi coba sekarang? Tidak ada apa-apa lagi yang mau ditulis, aku juga tidak mau terlalu show off dengan masalah berpasangan ini, cukup aku saja yang merasakan dan pasanganku saja yang tahu perasaanku! Walaupun aku tidak ada niatan untuk mengikuti kisah cinta basi semodel romeo and juliet, samson and delilah atau bonnie and clyde sekalipun, tapi tetap saja kisahku ini bakalan aku jadikan sebagai salah-satu moment terbaik dalam hidupku! Sampai akhirnya aku bisa menerbitkan satu buah buku fotokopian yang aku berikan ke pasanganku dan itu hanya kita berdua yang tahu!! Tuhan perlu tahu gak ya…!!?? He he he…

A Letter From Someone That I Love So…


andie…barusan aja ella terima surat…eh ella baca ada dari andie…makasih yah…bagus yah…andie suka buat puisi juga yah? ella mau bilang apa ama andie ella ngga tau…cuma bisa bilang makasih…tapi kata2 yg satu lagi buat ella jadi sedih…tiga tahun yang lalu ella dah buat andie jadi begitu…semua ini bukan maunya kita…mungkin ini sudah Tuhan yg beri jalan buat kita…mungkin itu yg terbaek buat ella…mudahan aja ndie…bisa ngerti…ini semua jalannya Tuhan kan??...


andie…makasih yah tiga tahun yang lalu dah pernah warnai kehidupan ella…smoga andie dapet yg lebih dari ella…jangan pernah berhenti buat berteman dengan ella yah…
kirim surat ke ella kalau pengen cerita2 yah…sudah dulu yah…ella lagi buat lamaran kerja neh andie…jadi pramugari doain ella bisa ketrima yah…karena testnya susah bgt…dah…andie…

Lovey Grandma

life is so hard to understand if you can’t through
well, sometimes I need more nite to think of all
and I’d be lost so many people that I love
but grandma, she’s gone…
and will never come back to me…!
cried…cemetery gates with much tears
which is hurt, and crumble feels that ready hit to the ground
and I want, something what I have to do
more that cry, wish she’ll being happy there
no more laughs, and kiss goodnite
that always we’ve been do it everynite
no more jokes, no more games
with you and my times
grandma…I miss you so!
in my heart, I’ll never loose you and forget your smile
grandma…I love you everytime!
you can see in heaven, I wrote diz for ya!

what can I say when I remember you once again…!? :(

Scary Nite

when all those stars blinking their eyes to me
and made me shiver because I really do not know
what made them smiling at me like that.
that way as if they caught a couple behind bushes
making their way to each other so that no one
will separate them apart.

I am scared, I am not happy.

I do know that I am alone and I like that,
I do know that I am alone and I need that,
I do know that I am alone and I want that,

but why those stars staring at me like that?

no, I am not in love.
I do not want to be in love,
since I am not even alive.

I am just scared, that’s all…

Nyanyian Kota Besar
-- Situasionisme bagi pemula --

Kulangkahkan kaki dari stasion kereta, lalu belok ke arah…kanan! Jangan dipikirkan. Jangan dipikirkan. Belok saja. Seperti orang-orang gila ataupun yang sekedar dianggap gila. Orang gila lainnya, Greil Marcus, pernah menulis tentang sesuatu, tentang para Situasionis, para pemberontak gila yang tidak punya alasan jelas, seperti judul film yang dilakoni oleh James Dean, “Rebel Without A Cause”…orang-orang yang –aku tidak tahu pasti- menolehkan kepalanya ke berbagai tempat, beberapa kali sehari, ke arah sesuatu yang menghasilkan cahaya, mungkin, atau beberapa hal yang dapat dimakan, atau sekedar berpikir mengenai keringat, jantung yang berdebar-debar, atau mungkin apapun juga. Apapun, kata mereka sendiri juga begitu. Hey, dunia ini tidak terlalu buruk. Sungguh. Dunia ini tidak sekeras dugaan banyak orang. Pikir saja sendiri tentang bagaimana cara untuk membuatnya terus berputar, seperti sebuah gasing di tangan anak kecil yang bermain dengan riang. Berputar dan terus berputar. Segalanya dapat berubah dalam putaran tersebut. Akupun dapat berbuat demikian, mengubah pakaianku, mengubah namaku, mengubah pikiranku…yup, mengubah pikiranku.

Atau sekedar mengubah kata-kata yang ada.

Di sudut jalan, seorang pengamen mendendangkan lagunya dengan sebuah gitar akustik. Aku kenal lagu itu. “Let It Be”, diiringi ketukan kakinya, denting gitarnya, yang ada di kepalaku adalah Lennon dan McCartney. Lagu yang sudah mendunia, yang berasal dari negara mana ya? Ach, entahlah, lagi pula itu tidak penting, saat bernyanyi kita semua berbicara dalam bahasa yang sama. Aku sodorkan selembar uang seribu rupiah. Ambil saja, kau sudah berhasil membuatku ikut bersenandung, kau sudah membuatku berpikir lain mengenai saat-saat sederhana yang monumental. Sayang, kau berusaha untuk menjadi sangat mirip dengan para rockstar itu, kenapa kau tidak membuat versi kau sendiri?

Senyum pengamen yang kusut ini ramah juga.

Apa? Ramah? Hey, jangan berpikir. Jangan berpikir. Lihat saja, ia melangkah pergi dan lenyap dari pandanganku. Yup. Apapun yang terjadi, antara aku dan dirinya, ia adalah seorang pemuda yang berbahagia walaupun berada di jalanan seperti itu, dan diriku? Anak muda yang sedang berjalan tidak tentu arah seakan sedang tersesat.

Tersesat?

“Tersesat di kota tempat tinggalnya sendiri?”

“Yup. Aku tidak pernah memahami tempat tinggalku sendiri. Kau pernah?”

Perempuan muda itu bertanya heran. Dan kami melanjutkan obrolan ringan kami sambil duduk di sebuah pemberhentian bis kota, sekitar dua puluh menit dari stasiun. Seorang bapak tua duduk tepat di seberang jalan dari tempat kami duduk, berkumis kotor, menatap kami, menebak-nebak apa sih yang lagi kami bicarakan, turis domestik yang brengsek, sebrengsek turis mancanegara, pikirnya…

“Bukan, aku baru datang dari Jakarta.”

“Oh, dari Jakarta. Kau tahu? Aku tidak betah tinggal di Jakarta.”

Tidak berapa lama, malampun turun menyelimuti kota dengan kegelapannya yang merayap perlahan. Aku melanjutkan perjalananku. Salah satu dari para Situasionis itu, jauh-jauh hari sebelum konsepnya diterapkan dengan musik rock n roll, pernah mencoba sebuah eksperimen kecil. Yang ia lakukan adalah berkenalan dengan seorang mahasiswa di Paris dan memintanya untuk membuat sebuah peta kota dari perjalanan yang ia lakukan setiap harinya. Rencananya adalah bahwa di akhir tahun ia akan mendapat sebuah desain, sebuah cetak biru dari psikologi manusia (aku sudah bilang tadi, bahwa mereka adalah orang-orang gila). Tapi apa yang ia dapatkan adalah sebuah letupan tidak berarti, kurva-kurva, lingkaran, dan sudut-sudut yang acak, tidak beraturan. Sekarang dimana diriku? Di sini mestinya ada jalan lurus, jalan raya biasa, yang di pinggirnya banyak pedagang kaki limanya, tapi aku mungkin salah, mungkin itu hanya ada dalam memoriku saja. Seharusnya aku menuliskan hal-hal tersebut begitu aku melihatnya. Ach, tidak usah. Itu tindakan bodoh. Aku menjadi ingat sebuah kisah, (kalau tidak salah Italo Calvino) tentang seorang raja yang menginginkan agar sebuah peta digambarkan untuk memperlihatkan betapa luas kerajaannya, dan ia menginginkan agar peta tersebut dibuat tepat seukuran dengan aslinya, seukuran kerajaannya, dan entah apa gunanya lagi peta seperti itu…

Sekarang, aku ada di tengah taman, taman yang dahulu menjadi pusat keramaian kota Bandung, makanya disebut alun-alun juga. Bandung ada di tengah provinsi Jawa Barat. Itu dia, di tengah-tengah atlas yang kau pegang…dan itu, diriku ada di tengah-tengah taman alun-alun Bandung. Hey, sedang apa aku di sini?

Di sudut taman ada seorang pemabuk tergeletak di sebelah botol vodka dan ia tampaknya ingin supaya aku begabung untuk menemaninya minum. Ach, jangan sekarang. Aku ‘kan lagi jalan-jalan, nanti kalau aku mabuk susah jalan donk ! he he he :P

Sebuah tempat duduk kosong! Aha! Taman alun-alun Bandung ini masih ramai kok malam gini juga. Dalam bayang-bayang pohon yang ditimpa cahaya terang lampu-lampu gedung yang mengelilinginya, tiga orang anak muda duduk. Ada dua buah sepeda di samping mereka.

“Aku mau pulang sekarang ach.”

“Pulang kemana sih? ‘Kan belum malam.”

Senyumnya manis. Seharusnya aku tanya padanya, apakah ia membawa bekal minum. Tapi sebelum aku beranjak ke tempatnya duduk bersama teman-temannya (terlalu lambat, selalu lambat), ia berdiri, melambaikan tangan dan mulai mengayuh sepedanya, melewatiku, melemparkan sesungging senyum dan menyeberang cepat memasuki jalan di selatan taman ini yang tidak pernah kuingat namanya, menghilang di kelokan pertama di bawah langit yang mulai mendung. Eh, mengapa juga kuperhatikan? Jangan berpikir.

Dari dalam tas, kukeluarkan botol plastik Aqua yang kucampur dengan Extra Joss. Tentu saja, tidak ada orang di sini yang peduli tentang bagaimana dahulu seorang Situasionis begitu tertarik untuk memetakan kembali kota tempat dimana mereka tinggal, menuliskan semuanya sambil duduk di bawah sebuah pohon yang rindang kota. Aku harus pulang, banyak pakaian yang harus kucuci. Nanti keburu susah naik AngKot. Keburu penuh dengan orang-orang yang pulang dari kerja. Pulang dari aktivitasnya mengerjakan hal-hal bodoh yang harus dilakukan berulang-ulang setiap harinya. Para Situasionis itu memiliki ide brilian. “Never Work”. Melakukan aktivitas secara acak. Tidak ada penunjuk arah, tidak ada kamus, tidak ada aturan logis…berbelok di sebuah tikungan, dan lihat ada apa di baliknya…Tidak perlu ada peta, nama jalan, jalur Angkutan Kota…Tinggalkan semua, dan percayakan pada dunia, kesempatan hidup selalu akan muncul dengan sendirinya, sesuatu yang tidak akan dapat didefinisikan.

“Hai…”

Siapa sih? Aku menoleh. Kalian tidak akan percaya kecuali ada di sini bersamaku. Tapi di sinilah ia, dengan senyumannya yang ramah, diterpa hembusan angin yang mengibarkan rambutnya, dan ia berdiri di sebelahku. Sepeda yang ia kendarai tadi masih dipegang erat di sebelahnya. Aku pikir aku akan duduk lebih lama lagi di sini.

Tidak usah terburu-buru pulang.

“Get high my friend, with everything that pleased you, with wine, life or both…”

Oi! To The World…

Don’t go changing, to try and please me
You never let me down before
Don’t imagine you’re too familiar
And I don’t see you anymore

I wouldn’t leave you in times of trouble
We never could have come this far
I took the good times, I’ll take the bad times
I’ll take you just the way you are

Don’t go trying some new fashion
Don’t change the color of your hair
You always have my unspoken passion
Although I might not seem to care

I don’t want clever conversation
I never want to work so hard
I just want someone that I can talk to
I want you just the way you are…

I need to know that you will always be
The same old someone that I knew
What will it take ‘till you believe in me
The way that I believe in you…

I said I love you, and that’s will always be
And this I promise from the heart,
I could not love you any better
I love you just the way you are…

To the world, you are no one…
To some one, you are the world…!

Air Mata

hari ini air mataku tak bernama lagi.
tak berwarna lagi.
tak bermakna lagi.
dia hanya sekedar jadi air mata.
bening, tapi cepat kering!

hari ini air mataku tak hangat lagi.
tak deras.
tak sedikit.
seperlunya saja.
bening, tapi sudah disaring!

hari ini air mataku tak bulat lagi.
turunnya tak cepat bergulir dari mata ke pipi,
alurnya tak membekas likat di pipiku.
air mataku sekarang kesepian.

dulu ada hati tempatnya bermuara,

dulu…

Tidak Ada Judul…!

Andai aku kini bisa melihatnya dengan wajah yang biasa dan tanpa ekspresi, kadang dosapun tidak terlihat di wajahnya yang pucat, tapi kini aku tidak di sana. Sendiri meratapi kepergian yang tidak dimengerti orang lain bahkan diriku sendiri. Andai dia tahu bahwa seorang temannya tidak sejahat yang dituliskan dalam sebuah karangan indah, entah apalagi yang harus kuperbuat untuk menghadapi seorang penyair yang hanya berada dalam hutan maya. Apakah ini sebuah peradaban alternatif? Menurutku, iya, tapi bukan untukku tapi entah untuknya, waktunya hanya dihabiskan untuk menikmati sebuah ruang dimana aku jarang mengunjunginya kini. Pikiran dan energinya sering diserahkan untuk menghiasi lembaran-lembaran elektronik agar tampak lebih indah dan terlihat lebih banyak dari hari sebelumnya. Apakah itu sebuah bukti kongkrit untuk mengenangnya di kemudian hari! Tapi entah kenapa? Sisa hidup itu indah kalau dinikmati apalagi dengan sekaleng beer calsberg, ganja dan obrolan masa depan! Dan kuyakini, bahwa semuanya masih berjalan seperti apa adanya dan biasa, tidak ada yang berubah, kecuali satu hal, “mati”. Apakah kalian sudah merasakannya lebih dulu? Kalau iya, maaf mungkin kalian orang yang paling merugi dalam hal ini.

I bored you hate me!

Perselingkuhan Media dan Teroris (dalam perspektif gwe)

Dalam salah satu doktrin teroris disebutkan bahwa metode yang paling efektif dalam menyebarkan teror adalah dengan “membunuh satu orang, membuat sejuta yang lainnya takut”. Membunuh satu orang adalah pekerjaan yang mudah bagi para teroris, tapi bagaimana caranya supaya sejuta orang yang lainnya itu ketakutan. Para teroris biasanya mempertimbangkan dulu dengan matang bagaimana caranya supaya aksi teror yang akan mereka lancarkan itu bisa didesain secara dramatis tapi membuahkan hasil yang hebat. Hasil yang hebat ini diterjemahkan oleh para pelaku teror menjadi semacam konvensi “semakin banyak yang takut, semakin baik.” (*)

Untuk urusan ini biasanya para teroris lepas tangan dan sepenuhnya menyerahkan kerja “ekspansi teror” ini kepada media. Iya benar, siapa lagi yang bakal membawa teror ke masyarakat kalau bukan media. Memberikan informasi, memang itu kerjaannya bukan? Dan tidak ada yang bisa menyalahkan media kalau secara tanpa sadar mereka sudah jadi humas bagi para teroris. Kita tidak sadar, di tengah pengutukan media terhadap aksi terorisme, media ternyata juga bertanggung jawab dalam menentukan berhasil atau tidaknya efek yang diharapkan timbul dalam suatu aksi terorisme. Bisa kita lihat sendiri ‘kan bagaimana jelinya para pelaku aksi pemboman di Bali dalam menentukan apa yang akan dilakukan, dimana bom akan diledakkan, siapa saja yang layak jadi korban, dan kapan waktunya yang tepat untuk memulai aksi teror. Ok, begini loh perinciannya:

- Mereka dengan sangat jeli telah menentukan Bali yang selama ini dikenal adem ayem dan asoy buat holiday sebagai lokasi paling tepat untuk menggoncang stabilitas keamanan dan membunuh karakter negara Indonesia yang katanya 100% terrorist-free menurut Wapres Hamzah fuckin’ Haz. Jadi dengan sekali hentakan dahsyat maka hancurlah keharmonisan hidup berbangsa dan bernegara ditambah dengan memerahnya muka si wakil presiden yang entah itu dia lagi marah atau menahan malu.

- Kesan baik yang selama ini menjadi citra Bali telah mengundang banyak turis asing dari berbagai negara yang bisa dijadikan mangsa empuk bagi para teroris, dengan harapan kematian mereka bisa membawa kabar ini ke negara masing-masing. Hmm…kira-kira miriplah dengan konsep “revolusi permanen”nya si Trotsky. Belum lagi ditambah dengan latar belakang para korban yang mayoritas berasal dari Australia, negara yang selama ini memang dikenal sering bergesekan dengan Indonesia.

- Terus, kenapa waktu yang dipilih malam minggu? Iya karena memang pada malam itu adalah malam agung bagi para hedonis dan yuppies sejati yang ingin melepaskan penat seusai menjalani lingkaran setan kapitalisme yang bernama kerja itu. Dan lagi, pemberitaan keesokan harinya (hari minggu) bakalan lebih banyak di akses orang karena memang pada hari minggu itulah banyak orang bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk nonton TV, baca koran, atau buka-buka situs di internet.

Nah, berdasarkan apa yang sudah kukemukakan tadi itulah kenapa aku pikir media dalam hal ini menempati posisi yang kontradiktif (perlu kutambahkan kata “paradoxal” tidak?). Di satu sisi media memang berfungsi untuk memberikan informasi ke dalam masyarakat, tapi di sisi lain tanpa sadar media sudah menjadi humas tidak resmi gerakan teroris dimana saja. Atau mungkin aku melihatnya dari sudut yang berbeda saja kali ya, sebutlah ini sebagai konspirasi tingkat tinggi, hubungan romantis atau sistim kerja mutual aid yang menguntungkan kedua belah pihak; yaitu teroris dan media. Tidak tahulah!

Ada tanggapan?

(*) Aku jadi ingat salah satu kuotasi dari teori anarkisme yang bilang kalau “situasi anarkis tidak akan mungkin bisa tercipta selama masih ada manusia yang belum bisa terbebas dari rasa takut…”

Terimakasih dariku yang masih dengan anarki dan cinta.

Makan Tuh IDEOLOGI…!

Bagiku, anarkisme adalah semacam teori sosial, ekonomi dan politik, tapi bukan suatu ideologi. Perbedaan dua hal ini sangat penting dan perlu ditekankan agar orang memakai sikap yang sama saat memaknai sebuah kata. Pada dasarnya teori berarti bahwa seseorang memiliki ide-ide tertentu, sedangkan pada ideologi berarti ide-ide tersebut memiliki seseorang itu dan ia dicaplok ide terkait, hingga sukar mengambil jarak dengannya. Jadi, kalau kalian mencari sebuah ideologi baru, anarkisme bukan untuk kalian karena ia sendiri memang bukan sebuah ideologi.

Jangan heran bin bingung kalau jumlah dan jenis kaum anarkis itu sendiri banyak sekali. Pluralitas pandangan (seperti yang sekarang ini aku coba tunjukkan) memang tidak bisa dihindari lagi karena…ya itu tadi, ia bukan ideologi. Kebenaran tunggal sudah pasti salah, menurutku. Lagipula, memang sama sekali tidak ada gunanya berusaha menjadi orang istimewa/hebat lalu menunjukkan kepada orang lain sebuah ideologi yang 100% sempurna dan kalau ingin berhasil orang lain harus mengikutinya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan (kira-kira sama persislah seperti agama). Just who do you think you are? Tuhan? Nabi? Katanya ‘equality’, kok begini sih?! Oh iya aku lupa, namanya juga PUNK! Hebat, bukan?

Harap diingat, perbedaan antara anarkisme dan isme-isme lainnya tidak bisa cukup ditekan! Tidak ada resep yang tepat di dalam prakteknya. Perbedaan jelas antara seorang anarkis dan seorang aktifis adalah seorang anarkis memiliki tujuan akhir untuk mewujudkan masyarakat yang sempurna bukan mengkoreksi sebuah permasalahan saja, lebih baik ia memajukan esensi ide-ide anarkisme itu sendiri daripada sekedar mengkritik otoritas negara yang sah demi terciptanya omong kosong semacam “pemerintahan yang baik dan benar” itu.

Benar dan betul, semua itu hanya retorika kaum anarkis. Mungkin lalu dipermasalahkan ketidakcocokannya di dalam praktek. Hey, itu soal terpisah coy! Bukankah perkara teori yang tidak cocok dengan prakteknya itu bisa dijumpai di semua isme dan pandangan hidup? Bukankah praktek yang akan menemukan teorinya sendiri? Bukankah?

Ya, itu semua berpulang pada diri kita sendiri sebagai manusia biasa. Lagipula aku ‘kan bukan seorang anarkis! Memangnya kalau aku sering membaca buku anarkis, bergabung ke kolektif anarkis, ikut diskusi anarkis, mendirikan front anarkis sendiri, melakukan tindakan-tindakan yang anarkis, membela anarkisme yang disalahpahami…bisa membuat diriku menjadi seorang anarkis?! Ibarat ikan yang seumur hidupnya berenang di lautan yang notabene airnya asin, tapi dagingnya tidak ikut-ikutan asin bukan? Iya tidak?! Doyan ikan tidak kalian?

Pertanyaan hebatnya sekarang adalah: “Apa kalian mau ‘berideologi anarkisme’?”, “Apakah kalian juga mau diperbudak oleh ideologi alias buah pikiran orang lain?” Terus terang saja, kalau aku sih sangat tidak mau. Sikap dan posisiku cukup jelas dan arogan dalam hal ini. Aku sama sekali tidak pernah mau berbicara dengan pikiran orang lain dan dikte Tuhan. Aku ingin memiliki ideku sendiri, bukannya ide orang lain yang memiliki pikiranku! Jadi, bebas donk kalau aku membuat anarkisme dalam perspektif dan interpretasiku sendiri yang sangat sesuai dengan apa yang benar-benar kuinginkan, kupikirkan dan kurasakan. Biarlah aku tolol tapi setidaknya aku menjadi diriku sendiri. Sialan kalian semua, aku bukan ‘penyambung lidah’ para ideolog-ideolog tua berewokan itu, Aku adalah Aku!

Mohon maaf, karena aku tidak sudi hanya sekedar menjadi penonton atau pengkonsumsi pasif, aku ingin melakukan sesuatu yang lebih, sesuatu yang lebih baru, yang sampai sekarang tak kudapatkan.

Teknologi Yang (tidak) Manusiawi

Nothing to do, so flat and sure it’s so empty. Aku hanya duduk di dalam kamar sambil melihat kotak plastik cd software yang tadi siang kubeli di sebuah pusat pertokoan elektronik. Wah, kilaunya itu loh…menangkis cahaya lampu di kamarku, tidak sampai membuat silau sih, tapi asyik saja melihatnya. Tapi walaupun sekarang lagi kesepian, aku tidak sendiri kok di sini, di sebelahku ada seonggok jasad cintaku yang sudah mulai membusuk. Keheningannya menemani kesendirianku. Sekarang, aku coba untuk melipur lara dan mulai berpikir lagi…!

Tapi…ach tidak, godaan emosi terlalu kuat. Emosi yang telah membawaku terperosok ke dalam jurang kelam yang tidak seharusnya kumasuki. Untunglah, tidak semua bagian diriku yang jatuh ke dalamnya, hanya rasa cintaku saja dan kuucapkan “banyak terima kasih” untuk keajaiban yang telah membawanya menggeletak di samping tubuhku yang sekarang sedang mengamati kilau indah pantulan cahaya kotak cd software tadi siang kubeli itu.

“Software”…salah satu benda mati yang dijadikan komoditas berharga oleh manusia, salah satu anak haram dari apa yang sering kita sebut sebagai teknologi. Awalnya sih kelihatan asyik banget, dengan hanya bermodalkan beberapa ribu rupiah untuk membeli versi bajakannya dan setelah diinstall kita akan langsung merasakan betapa semakin mudahnya aktifitas manusia berkat bantuan perangkat lunak canggih itu. Tulisan ini adalah salah satu hasilnya…:)

Tapi itu hanya awal dari sebuah akhir, akhir dari penanda spesial setiap manusia yang pasti berbeda dan tidak mungkin pernah bisa sama…itu menurutku loh. Setelah beberapa kali berinteraksi dengan aksesbilitasnya, softwarepun perlahan mengambil alih kendali atas hidup kita, ia mengkudeta nilai-nilai hidup dengan efek adiktif yang ditimbulkannya, ia menyeragamkan keunikan dan otentisitas medium interaksi manusia ke dalam bentuk-bentuk mapan yang sama dan bersembunyi di balik sejuta label yang menyertainya.

Sebelum aku mengenal komputer dan perangkat pendukungnya, aku biasa menulis di mana saja, sebutlah kertas bekas, sisa amplop, tembok, dll. Tapi sekarang…aku akan mengalami disorientasi ide dan mampetnya inspirasi kalau tidak tidak berada di depan layar komputer seperti sekarang ini. Aku bisa saja harus buru-buru sampai ke rumah ketika ada ide asyik yang kira-kira bakalan bagus kalau dituangkan ke dalam bentuk tulisan (contohnya tulisan ini) di manapun aku berada saat itu.

Kemudian, dulu kalau aku ingin melakukan aktifitas surat-menyurat aku sering kesal sendiri ketika harus menunggu berhari-hari atau berminggu-minggu (bahkan pernah juga sampai berbulan-bulan) untuk mendapatkan balasan atas suratku. Belum lagi ditambah dengan kadang tulisan tangan lawan surat-suratanku itu…ya ampun aujubile jelek pisan, kalau hanya memicing-micingkan mata, melotot, atau mata sakit saja sih itu sih sudah terbiasa.

Hore, sekarang sudah tidak lagi donk! ‘Kan ada yang namanya email (fyi: electronic mail/surat elektronik). Waktu tunggu yang biasanya memakan waktu lama-banget-sampe-tidak-sabar-nunggunya itu sudah dimutilasi dan dipadatkan sedemikian rupa menjadi tinggal beberapa detik saja, namanya real time coy! Terus tidak perlu susah-susah mengeja detail tulisan ceker anjing yang menyusahkan itu, ‘kan sekarang sudah ada penyeragaman karakter huruf sesuai komando komite pusat untuk sentralisasi dalam hal ini yaitu sang pembuat software itu. Ya, seperti Bill Gates dan perusahaan big brothernya yaitu Microsoft itulah.

Bertahun-tahun aku menikmati semua itu. Malah, aku sudah memujanya sebagai inovasi manusia paling hebat dari yang pernah ada karena keberhasilannya dalam merevolusionerkan hubungan manusia di muka bumi ini. Berkat bantuan email pula aku mendapatkan banyak teman dari berbagai titik di seluruh penjuru dunia ini, nama-nama tempat Bandung, Jogja, Malang, Surabaya, Makassar, Malaysia, Australia, Inggris, dll masing-masing pasti ada perwakilan manusia yang kukenal. Hehehe…untuk ini aku boleh nyombong donk!

Yang namanya teknologi biar kata secanggih apapun itu tetap saja tidak bisa menggantikan posisi manusia sampai kapanpun, kita harus balik ke dunia nyata bukan? Dan, iya, untuk mewujudkan hal itu aku juga beberapa kali melakukan kop-dar alias kopi darat dengan para cybermateku itu, memangnya enak apa kita menjalin suatu hubungan antar manusia tapi hanya lewat perantara kecanggihan teknologi buatan manusia yang notabene sama saja sih kayak kita-kita juga?! Berhubung interaksi kami selama ini hanya dalam bentuk baku yang pasif saja, ya jadinya garing saja deh pas kita ketemuan, pokoknya asing banget deh. Habis, mau bagaimana lagi coba, wong selama ini kami hanya hadir dalam wujud-wujud yang maya saja kok?!

“Apa itu hanya terjadi pada teman-teman kalian yang jauh saja?” tanya sebuah asbak di atas meja yang sedari tadi kujadikan korban penampungan abu rokok. Oh tidak, kawan materiil padatku yang setia, keterasingan itu juga terjadi di lingkungan kecil yang ada di sekitarku.

Sebutlah dia sebagai seseorang yang selama ini dikenal cukup dekat denganku, baik itu secara emosionil maupun geografis. Komunikasi antara kami berdua terjalin dengan cukup baik, walaupun pelabelan kata “baik” itu didapat hanya melalui alat telekomunikasi temuannya Alexander Graham Bell. Tapi ketika di dunia nyata, ketika kondisi geografis sama sekali tidak jadi masalah yang pelik, interaksi kami tidak ubah layaknya Amerika dan Sovyet semasa perang dingin, ya rasanya masing-masing dari kami masih terus berkomitmen pada diri untuk menyimpan erat-erat suatu rahasia besar…apapun itulah bentuknya. Bahkan ketika kita harus membicarakan sesuatu yang sangat penting dan sangat mendesak pilihan pertama yang akan ditempuh adalah melalui medium email.

Huh, sebegitu terasingnyakah kita dengan diri orang lain yang selama ini sudah melewati jam terbang yang banyak untuk berdialog? Kalau jawabannya iya, berarti kata “dialog” sudah harus kuhapuskan sejak pertama kali karena tujuan dari aktifitas dialog tersebut sama sekali tidak tercapai, yaitu toleransi.

Ok, sampai di sini apa yang ada di pikiran kalian? Apapun itu, simpan saja untuk diri kalian sendiri.

Yey maaf, sekarang aku harus menggerakkan cursor untuk mengaktifkan sebuah suara, suara terakhir di daerah yang penuh dengan bangkai kematian. Sabar ya, tidak lama kok, ini hanya makan waktu sebentar, sama sebentarnya dengan waktu kita hidup di dunia ini.


“Dan datanglah sosok makhluk mekanis yang biasa disebut sebagai komputer itu ke dunia ini. Mereka hampir ada di setiap meja kantor dan hampir di setiap rumah. Impian umat manusia sekarang sudah jadi kenyataan. Mereka menguasai jalan mereka masuk, mereka datang melalui selokan dan pipa-pipa saluran air, mereka juga terjun dari langit dengan menggunakan parasut. Awalnya banyak orang yang senang, larut dalam kebahagiaan, bersama dengan komputernya tercinta, mereka menikmati anugerah komputer ini. Mereka diperlakukan selayaknya seorang kawan, dewa penolong, dan terkadang kekasih tercinta yang setia. Dan kemudian komputerpun membunuh sang majikan.

“Beberapa jenis komputer berukuran sangat kecil, seperti kapsul yang kita telan ketika kita sakit, mereka memasuki tubuh manusia dan banyak orang yang rela mengoyak-ngoyak dadanya sendiri demi mengeluarkan mereka dan menyingkirkan rasa sakit yang semakin tidak tertahankan itu.

Banyak jenis komputer yang memiliki bobot yang sangat ringan, mereka menaiki tubuh majikannya, membuatnya tidak berdaya dan menghisap darah informasi darinya, mereka tidak terhitung jumlahnya dan tidak dikenal seperti layaknya serangga, sel-sel memorinya bergumam, mereka mengibas-ngibaskan ruangnya, membuat layar monitornya berkelap-kelip, mengetikkan petuah dangan papan kuncinya, perangkat kerasnya bagaikan sebuah batu dan perangkat lunaknya seperti semangkuk puding, mereka mengumpulkan serpihan-serpihan tubuh manusia menjadi pola-pola yang indah, dan pikiran mereka sangatlah jahat juga brilian, mereka semua saling terhubung, melipatgandakan intelegensia dan kekuatannya, dan fajar sebuah dunia baru menampakkan titik terangnya ketika komputer ada di mana-mana, tapi sudah tidak ada lagi meja dan rumah.

Sebagaimana tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi ini…”

Iblis dan Aku

Entah bagaimana aku bisa sampai di sini. Sebuah ruang kosong yang belum pernah dijamah oleh siapapun sebelumnya. Ruang ini sama sekali belum pernah terdeteksi atau didefinisikan. Nampaknya ia adalah sesuatu di luar hitam putihnya dunia, sesuatu di antara jangkauan dua buah pilihan. Ini adalah sebuah tempat yang tidak pernah dijanjikan, tanpa hadiah atau hukuman. Alternatif ketiga selain benar dan salah, ya dan tidak, baik dan buruk, harus dan jangan, panas dan dingin, positif dan negatif, dan semua pilihan yang menjebak lainnya. Ruang ini adalah sebuah kenetralan sejati yang tidak terdistrosi oleh keduanya dan berada di luar jebakan takdir. Ruang ini merupakan sisi yang tidak pernah ada dari sebuah koin yang dilemparkan ke udara.

Setelah beberapa lama mengembara dalam kesendirian tanpa sekat ini, aku bertemu dengannya. Ia adalah Iblis, sang oposan abadi tuhan. Wajahnya terlihat berbeda dengan apa yang selalu digambarkan. Tidak ada pancaran kekuatan dari kedua belah matanya, yang ada hanya kegalauan yang kelam dan menyisakan pekatnya hitam yang menegaskan segalanya.

Ia lalu berkeluh kesah tentang sepak terjangnya selama ini yang ternyata hanya menjadi bulan-bulanan tuhan dan penghuni kerajaan surga lainnya. Ia mengeluhkan tentang bagaimana tuhan mengkorup semua nilai-nilai kebaikan dan menyisakan nilai-nilai lainnya kepada dirinya, kepada Iblis, kepada setan dan semua zat-zat terbuang penghuni kerak neraka jahanam lainnya.

“Dunia ini sudah terbalik, kawan!” kataku memotong pembicaraannya. Kita harus berbohong untuk bisa mengungkapkan kebenaran. Dunia ini dibentuk oleh para pendosa yang telah memenangkan pertempuran di masa lalu, sementara kita yang mewarisi kekalahan…kita hanya bisa berjuang mengimbangi kediktatoran klasik mereka.

…Mereka sangat pintar, dan itu sangat aku sesalkan. Mereka telah berhasil meramalkan potensi resistensi kita, dan semenjak pertama mereka telah membuat perangkap yang bisa melemahkan segala usaha kita. Uang dan sejuta prasangka buruk dalam diri kami “manusia” adalah perangkat ampuh yang mampu membelenggu dalam rantai penindasan mereka. Sekarang kita hanya bisa hidup dalam statisnya lingkaran mereka. Oh betapa segala usaha kita untuk melawan ternyata hanya menjadi pelengkap status quo kuno itu…lanjutku.

Ia mengernyitkan dahi dan terlihat seperti sedang merenungkan sesuatu sebelum meneruskan perkataannya. Ia kemudian mengutuk kejahatan manusia yang menimpakan segala kesalahannya kepada kaum terkutuk penghuni neraka. “Itu fitnah!” teriaknya dengan berang. Ia lalu menyesalkan kenapa semua perbuatannya selalu digariskan sebagai sisi gelap dunia ini, sementara ia memang telah diciptakan untuk itu. Ia lalu mengisahkan betapa perihnya untuk selalu berada di posisi yang salah, bagai menjadi setetes air di tengah kobaran api yang membakar basahnya.

“Aku jadi ingat sebuah kisah dari masa laluku”, sekali lagi aku memotong pembicaraannya tanpa diminta. Dulu, setiap kali berbuat ‘dosa’, aku selalu berdoa memohon pengampunan kepada tuhan dan menyebut nama bangsamu “setan dan iblis” sebagai aktor di balik layar yang selalu berhasil menggodaku untuk melakukan itu. Aku telah meminjam namamu sebagai kambing hitam atas apa yang aku lakukan. Namun sekarang aku telah sadar bahwa dosa hanyalah sebuah ekspresi jujur dari hasratku yang tidak bisa dan tidak mau patuh pada kontrol dari otoritas apapun juga, dan sekarang aku melakukannya atas namaku sendiri…tidak lagi menimpakan perbuatan kepada godaanmu.

“Aku tidak ingin menunggu surgaku nanti, aku ingin membangunnya sekarang juga, selagi aku masih hidup. Aku tidak takut akan kematian selagi aku masih ada di dunia ini. Aku hidup hanya untuk sekarang. Kalaupun suatu hari nanti kematian datang menyentuhkan tangannya kepadaku, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini untuk bisa merasa takut atau menyesal. Aku hanya menginginkan sebuah kebebasan, dan aku telah dikutuk karenanya.” tambahku.

Ia sedikit tercengang. Lalu ia berkata bahwa itu semata bukan kesalahanku. Aku ‘menggoda’ manusia hanya untuk membebaskan mereka dari kediktatoran tuhan yang telah membuat hegemoni atas makhluk ciptaannya dengan dominasi nilai-nilai moral yang diberlakukannya secara universal tanpa memahami hasrat setiap individu yang sejatinya ingin bebas. Parahnya, hanya represifitas ‘pahala atau dosa’ yang akan didapatkan bagi mereka yang tunduk atau melawan.

“Sebagaimana aku telah menggoda Adam dan Hawa untuk mencicipi buah terlarang penuh cinta yang berisi ilmu pengetahuan dan ditanam di tengah taman firdaus. Aku melakukannya karena aku tahu bahwa mempecundangi perasaan setiap individu dengan dusta-dusta transedental hanya akan mengasingkan manusia dari dirinya sendiri, dan satu lagi, tuhan tidak ingin berbagi ilmu pengetahuan dengan manusia, ia ingin menguasainya sendiri, ia takut posisinya dilemahkan oleh reduksi ilmiah dari makhluk-makhluk ciptaannya. Itulah sebabnya kenapa ia mengusir kedua insan pemberontak itu dari sucinya belantara surgawi dan meninggalkan umat manusia pewaris dosa masa silam di dunia penuh keresahan laksana kotak Pandora ini. Ach, seandainya saja aku mempunyai kuasa untuk mencipta.” katanya.

“Lalu apa yang bisa kulakukan sekarang?” tanyaku.

“Aku katamu? Kau tidak sendiri, kawan!” Iblis kemudian menjabat tanganku.

Sejak saat itulah kami secara resmi mencanangkan sebuah konspirasi agung untuk menghantui dunia bentukan ini, menjadi parodi atas kemapanannya dan, pada akhirnya, menghancurkan kenyataannya dengan antitesa yang selama ini selalu kita damba-dambakan. Iblis ingin merancang sebuah dunia baru sedari awal sedangkan aku ingin mengambil alih kembali hidupku sendiri, itulah tujuan kami.


Dan kamipun sepakat untuk tidak sepakat. Aku dan Iblis. Iblis dan aku. Kami adalah satu.

Galih said:…bahkan Che Guevara pun terus berevolusi dari dalam Plaza Senayan!

bangunan mentereng itu bernama Plaza Senayan
tempat komoditas dan hasrat bercumbu mesra
di dalamnya ada sebuah toko bernama Cherokee
dimana harga jual bisa jauh melampaui biaya produksi

sangat hebat sampai-sampai kamerad Che rela datang
ribuan kilometer dari hutan Bolivia terakhir ia terlihat
kini brewoknya menghiasi imej fancy serba merah itu
militansinya senilai dengan lembaran senyum Soeharto

Che bukan lagi hanya seorang revolusioner impor
perjuangannya ikut membahasakan diri dalam akumulasi
sekarang ia seorang anak yang kualat pada bapaknya
diadopsi produsen berhala yang dulu jadi antitesa idenya

“Hasta La Victoria Siempre!” tidak segalak dulu lagi
semakin mengancam semakin membuat kantong gendut
teknologi duplikasi membuat ‘revolusi’nya semakin ‘permanen’
setidaknya di tangan anak genit yang mengacungkan tangan kiri

What I said…here’s the reply:

Che Guevara sudah mati,
kalaupun kau temui dia di dalam supermall megah,
kalaupun kau temui dia di tubuh remaja-remaja yang bahkan tak tahu siapa namanya,

itu bukan Che, itu bukan salah Che,
salahkan ketidaktahuanmu, salahkan ketidakperdulianmu,
salahkan mengapa kau bangkitkan Che ke dalam duniamu,

Che tetaplah Che
“Hasta La Vista Siempre” tetaplah garang,
bagi mereka yang menghidupkan Che di hati dan perbuatannya,
bukan memasang wajahnya di tembok atau selembar kain.

“…dan jika kematian harus kita hadapi, songsonglah
dengan tangan terbuka. karena walaupun nyawa ini
hilang, pesan-pesan revolusi akan selalu tersampaikan.
walaupun hanya di dengar satu telinga!”
-- Che Guevara

Dari Sayap Yang Tak Bisa Terbang

sebenarnya tidak ada sepasang sayap
yang bisa membawaku mengangkasa
hanya ada satu yang berhasil kubuat
dari serpihan imaji hatiku yang tersisa

aku hanya mampu membuat sebuah
ia tidak berada di kanan ataupun di kiri
bahkan ia juga belum melekat benar padaku
dan itulah sebabnya kenapa terbangku belum baik

aku masih takut menandai hadirnya
dengan cinta apalagi kasih sayang
karena sesuatu yang memiliki nama
tidak akan pernah ada yang abadi

entah apalagi yang harus kulakukan
terhadap pasangan kepaknya terkasih
apakah aku harus membuatnya lagi
atau mencarinya di hati yang lain

sudikah kiranya kau berikan aku satu, Sayang…
biar kita rajut sepotong lagi sayap yang indah
agar kepakannya bisa membawamu serta
ke sebuah tempat yang tak bernama

- satu-satunya marabahayaku adalah ketakutanku untuk terbang sendirian -

Buat Sepotong Sayap Yang Ingin Terbang Tinggi,
Kamu lahir tanpa sayap,
dalam malam sunyi senyap,
matamu yang besar mengerjap
lalu tertutup karena gelap…

Pelan pelan tubuh kamu tumbuh,
begitupula halnya dua buah sayap,
yang ada di kanan dan kiri kamu…
sama seperti otak kamu,
sama seperti tangan kamu,
sama seperti kaki kamu…

Kanan dan kiri…

Buat Sepotong Sayap Yang Ingin Terbang Tinggi,
Tahukah kamu?
kalau kamu butuh dua sayap untuk terbang tinggi,
untuk menukik tajam,
berlindung di balik awan,
juga menyelimuti tubuh kamu tidur di waktu malam…

Karenanya,
selalu pelihara kedua sayapmu
dengan kasih sayang dan cinta yang sama besarnya…
karena bila salah satu dari mereka tahu
kamu tidak adil dalam merawat keduanya…

Bayangkan bila salah satu dari mereka,
menolak menopang tubuh kamu
saat kamu harus terbang menghindar dari marabahaya!

Sayangi keduanya, Sayang…
Sayangi dengan sama besarnya, Sayang…
Jangan pernah pilih antara Sayap Kanan atau Sayap Kiri…

Buat Sepotong Sayap Yang Ingin Terbang Tinggi,
Tahukah kamu?
walau kamu punya dua sayap untuk terbang,
menukik maupun berselimut,
namun keduanya juga punya dua nyawa…

Artinya, mereka akan saling iri,
bila yang satu lebih disayangi daripada yang satunya,
tapi mereka tetap berbeda!

Karenanya,
mereka bernama Sayap Kanan dan Sayap Kiri,
dan mungkin saja mereka memang tidak bisa tumbuh
sama indahnya…
sama kuatnya…
sama lembutnya…
tapi mereka mesti harus selalu bersama…

Berbeda, tapi bersama…
Kemana-mana…
Dimana-mana…

Buat Sepotong Sayap Yang Ingin Terbang Tinggi,
Ingatkah kamu?
kalau setiap helai sayap kamu
dijalin dari ratusan bahkan mungkin ribuan
bulu-bulu putih kuat dan lembut yang
hidup tanpa suara di permukaannya?

Setiap helai bulu tadi berarti di setiap kepak sayap kamu
bahkan saat kamu tidur sekalipun,
karena tanpa sehelai bulu sayap tadi,
kamu tidak akan terasa sesempurna sekarang, Sayang!

Mampukah kamu menyayangi setiap
helai bulu tadi dengan sama besarnya?

Memberi mereka semua perhatian yang
sama besarnya walaupun mungkin bulu
mereka tidak sama cantiknya?

Setiap helai bulu tadi berarti sama dengan
arti sebuah sayap yang kamu miliki,
karenanya cobalah untuk tidak langsung
mencabutnya bahkan bila sehelai saja
tampak kusam dan gundul…biarkan dia ada
hingga waktunya dia tercerabut dan pergi
dari sayapmu datang…

Setiap helai, berarti nyawa kamu, Sayang…

Buat Sepotong Sayap Yang Selalu Ingin Terbang Tinggi,
Apa yang akan kamu lakukan kalau tembok itu terlalu
tinggi dan terlalu tebal, bahkan untuk sayap seekor
burung pemakan bangkai sekalipun?

Break My heart and I’ll squeeze you. Tear My mind and I’ll blast you. Be all mine and I’ll bless you. Call my name and I’ll Save you…!

Malam Indah

Kenapa harus bertanya pada bintang,
Jika senyumannya mengandung sejuta makna?
Biarkan mereka memenuhi kisahnya sendiri.
Denganmu, hampanya langit tetap indah, sayang…

Bahkan cinta yang tak berbintangpun masih bisa memilih,
Entah ia akan menjalani kisah, atau membuatnya.
Jika bintang memang tak bercinta, biarkan ia yang menyinari.
Dengan cinta…bahkan matipun akan terasa hidup.

Kalau memang kesendirian yang menghidupimu,
Biarkan kasih mencintai kesunyianmu.
Kalau memang rasa takut yang menjagamu,
Biarkan sayang mengasihi resahmu.

Jangan salahkan bintang yang bergejolak…
Itu bukan keinginannya sendiri bukan?!
Jangan salahkan kosongnya hidup…
Cinta tidak peduli dengan desah nafas dan detak jantung.

Seandainya dengan bersayap bintang bisa digapai…
Kenapa tidak biarkan sang pecinta yang merajutnya?
Bahkan jika cinta hanya senilai dengan hati dan air mata,
Masih ada bintang yang bisa dijadikan tempat berkeluh-kesah!

Saling Mendukung dan Berhentilah Bersaing Satu Sama Lain!

Berhentilah untuk berusaha menjadi siapa yang paling benar, paling hebat, paling menonjol, dan paling paling yang lain. Aku sudah muak melihat teman-temanku yang saling menjatuhkan. Sadar deh, kalau kita semua adalah orang-orang lemah yang sama-sama sedang berusaha untuk menjadi kuat dalam suatu proses alamiah.

Sekarang kalau kita bicara soal proses jadi kuat ini, berarti kita juga bicara soal batasannya juga donk. Sekarang, standar kuat atau tidaknya seseorang itu ‘kan relatif banget. kalau sudah begitu, sampai kapan donk kita bisa menjadi “kuat” dan siap untuk memperkuat komunitas? Apalagi komunitas itu pasti dan harus melibatkan lebih dari satu orang. Bagiku, proses itu tidak ada habisnya dan tidak ada barangsiapapun yang bisa bilang “CUKUP!” kecuali diri kita sendiri dan kelemahan-kelemahan yang membatasinya.

Aku pikir, proses ini juga bisa deh dijalani di dalam sebuah komunitas, walaupun orang-orangnya terdiri dari individu-individu yang tidak “kuat” dan tidak siap membuat komunitas. Dengan begini, semua orang yang terlibat di dalamnya bisa terus-menerus berjalan beriringan mengarungi proses, dimana masing-masing orang saling memenuhi kebutuhan satu sama lain dengan segala macam kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Si A memberikan apa yang Si B tidak punya, begitu juga sebaliknya. Pokoknya saling mengisi kekosongan deh! Aku jadi ingat salah satu slogannya orang-orang komunis: “Mengambil dari setiap orang sesuai kemampuannya, dan memberi kepada setiap orang sesuai kebutuhannya”.

Konflik internal yang rumit dan penuh intrik dalam sebuah komunitas itu juga sebuah proses loh, alami pula! kalau tidak setuju dengan keputusan atau pilihan yang ada di dalam sebuah komunitas, ya dimusyawarahkan untuk mufakat dulu donk, supaya ada rasa saling pengertian (ce ileh, kayak pacaran saja :), dialog yang komunikatif demi terciptanya rasa toleransi. Kalau sudah mentok (biasanya kalau sudah begini solusinya adalah kembali ke diri masing-masing!), baru deh membuat pilihan/keputusan sendiri yang tidak ada kaitannya dengan komunitas ini. Gampang tidak sih tuh?! terbukti ‘kan, selama ini aku lebih sering kerja sendiri daripada bersama komunitas.

Kadang kalau mau dipikir lagi, yang namanya “kepentingan bersama” itu sebenarnya tidak ada. Hah, ada satu lagi kata yang harus dihapus dari kamus kita. Seharusnya kata “bersama” itu mending diganti dengan yang lebih riil saja deh, seperti “mayoritas”. Iya benar, kalau bukan demi kepentingan mayoritas untuk apa lagi coba ada yang namanya voting. Dan kalau sudah begini, yang minoritas mau dikemanakan? Ya mau tidak mau ya harus patuhlah pada yang lebih banyakan dan membiarkan kepentingannya tertindas oleh konformitas. Kalau sudah begini, kita mau melakukan apa? seperti yang dibilang temanku, ada tiga pilihan: berusaha merubah keadaan, kalau bisa merubah kita bertahan, dan kalau tidak ya cabut saja dari situ. Gampang banget ‘kan?

Hehe, berarti aku tidak total pro dengan kolektifitas ‘kan? Seperti yang bisa dilihat dalam komunitas tempat kita bernaung (dan komunitas di mana saja), hal-hal seperti “otoritas hirarkis yang otomatis nongol” itu memang benar adanya (untuk yang satu ini aku setuju!), apalagi kalau orang-orangnya berasal dari tempat dan waktu yang beragam. Dalam hal ini yang namanya “patron yang menonjol” adalah wajar, tapi bukan situasi yang sehat deh kayaknya. Tapi mau sampai kapan kita akan terpaku pada “sosok hebat” sang patron komunitas? Kalau kehidupan di dalam komunitas hanya melahirkan sosok-sosok yang tergantung dengan sosok lain yang dianggap lebih hebat tanpa berusaha untuk memandirikan dirinya sendiri, maka layaklah komunitas itu divonis sebagai sebuah komunitas yang gagal.

Tapi bergabung dalam sebuah komunitas juga tidak membuatku total submisif dalam komunitas itu kok. Sampai kapanpun seorang aku tetaplah seorang aku, aku tetap bebas melakukan apa saja. Komunitas inipun tidak berhak melabelkanku dan membatasi hubungan sosialku. Soalnya aku memang tidak memiliki loyalitas institusional sih! Dan akupun bebas untuk berkompromi dan berkhianat. ]:)

Ya maaf, karena aku memang masih senang dalam proses yang permanen dan berantai ini.

Fuck Religion…!

Apa kita bisa menerima kondisi ini? Hanya fasis tengik yang bisa bilang iya! Sudah menjadi bagian dari hak-hak kita yang azasi sebagai manusia untuk bisa mencintai siapa saja yang kita inginkan. CINTA adalah fenomena terindah yang pernah ada, dan cinta sejati, dalam segala bentuknya, harus selamanya diperjuangkan. Ingat! Perjuangan tanpa cinta adalah sebuah ketololan abadi. Shit, I really love Cinta and I’m really really need it! Agama telah mengobarkan perang lebih banyak dari apapun juga. Padahal dalam sejarahnya, peletak batu pertama dalam pembangunan agama itu tuh indah-indah semua, seperti cinta dan kasih sayang. Tapi sialnya, agama malah menghalalkan kekerasan dan kebencian kepada orang-orang yang tak seagama dengannya.

Agama merupakan alasan bagi orang-orang yang lemah supaya melupakan ketertindasan mereka dan memanifestasikannya dalam bentuk-bentuk adi alamiah yang seolah menawarkan sesuatu yang lebih baik di kehidupan berikutnya.

“They want you asleep, while they impose their false deity. Religion is the opiate of the masses.”

Pengkhianatan

Memilih siapa yang bisa kupercaya atau siapa yang bakal kuajak berbicara bukan perkara yang mudah bagiku. Bagaikan halnya berusaha membuat sebuah kemustahilan yang hebat, sangat susah bagiku untuk sesekali berkompromi dengan keyakinanku untuk tidak mempercayai satu orangpun.

Tapi pada suatu malam, aku berhasil mempecundangi diriku untuk seseorang yang selama ini masuk daftar teratas “orang yang tidak bisa kupercayai untuk menjaga rahasia” dengan pertimbangan rasa senasib, dengan harapan dia bisa mengerti apa yang kurasakan. Entah juga apakah “perasaan senasib” itu memang tulus apa adanya dia atau itu hanya rekayasa manipulatif darinya supaya bisa mengorek keterangan yang selama ini kupendam dengan baik.

Apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur, dia telah berkhianat. Pengkhianatannya sudah mengganggu proses yang selama ini kurajut dengan baik dan hati-hati. Padahal, katanya, dia juga pernah mengalami hal yang sama dan menempuh jalan yang sama seperti yang ada di pikiranku. Tak ada lagi senyuman yang tulus di hati, sekedar bibir yang tersungging mungkin masih ada tapi itu palsu, sepalsu kata-kata manisnya…

I Hate You, Girl!

Takkan Ada Kekuatan Diri Sejati, Selama Kita Masih Belum Bisa Membebaskan Pikiran Kita

“Emancipate yourselves from mental slavery; None but ourselves can free our minds” - Redemption Song, Bob Marley.

Jauh sebelum aku bisa mencapai tingkatan yang disebut sebagai “kontrol diri” itu, aku harus melalui tahapan yang kuyakini bisa membantuku menguasai kekuatan diri yang sejati. Bagaimana mungkin kita bisa melakukan aktifitas kontrol di saat kita tidak punya kekuatan?

Pertama kali aku akan mencoba membuat definisi tentang keadaan diriku secara subjektif dan secara objektif, menganalisa keadaan yang ada dalam kehidupan ini. Aku akan mencoba jujur pada diri dan perasaanku sendiri tentang apa yang benar-benar kuinginkan. Lalu aku berusaha memahami bagaimana keberpihakan kenyataan hidup terhadap diriku, apakah hidup ini bersahabat dengan keinginanku atau malah menjadi penghalang. Pokoknya cari tahu dulu dimana kekuatan dan kelemahan kita, peluang yang ada, dan apa saja yang menjadi ancaman.

Kedua, aku percaya di dunia ini berlaku sebuah fenomena alam yang bernama “relatifitas sebab-akibat” sebagai pengganti kata “kebetulan” (menurutku, perbedaan arti kata yang satu ini dengan kenyataan yang diwakilinya terlalu absurd). Aku percaya apapun yang ada di dunia ini adalah rangkaian proses sebab-akibat yang tidak ada habisnya. Apapun yang kita lakukan saat ini adalah akibat dari apa yang sudah terjadi sebelumnya, dan hal itu bisa jadi sebab di masa-masa sesudahnya. Nah, berkat hal ini jugalah aku bisa menentukan kendali atas apa yang akan kulakukan dalam hidup ini. Intinya, aku harus bisa mengetahui apa yang membuatku melakukan sesuatu, dan aku juga harus mempertimbangkan apa yang akan terjadi kalau aku melakukan sesuatu itu.

Sekarang tentang “kontrol diri” ini. Kalau melihat dari arti katanya berarti akulah yang akan menentukan sendiri bagaimana kelangsungan hidupku ini. Hidup adalah tentang berpikir bagi diri sendiri dan memegang kendali penuh atas kelangsungannya. Menilik falsafah hidupku itu, jelas hanya dirikulah yang bisa menentukan apa saja yang “jangan” dan “harus”. Otomatis aku dengan sangat sengaja melupakan, bahkan mengesampingkan, segala standar moral yang datang dari luar diriku.

Yang kumaksud di sini adalah semua faktor-faktor eksternal yang selalu berusaha memaksakan nilai-nilai reward dan punishment-Nya yang konvensional itu secara koersif, seperti: agama, hukum, budaya, tradisi, konvensi, konsensus, dan lain-lain. Seperti yang pernah suatu ketika temanku bilang: kebenaran memang subyektif, tapi kita harus menarik garis demarkasi dan mengambil posisi keberpihakan yang jelas dimana kita akan berdiri sebagai bargain position.

Sedikit catatan, aku tidak percaya oleh yang namanya “kesepakatan bersama” atau “kepentingan bersama” dalam konteks masyarakat luas. Bagiku, kata “bersama” di belakang kata “kesepakatan” lebih baik diganti kata “mereka yang ada pada saat itu” dan kata “bersama” setelah kata “kepentingan” lebih baik diganti dengan kata “mayoritas yang diuntungkan”. Dan juga, kedua kata itu rasanya terlalu menggampangkan keadaan dengan generalisasi yang mereka lakukan. Ingat, konsep manusia yang terlampau abstrak ini tidak bisa begitu saja direduksi ke dalam deretan kalimat usang buah rangkaian sang pengamat atau diwakili oleh deretan persentase angka-angka statistik!

Pada akhirnya (untuk saat ini saja “dalam kapasitas diriku” aku tidak pernah yakin ada sebuah akhir yang absolut), mengenai masalah “kontrol diri” ini, aku hanya bisa menyampaikan sebuah kiasan yang klise namun nyata adanya: “semuanya berpulang pada pribadi masing-masing”. Itu semua terserah pada diri kita sendiri. Dan satu lagi yang harus kita ingat: laksana sebuah payung, pikiran manusia hanya akan benar-benar berfungsi kalau diBUKA.
“Dunia ini sudah terbalik, kawan! Kita harus berbohong untuk bisa mengungkapkan kebenaran. Dunia ini dibentuk oleh para pendosa yang telah memenangkan pertempuran di masa lalu, sementara kita yang mewarisi kekalahan… kita hanya bisa berjuang mengimbangi kediktatoran klasik mereka…” - kutipan dari Aku dan Lucifer.

Hidup Yang Bisa Memilih

Apa sih enaknya hidup di satu-satunya dunia yang kita kenal, di tempat yang sama sekali tidak pernah kita inginkan atau impikan? Sewaktu kita masih melayang-layang di alam baka sana, sebelum kita dilahirkan, kita tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih, memilih untuk jadi apa nantinya, laki-laki atau perempuan, agama apa yang akan kita anut nanti atau tidak sama sekali, bagaimana keluarga kita, lingkungan kita, teman-teman kita, IQ kita, kondisi fisik kita, status sosial kita nanti apa, sama sekali tidak pernah. Ini semua kita peroleh tanpa pernah sekalipun minta pendapat kita, entah kita menyukainya atau tidak. Kita juga dipaksa untuk menjalaninya seumur hidup kita dan bahkan kita juga diwajibkan untuk mensyukurinya.

Mungkin saja kesemua anugerah itu menempatkan kita pada posisi yang menguntungkan. Kehidupan yang selama ini kita anggap normal sebagaimana layaknya manusia biasa itu mendapat pembenaran hanya karena ada jutaaan orang lain yang menjalaninya persis sama dengan apa yang kita lakukan. Bagiku, semua yang didapat tanpa kebebasan memilih sepenuhnya dan perkembangan selera/perspektif kita itu sama halnya dengan menggadaikan kebahagiaan yang sejati dengan kebahagiaan palsu. Semuanya adalah busuk dan tidak ada satupun yang bisa dibanggakan, kecuali untuk dihancurkan semuanya!

Mau menjadi apa kita seandainya pernah ada kesempatan untuk memilih kandungan hidup ini? Mungkin kita akan memilih dunia lain yang pararel dengan dimensi realitas dunia kita, mungkin kita akan memilih menjadi seorang Jedi supaya bisa mendengar Master Yoda bilang: “May the force be with you” setelah sebelumnya mengajari kita cara menggunakan Light Saber buat melawan Darth Vader yang ternyata adalah ayah kandung kita, mungkin kita akan memilih menjadi seorang atheis/libertine yang mengenal sosok pencipta bukan pada konsep Tuhan yang otoriter, mungkin kita akan memilih menjadi orang sehat yang tidak mengidap penyakit kanker hati yang kronis, mungkin, mungkin, dan mungkin. Segalanya dimungkinkan. Mungkin juga kita ingin menjadi Tuhan, who knows!!?

Tapi semua itu baru mungkin diwujudkan setelah apa yang menghalanginya dihancurkan terlebih dulu. Hanya setelah kita kehilangan segalanyalah maka kita bisa bebas melakukan apa saja. Bagaimana mungkin kita bisa membangun rumah kalau satu-satunya lahan yang ada telah dibangun sebuah gedung? Bukankah gedung itu harus dihancurkan terlebih dulu baru kita bisa mulai membangun rumah? From the last chaos will born a new cosmo, lahirnya sebuah kosmopolitan baru (sialan, bukan nama majalah!), yang sampai sekarang masih kita anggap imajiner, setelah kehancuran yang terakhir. Kenyataan yang telah menghancurkan satu-satunya pilihan yang ada membuat penghancuran kenyataan itulah satu-satunya pilihan yang ada.

Hadapilah sayang! Kondisi yang ada telah memaksa kita untuk berbuat apa saja bahkan dengan cara yang paling tidak mungkin sekalipun. Hidup adalah seni dan ada banyak cara untuk menjalaninya tanpa harus mengikuti kaedah-kedah yang ada…!

Terbanglah, Kawan…!

Dear friend,

Selamat terbang,
Jelajah batas,
Temu kakilangit,
Hanya tahu yang kutahu,
Bahwa hidup perlu jelajah,
Pencarian tanpa henti,
Hingga batas itu sendiri,
Adalah titik akhir yang kita tak pernah tahu…

Bahagialah yang memiliki sayap dan punya keberanian untuk terbang…

Meracau Lagi
(seperti biasa)

Hmm…ya, sebenarnya gwe sendiri juga tidak tahu nih mau nulis apa, soalnya gwe ‘kan bukan penulis. Ya, ini hanya karena terpaksa saja. Memang sih di kepala gwe tidak ada yang menodongkan pistol, tapi karena icon Microsoft fuckin’ Words di komputer gwe inilah yang menggoda iman gwe terus. Ya sudah, karena sudah terlanjur…gwe terusin saja deh, tanggung!

Dia itu memang raja tega ya, maksud gwe komputer ini, masa gwe dipaksa suruh nulis. Gila, gwe ‘kan cuma orang goblok yang belajar baca dan nulis lewat kurikulum sekolahan. Gwe jadi ingat dulu waktu pertama kalinya belajar baca, “Ini ibu Budi”, “Budi pergi ke pasar”, terus…aduh sialan, gwe lupa lagi! Harap maklum saja, sudah lama banget sih!

Sedari kecil gwe selalu dipaksa buat menerima semua aturan di sekolah, katanya sih supaya hidup gwe bahagia: pintar, dapat ijazah, cepat kerja, kawin, punya anak, pensiun, terus nunggu mati deh. Ach, kayaknya bukan itu deh pilihan gwe. Kalau gwe sendiri tidak mau “hidup” yang kayak begitu, maunya sih yang kayak…ach siaul, sampai sekarang gwe masih tidak tahu mau hidup kayak apa, sumpah deh! Kayaknya pikiran gwe tuh blank banget, tidak tahu arah, lepas kendali…Kalau dulu sih memang, gwe merasa sudah menemukan tujuan hidup tapi itu bukan tujuan gwe, itu sih tujuannya orang-orang yang menulis buku.

Hihihi…tolol banget deh gwe waktu itu (sekarang masih juga kali ya!?), habis membaca buku gwe merasa sudah pas banget memerankan apa yang ditulis buku itu. Otomatis, habis itupun gwe mendadak menjadi kayak orang aneh, kira-kira mirip dengan mayat hidup gitu. Belum lagi, sehabis selesai baca, gwe langsung mengklaim sebuah label singkat yang terbias dari buku itu. Tahu ‘kan sebutan-sebutan yang ada tambahan ism, ist, an, dll -nya setelah sebuah kata yang membedakan buku itu dengan buku-buku yang lain?! Memang sih, gagah! Tapi ternyata tidak ada gunanya tuh, selain hanya untuk menambah gengsi saja.

Otak? Hah, waktu itu gwe memakai otak gwe bukan untuk berpikir tapi untuk menghapal isi buku-buku tersebut. Iyalah, pokoknya dulu gwe tolol banget deh, tidak bisa berpikir untuk diri sendiri. Pernah nonton film horor tidak? Kalau pernah, pasti tahu zombie dong, itu loh…mayat hidup (‘kan sudah gwe bilang sebelumnya!). Nah, kira-kira seperti itulah gwe dulu.

Otak gwe ya isi buku itulah, setiap jalan kemana-mana gwe selalu saja jadi kayak sudah punya pengalaman tentang segala sesuatunya. Memang sih, jadinya aman, tapi kayaknya hidup gwe ini jadinya tidak asyik lagi. Mau ngapa-ngapain gwe sudah tahu duluan apa akibatnya, walaupun gwe sendiri tidak pernah merasakan langsung. Tiba-tiba saja gwe jadi merasa tidak puas lagi dengan hidup gwe. Gwe ingin merasakan semuanya coy! Masalah “benar” atau “tidak”nya itu sih belakangan. Ya, gwe baru bisa menilai sesuatu kalau sudah mengalaminya sendiri dan bukan hanya sekedar tahu lebih dulu, iya tidak?! You got to know to understand, kalau kata lagunya Supergroove.

Sekarang? Sekarang-sekarang ini gwe sudah tidak diperbudak lagi oleh isi buku. Paling-paling juga gwe menerimanya sebagai bahan referensi saja. Penyikapan selanjutnya? Ach, itu sih terserah gwe mau bagaimana nantinya. Pokoknya persetanlah dengan buku-buku yang mengajarkan gwe bagaimana cara menjadi manusia yang benar dan baik. Gwe tidak mau lagi diperbudak oleh isi buku, apalagi kalau buku itu berusaha membentuk pikiran gwe sesuai keinginan sang penulis.

Namanya juga hidup, setiap manusia hidupnya ‘kan beda-beda, tidak ada yang sama. Belum tentu apa yang gwe rasain itu sama dengan yang orang lain rasain. Mungkin ada kesamaannya tapi tidak 100% lah! Jadi bagi gwe standar “benar” atau “tidak”nya itu tidak akan pernah bisa dipaksain, tergantung orangnya masing-masing. Hehehe…solusi mentok lagi nih, penengah semua problema!

Hidup setiap orang itu seharusnya orisinil lagi, tidak usah meniru atau berharap ditiru. gwe tidak merasa perlu untuk mencontoh atau meneledani hidup orang lain, entah sehebat apapun orang itu, dan orang lainpun tidak usah meniru hidup gwe karena memang sama sekali tidak ada gunanya. Kalau gwe sih pengennya menjalani hidup gwe saja, bebas, sebebas apapun yang gwe mau. Gwe mau terus-terusan mencari makna hidup gwe, mencari tahu mana yang cocok dan mana yang tidak buat gwe. Kalau gagal? Ya, gwe cari lagi saja yang lain. Kalah itu biasa saja lagi, tapi kalau bangkit dari kekalahan…wow, itu justru jauh lebih baik dari sekedar luar biasa.

Kan di situ tuh enaknya hidup, ada saatnya kita di atas dan ada saatnya kita di bawah. Coba bayangkan seandainya kita lahir dengan sendok perak di mulut kita…ehem, maksudnya lahir kaya raya gitu, terus hidup kita lempeng-lempeng saja, mau ngapa-ngapain bisa, gampang, tinggal minta, dijamin mati enak. Ach, kayaknya hidup yang begitu malah tidak asyik deh, tidak ada seninya, tidak menantang! Hidup ini bagi gwe akan jauh lebih menarik kalau gwe sama sekali tidak tahu mau ngapain tapi gwe terus saja menjalaninya dengan semua pilihan yang ada ataupun dengan pilihan yang gwe buat sendiri. Hidup untuk menikmati proses bukan mengejar tujuannya.

Huh…capek nih, ngoceh terus! Gwe memang hobi ngoceh sih (secara tulisan ya, biar ada bukti konkrit yang bisa dibaca orang lain), tapi tidak juga kali ya! Biasanya gwe suka meracau sendirian dalam kamar, apalagi kalau gwe lagi sendirian atau susah tidur. Heh, gila kali luh ya, gwe tidak gila lagi, luh tuh yang gila! Gwe cuma pengen menjalani hidup sesuai keinginan gwe saja, apapun yang jadi pilihan gwe…ya itulah yang mesti gwe jalani. Mungkin jalan hidup gwe berbeda dengan jalan hidup kalian, tapi…ya, inilah gwe, tidak kurang tidak lebih. Ya maaf, kalau ternyata pandangan hidup gwe yang unik-kreatif-dan-otentik ini (ck…ck…ck) dianggap orang lain sebagai semacam “kesombongan”, “kegilaan” atau “dosa”, heh…memangnya gwe pikirin! Gwe hanya berusaha untuk menjadi seorang manusia…mungkin juga, gwe bukan manusia. :P~

Terus terang saja nih, sampai sekarang gwe masih tidak tahu mau nulis apaan, malah gwe juga jadi heran sendiri, “Kok masih ada saja ya orang yang betah baca ocehan orang gila kayak gini?!”. Aaakkkhhh…sialan luh semua, bikin gwe pusing saja!

Bunuh Televisi Atau Kamu Terbunuh!!!

Kotak hitam ajaib itu nongkrong di ruang keluarga. Kenapa aku bilang ia ajaib? Karena dengan kilauan cahaya yang membentuk tiruan bentuk-bentuk nyata yang dipancarkannya itu ia bisa membius orang-orang serumah untuk tetap duduk tenang di sofa sementara kotak hitam ajaib itu memprogram ulang isi pikiran kita. Ia juga punya nama yang disadur dari bahasa asing, namanya adalah televisi atau TV.

Terus terang saja aku tidak terlalu suka nonton TV. Menghabiskan waktu satu jam untuk menonton tayangannya saja sudah bisa mengurangi aktifitasku sampai sekitar 80%. Habis mau bagaimana lagi coba; mata mantengin layar bergambarnya, kuping mendengarkan suara yang dikeluarkan, tangan sibuk memegang remote control. Pasif banget tidak sih tuh?!

Parahnya lagi segala kepasifan itu nyandu, sama nyandunya kayak putauw atau agama. Begitu kita sudah menjadi seorang TV junkies alias bisa terbius oleh pesona artifisialnya kita akan lebih banyak meluangkan waktu untuk berkutat dengannya, bukan memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan aktifitas yang lebih berguna dan bisa membuat kita lebih menghargai diri sendiri.

Jam-jam yang kita habiskan untuk menonton rekaan hidup orang lain itu ‘kan sebenarnya bisa kita gunakan untuk menghabiskan waktu lebih banyak untuk mencurahkan kasih sayang bersama keluarga (maaf-maaf saja ya, nonton TV bareng bukan sebuah bentuk perhatian pada keluarga tuh!). Atau daripada nonton selingan iklan-iklan komersil yang membuat kita bodoh dan konsumer itu ‘kan waktunya bisa kita gunakan untuk bereksperimen dengan bahan makanan yang kita beli di pasar tradisional untuk membuat makanan enak yang sehat bergizi daripada pergi ke supermarket beli produk mie instan yang kata kemasannya mengandung vitamin super lengkap itu. Ach, kadang kemasan bisa menipu loh!

Makanya aku sangat bersukacita sewaktu TV itu rusak dan aku merayakannya dengan membaca buku Misteri Soliter-nya Jostein Gaarder di depan rongsokan sialan itu. Ibaratnya aku waktu itu lagi meledek kerentanan teknologi manusia itu. Huahahahahaa!! Eh, aku jadi ingat perkataannya Mahatma Gandhi, “machine is devil’s work”.

Tapi tahu tidak, kenapa para penggiat industri pertelevisian itu menyebut acaranya dengan kata “program”. “Ya, apalagi kalau bukan karena memang tayangan itu merupakan salah satu usaha untuk memprogram ulang isi otak kita supaya sesuai dengan isi otak mereka, kira-kira sama halnya dengan sekolahlah (mengerti donk maksudnya!). Tuh ‘kan, ini salah satu bentuk hegemoni yang selama ini kita sering lupakan, bukan?!”

Program-program itu memaksakan standar tinggi dalam otak mereka ke kepala kita. Tidak percaya, lihat saja apa persepsi mereka mengenai kecantikan; kulit putih, hidung mancung, badan tinggi, payudara sekel, bodi bahenol, rambut lurus, dan lain sebagainya itu; sangat artifisial bukan?! Dan tidak semua orang memiliki “bakat alamiah” yang kayak gitu, malah mayoritasnya dikuasai oleh orang-orang yang “kurang beruntung” itu.

Nah di situlah letak usaha mereka membuat kita menjadi minder dan merasa kurang sempurna, begitu mereka sudah berhasil terus keluar deh yang namanya produk-produk yang katanya bisa membuat hidup kita jadi lebih baik. Kelanjutannya sudah bisa kita tebak bersama…mereka berhasil mengeruk duit kita, dan keberhasilan itu dibantu sepenuhnya oleh imej palsu ciptaan mereka itu.

Lihat saja kecenderungan iklan-iklan di layar TV, mereka tidak lagi menawarkan sabun untuk mandi atau minyak untuk menggoreng, tapi mereka menjanjikan wangi tubuh yang bisa membuat pacar kita tambah lengket dan hidangan lezat yang menambah keharmonisan keluarga. Pokoknya sucks en menjijikan bangetlah, kayaknya mereka di sana tertawa bahagia melihat kita yang terbuai kebodohan sambil teriak “belilah produk keren ini, lupakan fungsinya!”

TV juga sudah membuat kita memuja sosok selebritis atau public figure yang sering nongol di layar kaca, bukannya memahami diri sendiri, kita malah dipaksa untuk terpesona pada keunggulan para pesohor yang jadi langganan tampil di sana.

Merasa sendiri ‘kan, bagaimana pengaruh TV yang membuat kita menjadi “sadar” kalau Naif ama Cokelat adalah band keren yang semua albumnya harus kita punya. Heh, buang-buang waktu berharga saja. Toh, pada kenyataannya kekaguman tolol itu bisa kita alihkan dengan cara membentuk band keren dengan idealisme kita sendiri tanpa harus terpaku pada selera pasar. Sorry saja nih, bagi gwe, membentuk band sendiri menawarkan petualangan hidup yang lebih menarik daripada bisanya hanya diam merasa bodoh dan membeli produk-produk tidak berguna yang mahal itu.

Pada akhirnya, puaskah kita hanya dengan berdiam diri menonton bagaimana mereka hidup dan mewujudkan mimpi-mimpinya? Kita juga harus menghidupi mimpi-mimpi kita sendiri donk. Kita memang tidak mungkin bisa membuat revolusi dalam skala makro, tapi setidaknya kita bisa membuatnya dalam tataran yang paling kecil saja dulu…yaitu hidup kita sendiri. Karena revolusi personal itu tidak mungkin bisa diwakili atau dikomandoi oleh apapun itu bentuknya (termasuk oleh komite sentral partai pelopor revolusioner versinya Lenin dan tentu saja si televisi bangsat itu!) maka, melakukan sendiri adalah satu-satunya pilihan yang ada.

Revolusi itu, setidaknya bagi diriku sendiri, bukan bagaimana kita bisa menunjukkan bagaimana seharusnya hidup manusia yang indah itu nantinya tapi revolusi harus bisa membuat hidup seorang manusia saat ini benar-benar Hidup (Hidup dengan huruf “H” yang gede) dengan segala mimpi-mimpinya, bukan hanya sekedar bertahan hidup ditambah detak jantung dan nafas. Wuih, aku tidak bisa membayangkan deh bagaimana rasanya hidup tanpa mimpi dan tanpa imajinasi…

Karena televisi telah menghancurkan perealisasian imajinasi, maka satu-satunya imajinasi yang bisa direalisasikan adalah penghancuran televisi!

Menikmati kekalahan, sekali lagi…

Masuk ke dalam pelataran kasih terlarang
Seusai mengkhianati komitmen awal ‘tuk menyerah
Beralasan fobia kepahitan masa silam

Menantang rasio dengan hati berbunga
Berbekal kejayaan emosi buta nan bodoh
Melengkapi sejuta ujar manis tiada arti

Memanfaatkan ruang maya dalam sekat fana
Beranjak naik turun mengikuti alur maju
Tanpa lupa nasib kejam menghantui


Mengingat betapa singkatnya hidup ini
Membayangkan rangkaian rencana waktu
Menahan perih dalam hati nan rapuh

Menghajar kerasnya dinding keterasingan
Mencoba tolerir indahnya perbedaan
Yang sukses mengekang ruang gerak insan

Seringai duri dalam daging mencibir lemahku
Titik cerah pelita hidup itu t’lah pergi menjauh
Menghampiri indahnya dunia yang lebih bersinar

Tapi kau hanya mematung, hening seribu basa
Mengabaikan kehadiranku laksana kenihilan sejati
Tidak ada satupun kata terucap dari bibirmu

Sungguh kesedihan bukan sebuah pilihan
Masih lebih baik mencegah daripada mengobati
Sudah terlalu kering air mata ini ‘tuk meratapi

Sekarang aku hanya bisa mencari cahaya kelam rembulan
Karena mentari hanya kutemukan dalam dirimu seorang
Maafkan kalau aku terlibat terlalu jauh ke dalam

Mulai saat ini bisa kau bawa serta semua kenangan manis
Karena menyisakan walau sedikit hanya ‘kan menyiksa batinku
Aku tak ingin menjadi setitik duka dalam belenggu sukacitamu

Kiasan klasik punggawa sastrawi melipur laraku
“Mencintai memang tidak harus memiliki”, hiburnya
“Tapi segala kebahagiaannya jadi milikku jua”, belaku

Oh, betapa sebuah pukulan telak kembali menghantam
Tentu butuh waktu panjang ‘tuk memulihkannya
Kehidupan ini memang terus bergerak ke depan

Sudah cukup kunikmati proses panjang ini
Tidak mungkin bisa kuharapkan hasilnya
Sampai di sini saja perjalanan cintaku

Bertindak gegabah dalam hal ini hanya membawa luka belaka
Bukan materi tapi perasaan yang jadi taruhannya
Aku merasa maka aku ada

untuk seseorang…(a place somewhere between) | 14.02.01

Causa Prima is F***!

Aku benci Tuhan “Yang Maha Segalanya”
Aku benci agama yang memanifestasikan keberadaan-Nya
Kenapa Dia mesti mengkorup semua hal yang baik
dan menyisakan yang selebihnya kepada iblis

Bukankah mencabut nyawa manusia juga bukan hal baik?
Kenapa tidak ada sebutan “Yang Maha Kejam” untuk-Nya?
Kenapa Dia harus menciptakan standar nilai moral universal,
tanpa memberi kebebasan bagi makhluk-Nya untuk mencari kebenarannya sendiri?

Ach, “rahasia Tuhan” itu hanya pembenaran para pemuja kebenaran tunggal saja…!

Aku tidak ingin selamanya hidup dalam ketakutan untuk tunduk kepada-Nya
Aku tidak peduli akan keberadaan-Nya, aku bukan orang hebat
Aku tidak ingin mendasarkan hidupku pada “reward” dan “punishment”-Nya
Aku hanya percaya kalau aku tidak peduli !

Aku adalah…
Tuhan bagi diriku sendiri…
Yang bermimpi menjadi seorang manusia
seandainya saja Ia tahu bagaimana rasanya…!

Jodoh?

Pernah ada sebuah epik yang menceritakan bahwa sebelum ruh kita sampai ke dalam janin yang terkandung di dalam perut ibu kita, dalam perjalanannya menembus atmosfer bumi, ruh tersebut terbelah menjadi dua dan masuk ke dalam janin yang berbeda. Sehingga menjadi tugas kita untuk mencari belahan jiwa kita yang terpisah itu. How romantic! Dibalik benar atau tidaknya epik tersebut, perlu kita pikirkan kemungkinan bahwa bagaimana jika ruh tersebut terpisah sejauh tiga benua dari posisi kita berada sekarang ini? Jika kita memikirkan jawabannya maka kita akan memikirkan banyak kemungkinan jawaban.

Jodoh: Sebuah alasan?
Dalam persepsi kita, mungkin jodoh suatu tarikan langkah yang panjang, karena dapat dikatakan kita menginginkan untuk menghabiskan the rest of our life dengannya. Tapi jika kita berpikiran bahwa jodoh tidak akan kemana-mana dan akan datang dengan sendirinya maka kita telah berpikiran pendek karena dengan begitu akan membuat kita tidak mau berusaha, berusaha sekuat-kuatnya, untuk mempertahankan sebuah hubungan. Kecuali jika memang kita tidak berniat untuk menjalin sebuah hubungan terlalu lama atau malah sudah tidak kuat lagi untuk mempertahankan hubungan, maka anda berhak untuk memutuskan sebuah hubungan dan mencari yang lebih baik. But then again, sebenarnya yang bagaimanakah seseorang yang lebih baik itu? Yang bisa selalu memuaskan kita (baik lahir maupun bathin)? Yang bisa mengerti kita apa adanya? Itu terserah pada kalian semua. Tapi ingat, sudah merupakan kodrat manusia untuk selalu merasa kurang puas!!

Jodoh: Cinta sejati?
Pernah nonton film “Fly Me To Polaris” atau “Anything For You”? Dalam film ini menceritakan tentang seorang pria yang sangat bahagia karena telah menemukan pasangan hidupnya, namun karena sesuatu dan lain hal, si pria meninggal. Karena tidak rela, maka si priapun kembali ke tubuh pria lain sehingga dia dapat bersama kembali dengan sang gadis pujaannya. Halangan dan rintangan dilaluinya, yang akhirnya menyadarkannya bahwa hubungan yang diinginkannya dan telah dirasakannya takkan mungkin kembali. Akhirnya, si priapun merelakan sang gadis untuk tetap meneruskan dan menjalani kehidupan tanpa dirinya. Mungkin dalam film ini tergambar sebuah bayangan cinta sejati. Hmm…tapi mungkin cinta sejati memang tak ada dalam cerita kehidupan ini.

Jodoh: It’s Our Choice?
Apakah pepatah jodoh itu di tangan Tuhan tidak benar? Sama sekali bukan itu maksudnya. Akan tetapi jika perumpamaan tentang ruh yang terbelah dua itu dapat diterima, maka memerlukan banyak usaha, keringat, tawa dan tangis untuk menciptakan sebuah hubungan long lasting.

Beautiful Hope

I wanna a love that I can see
That’s the only kind that means a thing to me
Don’t wanna a love you have to tell me about
The kind of lovin’ I can sure do without

I wanna a love that I can feel
That’s the only kind of lovin’ I think it’s real
Don’t wanna be going by something I heard
‘Coz action speaks louder than words

I wanna a love that is mine
In the rain or even in the sunshine
A love that will keep me warm when it’s cold
The kind of lovin’ that will never grow old

I wanna a love that I can see
The kind of lovin’ you could give to me
The kind of lovin’ to make me melt
The kind of lovin’ can really reveal !

Distorsi Mimpi

Sejatikah pesona yang kau beri penanda indah itu?
Atau kita hanya diperdaya rangsang khayal mimpi mereka?
Mari berdansa dalam dustaku!

Kalau Kau Lupakan Aku

Aku mau kau tahu satu hal…

kalau sedikit demi sedikit kau berhenti mencintaiku
aku akan berhenti mencintaimu sedikit demi sedikit

Kalau tiba-tiba kau melupakanku
Jangan cari aku,
Karena aku pasti sudah akan melupakanmu

Kalau kau putuskan
Untuk meninggalkanku di pantai
Hati di mana aku berada,
Ingatlah,
Hari itu juga,
Detik itu juga,
Aku akan melepaskan tanganku
Dan aku akan berlayar mencari dunia baru
Tapi,
kalau setiap hari,
kau rasa kau memang ditakdirkan untukku
dengan kelembutan yang tak terkira,
kalau setiap hari sebuah bunga
naik ke bibirmu mencariku,
ach sayangku, kekasihku,
dalam diriku semua api itu akan terbalas,
dalam diriku tak ada yang akan padam atau terlupakan,
cintaku hidup dari cintamu, kekasihku,
dan selama kau hidup cintaku akan terus dalam rangkulanmu

Cintaku

Karenamu…
Di taman-taman penuh bunga mekar aku terluka oleh wangi harum musim semi
Aku telah melupakan wajahmu, aku tak lagi ingat tanganmu; bagaimana rasanya bibirmu di bibirku?
Aku telah melupakan suaramu, suaramu yang ceria itu; aku telah melupakan matamu
Seperti bunga dengan wangi harumnya, aku terikat dengan memorimu yang mengabur
Aku hidup dalam pedih yang seperti sebuah luka; kalau kau sentuh aku, maka hancurlah aku
Belaianmu menyelimutiku, seperti tumbuhan merambat di dinding duka
Aku telah melupakan cintamu, tapi aku masih seperti melihatmu di setiap dinding hatiku

Karenamu…
Wangi harum musim panas yang memabukkan kini menyakitkan;

Karenamu…
Aku kembali mencari tanda-tanda yang membangkitkan cinta: bintang jatuh, semua yang jatuh!

Jiwa Tergenggam

Kita bahkan kehilangan senja ini
Tak ada yang melihat kita jalan bergandengan tangan
Aku lihat dari jendelaku
Matahari tenggelam berpesta di puncak-puncak pegunungan yang jauh
Aku mengenangmu dengan jiwaku tergenggam
Dalam kesedihanku yang sudah kau tahu itu
Di mana kau waktu itu?
Ada siapa lagi di situ?
Bilang apa?
Kenapa cinta mendatangiku tiba-tiba di saat aku sedih dan merasa kau betapa jauhnya?
***Terjatuh buku yang biasanya ditutup setelah senja tiba

Dan sweater biruku terlipat seperti seekor anjing terluka di kakiku
Selalu, selalu kau mengabur lewat malam menuju sesuatu yang menghapus senja !

Soneta XVII


Aku tak mencintaimu seolah-olah kau adalah serbuk mawar, atau batu topaz,
atau panah anyelir yang menyalakan api
Aku mencintaimu seperti sesuatu dalam kegelapan yang harus dicintai,
secara rahasia, diantara bayangan dan jiwa
Aku mencintaimu seperti tumbuhan yang tak pernah mekar
tetapi membawa dalam dirinya sendiri cahaya dari bunga-bunga yang tersembunyi;
terima kasih untuk cintamu suatu wewangian padat,
bermunculan dari dalam tanah, hidup secara gelap di dalam tubuhku
Aku mencintaimu tanpa tahu mengapa, atau kapan, atau darimana
Aku mencintaimu lurus, tanpa macam-macam tanpa kebanggaan;
demikianlah aku mencintaimu karena aku tak tahu cara lainnya
beginilah: dimana aku tiada, juga kau,
begitu dekat sehingga tanganmu di dadaku adalah tanganku,
begitu dekat sehingga ketika matamu terpejam akupun jatuh tertidur!

Di Sini Aku Mencintaimu


Sendiri…
Di sini aku mencintaimu dan horison menyembunyikanmu dalam kesirnaan
Aku masih mencintaimu diantara semua yang dingin ini
Hidupku berjalan dengan keletihan, lapar tanpa ada tujuan
Aku mencintai apa yang tak kumiliki…Kau terlalu jauh
Bebanku dihindarkan dengan sinar yang redup
Tetapi malam datang dan bernyanyi untukku
Bulan memutarkan mimpi hari-hari
Bintang-bintang terbesar melihat padaku dengan kedua matamu
Dan sewaktu aku mencintaimu, kuingin menyanyikan namamu…!

Genesis Altenatif

Pada awalnya Bumi dikuasai oleh ras reptil yang berevolusi/bermutasi dari jenis saurus purba seperti Velociraptor yang cerdas dengan karakteristik “kolektif”nya. Ketika evolusi mereka matang, datanglah Ia-Yang-Tidak-Dapat-Disebutkan-Namanya yang mengklaim diri sebagai “Penguasa Tunggal”. Ia ingin mendirikan Kerajaan yang akan menyatukan semesta raya beserta isinya di bawah kuasaNya. Dan dilancarkanlah ekspansi ke wilayah lain di alam semesta.

Sesungguhnya Ras Reptil memiliki sifat dasar parasit, mereka menyedot energi makhluk hidup lain karena darah mereka yang beku tidak mampu menghasilkan energi sendiri. Melalui eksperimen rekayasa genetika mereka melahirkan/mengkloning sebentuk ras budak yang digunakan sebagai pekerja dan penghasil energi bagi mereka.

Dalam ekspansinya, Kerajaan Draconia Raya berselisih dengan sekelompok ras penjarah yang paling ditakuti dari konstalasi Lyra: ras Lyra Berambut Merah. Bersama dengan ras Lyra Raksasa kerabat terdekat mereka, ras Lyra menyerbu Kerajan Draconia Raya di bumi. Beberapa ras Lyra lain yang lebih memiliki kecendrungan damai, seperti ras Lyra Berkulit Gelap, ras Lyra Berwujud Burung yang kebanyakan adalah ilmuwan dan filsuf, dan ras Lyra Berwujud Kucing yang cinta damai, menolak ikut campur dalam perselisihan ini.

Bala Tentara Kerajaan Terang dari Lyra tiba dan mengorbit bumi, siap menyerang. Tetapi ternyata Ras Lyra Berambut Merah tidak mampu beradaptasi dengan cahaya terlalu terang di bumi yang membuat kulit mereka terbakar.

Mereka mengirimkan mata-mata dari Ras Lyra Berambut Merah, seorang perempuan bernama Sophia/Sophea yang turun ke bumi. Bersama putri tunggalnya ia turun ke bumi dan menemukan salah satu makhluk kloning ciptaan reptil bernama Adam (dalam bahasa Yahudi berarti: Ia Yang Dibangun/Direkayasa Dari Tanah).

Atas belas-kasih akan keadaan makhluk tersebut, Sophia mengirim anaknya yang tunggal, Hawa/Siti Hawa/Hawwah/Eve/Evea untuk tinggal menemani Adam, agar kiranya Ia menjadi pembimbing dan guru bagi Adam, menerangi jalannya yang gelap seraya ia merangkak dari budak maha ketidaktahuan menjadi makhluk bebas berkehendak yang merdeka.

Hal itu membuat gusar Ia-Yang-Tidak-Dapat-Disebutkan-Namanya yang kaget ketika tiba-tiba Adam menjadi berakal budi. Dalam ketakutan, Pemimpin daripada Reptil tersebut mematikan Adam.

Hawa yang bersembunyi dari pandangannya datang menghampiri Adam setelah sang pemimpin pergi. Ia berdiri menatap Adam dan jatuh cinta padanya, iapun berujar: “Adam, bangunlah. Aku mencintaimu.” Dan Adam membuka matanya. Hal pertama yang ia saksikan adalah sebentuk makhluk perempuan bercahaya karena kulitnya terbakar matahari dan bersayap. Adam berkata, “Engkaulah yang telah memberikan aku kehidupan, maka bagiku engkau adalah Eve Of Life (Fajar Kehidupan).”

Ia-Yang-Tidak-Dapat-Disebutkan-Namanya bersama rekan kerjanya lantas mendapati Adam ditemani sebentuk makhluk perempuan bercahaya. Setengah ingin tahu apa jadinya setelah interaksi Adam ciptaanNya dengan Hawa, setengah takut kepada amarah bangsa Lyra bila membunuh Hawa, Pemimpin ras Reptil melancarkan propaganda kepada Adam bahwa kiranya Hawa adalah diciptakan olehNya dari tulang rusuk Adam sebagai pendamping dan agar kiranya mereka hidup bahagia di dalam Taman dengan fasilitas penopang kehidupan mutakhir dimana segalanya sudah disiapkan untuk mereka.

Kembali Ras Lyra mengirim mata-mata, kali ini adalah Ia-Yang-Maha-Bijaksana dari seluruh ras Lyra. Ia bernama NHSH atau Nahash, ras Lyra yang mirip ular bersayap dan berbulu burung. Ia dijuluki The Serpent of Wisdom.

NHSH turun dari langit ketika fajar dan mendapat julukan Bintang Terang Di Pagi Hari atau Lucifer. Ia kemudian menyusup ke dalam Eden guna memberikan informasi pada Hawa untuk segera membebaskan diri dari propaganda yang menempatkan dirinya di bawah kuasa Adam karena Hawa di sana menjadi pembimbing bukan pendamping.

Segera setelah mendapat kabar tersebut Hawa berlari mengehampiri Adam hendak memberitahunya tetapi Ia-Yang-Tidak-Dapat-Disebutkan-Namanya datang, serta merta menjadi gusar ketika menyadari bahwa Hawa berhasil disadarkan oleh NHSH. Dalam kekonyolanNya Ia bersumpah serapah mengutuk semuanya. Ia mengutuk Bumi, Ia mengutuk Adam, Ia mengutuk Hawa, dan Ia mengutuk NHSH. Ia merencanakan plot hendak menenggelamkan kebenaran bahwa segalanya adalah setara dan merdeka di dalam hirarki propaganda penjajahan yang ia coba bangun.

Pertama ia mengutuk Adam dan Bumi dan agar kiranya Adam berada di bawah KuasaNya. Lalu ia mengutuk Hawa akan karunia terbesarnya, yaitu pemberi kehidupan dan bahwa Hawa akan hidup di bawah kuasa Adam. Dan ia mengutuk NHSH, sang ular agar kiranya ia bermusuhan dengan keturunan Hawa.

Lalu Hawa dan Adam, ditemani NHSH pergi meninggalkan Taman Eden ke padang pasir Sinai dan NHSH berujar: “welcome to the desert of the real!” Dimana segalanya harus dicapai dengan usaha dan kerja keras. Kemudian keturunan Hawa dan Adam menyemai fajar baru peradaban umat manusia tepat di tengah-tengah peperangan antara ras Reptil dengan ras Lyra.

Ras Raksasa Lyra turun dari langit, beberapa mengendarai kereta berapi, beberapa mengendarai kuda sembrani dengan mengusung pedang berapi. Keturunan Hawa dan Adam menyebut mereka sebagai Dewi/Dewa/Malaikat, beberapa mendapat julukan Anunnaki atau Mereka-Yang-Turun-Dari-Langit-Ke-Bumi atau Malaikat Jatuh karena tidak seperti ras Lyra Berambut Merah, ras Raksasa Lyra tidak punya sayap. Beberapa dari mereka jatuh cinta pada anak-anak manusia.

Lahirlah ras Pra-Skandinavia, bersama manusia lain, ras Raksasa Lyra, dan ras Lyra Berambut Merah di angkasa mereka beraliansi membangun masyarakat merdeka yang menentang idealisme hirarki penjajahan yang dilancarkan dalam propaganda: “Satu Tuhan!” oleh Kerajaan Draconia Raya. Basis mereka dibangun di sebuah pulau besar di tengah laut dimana sekarang terletak gurun pasir Gobi. Sementara itu Ras Reptil terdesak ke benua Antartica.

Menyadari bahwa umat manusia tidak lagi berpihak pada Reptil, mereka berusaha memporakporandakan tatanan sosial yang dibangun dengan cara menginfiltrasi masyarakat dengan menggunakan kemampuan menyamar mereka. Beberapa dari mereka berhasil diketahui setelah gagal menjalani tes untuk mengucapkan kata: “Kininigin”, yang tidak bisa dilafalkan oleh lidah Reptil.

Perang membawa hasil tergusurnya ras Reptil dari permukaan planet bumi, mereka mengungsi ke dalam perut bumi dan ke basis mereka di angkasa raya. Beberapa yang tidak berhasil melarikan diri menyaksikan kiamat datang kepada mereka ketika aliansi Manusia-Lyra melancarkan sebuah senjata super eksperimental ke Antarctica yang membumihanguskan markas besar Reptil dan menyebabkan bumi bergeser dari porosnya.

Ras Raksasa Lyra dan anak-anak mereka, Ras Nordics, bermigrasi ke barat dan mendirikan Negara Skandinavia Raya. Sementara itu Ras Lyra Berambut Merah yang ketika turun ke bumi berwujud sebagai makhluk bercahaya dengan rambut membara laksana api, terus menerus berusaha menolong manusia sepanjang sejarah, tercatat dalam mitologi sebagai Malaikat. Sisa dari bangsa Lyra yang tidak tinggal di bumi, telah pergi ke antara bintang-bintang dan mendirikan basis pertahanan guna bersiap menghadapi Ras Reptil.

Hingga kini, Reptil di bumi meneruskan propaganda sesat mereka pada umat manusia dan berusaha mendirikan Orde Dunia Baru/New World Order/Novus Ordo Seclorum yang mengontrol tiap Individu melalui Agama dan pembentukan Negara.

Kerajaan Alpha Draconia Raya merentang kembali wilayah kekuasaan mereka ke sistem bintang Epsilon Bootes, Altair Aquila, Capella, Zeta Reticuli, dan Rigel dan Bellatrix di Orion, dimana terdapat sebuah koloni tentara hybridasi antara Reptil dan Serangga bersiap untuk menghadapi Ragnarok, yaitu perang hari akhir.

Resensi :
Penghapusan Dunia Kerja
Bob Black
16 hlm - Rp. 1.000,-

“Tidak ada seorangpun yang seharusnya bekerja”, itu kalimat pertama yang tertera dan cukup membuat para workaholic terhenyak. Dalam kalimat-kalimat selanjutnya, Bob Black kembali membuat ternganga banyak orang dan dari berbagai sektor; dia menghajar kaum konservatif yang mengkampanyekan UU hak untuk mendapatkan pekerjaan dengan mengatakan bahwa Paul Lafargue lebih tepat analisanya soal dunia dengan buku “The Right To Be Lazy”, dia menyerang para feminis dengan berkata bahwa para feminis tidak pernah menyoroti masalah kerja selama boss mereka adalah seorang perempuan, dia menjungkirbalikan para Trotskis dengan berkata bahwa yang dibutuhkan bukanlah sebuah revolusi permanen melainkan kegembiraan permanen, dia melecehkan kaum liberal yang menyerukan penghapusan diskriminasi dalam dunia kerja dengan menyerukan penghapusan dunia kerja. Segaris dengan para Surealis (siapa tidak kenal Andre Breton?), Bob Black menginginkan pengangguran total.

Terlalu radikal? Mungkin. Tapi tidak sesimpel itu, kalau kita membaca lebih jauh, kita akan menemukan alasan-alasan yang tepat di balik usulnya yang hampir-hampir tidak masuk akal tersebut, setidaknya untuk di Indonesia. Bob Black menekankan bahwa tidak bekerja bukan berarti tidak melakukan apa-apa sama sekali atau sekedar kemudian menghabiskan waktu untuk bermalas-malasan tanpa melakukan apapun. Sama sekali bukan seperti itu yang ia maksudkan. Tidak bekerja adalah berarti bagaimana kita mengisi waktu kita dengan hal-hal yang benar-benar kita inginkan. Bukankah kita semua selama ini seringkali banyak memiliki rencana-rencana di kepala kita tetapi tidak dapat merealisasikannya dikarenakan beban keharusan untuk bekerja.

Bob Black juga menyarankan agar bentuk kerja dibuat menjadi sebuah bentuk yang sangat menggembirakan, antara lain dengan membuat segala sesuatunya menjadi seperti bermain-main. Ini mengingatkanku pada teori-teori dari Fourrier yang juga menyoroti masalah permainan dalam segala bidang pekerjaan yang harus kita lakukan. Masalahnya, seringkali kita terjebak dengan definisi kata “main” itu sendiri. Memang, main adalah sebuah kata yang berlawanan artinya dengan “serius”, tapi bukankah dengan bermain, kita dapat melakukan segala sesuatunya dengan senang hati?

Apa kita ingat pada masa dimana kita masih kanak-kanak, kita selalu belajar, melakukan sesuatu, dengan satu cara: bermain. Kita mengenal huruf, kita bisa berkarya, kita bisa menulis, bisa membersihkan sesuatu, atau segudang kemampuan lainnya, dan semuanya dilakukan dengan keinginan untuk bermain. Jadi Bob Black dan Fourrier benar, kata siapa kita tidak bisa melakukan sesuatu apabila kita selalu bermain-main dalam prosesnya? Bukankah justru hal tersebutlah yang sangat alamiah dibandingkan dengan tekanan-tekanan yang menghasilkan generasi stress, pasif dan tidak mampu berpikir sendiri?

Bermain dan kebebasan-berdampingan dengan produktifitas adalah sesuatu yang sulit dipisahkan. Dan inilah yang sering tidak disadari oleh banyak orang. Belum lama ini saat salah satu agen kami berdebat dengan seorang Leninis mengenai tidak pentingnya kerja, sang Leninis yang juga mengklaim dirinya sebagai seorang pengikut Marx dan Lenin sejati, tidak menyadari bahwa Marx sendiri pernah berkata, “Kebebasan tidak akan pernah dapat direalisasikan sebelum saatnya lewat dimana buruh tidak lagi perlu bekerja di bawah dorongan kebutuhan dan keperluan eksternal”. Nah…dengar tidak kalian!

Inti yang kutangkap dari Bob Black ini adalah tentang bagaimana mengubah “kerja” menjadi sebuah permainan yang menggembirakan dimana semua orang yang terlibat di dalamnya dapat bersenang-senang. Tapi entahlah bagi kalian semua, apalagi bagi para pecandu kerja di luar sana yang seringkali tidak bisa berpikir dan melakukan sesuatu selain mengabdikan dirinya pada dunia kerja. Sesuatu yang mengingatkanku pada sebuah slogan saat terjadi revolusi Paris 68: “Seorang yang selalu bekerja tidak akan pernah mengerti lagi apa yang harus ia lakukan selain bekerja”. Menyedihkan? Hmm, how poor you are!

Apa Kita Masih Perlu Pemerintah?!

Rasanya hampir semua hal dalam kehidupan, kita urus dan atur sendiri.

Buang sampah kita urus sendiri dengan membayar tukang sampah. Keamanan di sekitar rumah kita atasi sendiri dengan menggaji satpam, hansip, atau melakukan ronda sama-sama warga sekitar di rumah. Saat ke kantor, kuliah, atau kemana saja, kita perlu membayar cepek kepada pak ogah agar bisa berjalan lancar di tikungan. Sopir bis kota, metro mini, dan angkutan umum lainnya juga mengurus sendiri, di mana saja dan kapan saja mereka mau berhenti entah mau menaikkan penumpang bahkan mau istirahat.

Keluarga kalian lagi membuat ataupun merenovasi rumah? Kalian bebas meletakkan timbunan batu, pasir, dan material lain di pinggir jalan meski hal itu mengganggu kendaraan lain yang lewat. Tidak akan ada mantri kontroler yang menegur apalagi memberikan sanksi. Kita merasa gaji kita atau uang saku kita tidak mencukupi? Ya kita harus urus sendiri, supaya cukup atau mencari sendiri cara lain untuk mencari uang atau penghasilan tambahan.

Begitu pula jika kita atau anggota keluarga sakit meski kita termasuk golongan miskin. Mau periksa ke dokter, kita membayar sendiri. Perlu ambulan kita urus sendiri. Mau dirawat di rumah sakit siap-siap membayar sendiri untuk perawatannya. Meninggalpun kita urus sendiri, mulai dari surat RT sampai mengurus kuburan, dan tidak ketinggalan untuk membayar sewa kuburan. Beruntunglah karena kita punya banyak tetangga yang senasib sehingga bisa saling membantu.

Temanku pernah kuliah di luar negeri. Kata dia, banyak hal yang tidak perlu dia urus sendiri. Sampah tinggal dimasukkan ke dalam tas pelastik yang diberikan gratis, diletakkan di depan pintu rumah lalu esok harinya sampah itu sudah raib tanpa dia harus dikenakan iuran dengan tetangga untuk membayar tukang sampah.

Mengendarai mobil rasanya aman karena tertib, teratur dan merasa polisi di mana-mana sehingga tidak berani melakukan pelanggaran lalu lintas, tidak ada pak ogah, tidak ada yang menerobos lampu merah, dan tidak ada kendaraan yang melawan arus. Ongkos parkir hanya dikenakan kalau kita parkir di tepi jalan, sedangkan di halaman toko, di halaman hotel dan mal umumnya gratis.

Kalau jalan aspal di depan rumah berlubang, tinggal menelpon pemerintah kota, terus tidak lama kemudian jalan sudah di aspal. Bahkan, kadang belum sempat menelpon, jalan sudah diperbaiki. Listrik dibayar tiap tiga bulan saking rendahnya tarif listrik. Air mandi dan air minum tidak perlu mengebor sendiri, karena sudah disediakan oleh perusahaan air minum, dan airnya bisa langsung diminum tanpa dimasak dan disediakan gratis. Karena status dia mahasiswa, maka istri dia bebas dari biaya melahirkan dan disantuni sampai anak dia cukup besar. Ketika sakit, dia tidak merasa risau karena mahasiswa dan kaum miskin mendapatkan perawatan gratis di RS yang bagus dan bersih. Sekolah juga tidak bayar.

Pasti akan ada yang bilang, banyak hal itu diberikan gratis karena warga negaranya membayar pajak. Tapi rasanya kita membayar pajak dengan taat. PBB kita bayar, merokok dan makan di restoran kita membayar pajak. Masuk ke toilet umum, kita membayar pajak. Bahkan, setiap hari kita juga membayar pajak tidak resmi pada pak ogah, pada satpam yang baru tersenyum kalau diberikan tip, pada penjaga toilet di mal, pada pegawai urusan KTP, dan seterusnya.

Karena itu, rasanya pemerintah tidak ada. Pemerintah baru terasa ada kalau mahasiswa dan buruh ditangkapi atau dipukuli karena berdemo meminta harga-harga diturunkan. Pemerintah baru ada kalau sedang naik haji atau berkunjung ke luar negeri bersama rombongan besar dengan pelayanan negara. Tetapi pemerintah menghilang kalau berkaitan dengan urusan kesejahteraan dan keamanan rakyat.

Kalo kita mengurus sendiri masalah ketertiban, keamanan, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dan banyak hal lainnya, sedang pemerintah baru hadir kalau mahasiswa dan buruh digebuki, lalu untuk apa pemerintah? Apa kita masih perlu pemerintah?!

Hari Ini Semua Tuhan Mati!

Walaupun imej yang nampak kelihatannya begitu jelas, judul tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai pujian kepada doktrin atheis. Bukan pula sebagai produk idaman para satanis atau pemuja berhala yang belakangan ini jumlahnya semakin banyak.

“Tuhan” yang kumaksud di sini tidak akan ditemukan dalam halaman-halaman kitab suci atau dalam tempat upacara keagamaan (malah, kekuasaan tuhan-tuhan ini telah jauh memudar dari ingatan dan diparadekan selama seminggu sekali oleh para pengikut setia yang jumlahnya semakin sedikit).

Tuhan-tuhan ini tidak membawa kebahagiaan, perdamaian, atau kenyamanan. Sebenarnya, tuhan-tuhan ini malah membawa kita menuju jurang kehancuran - mengajarkan kita sebuah keputusasaan baru yang sebelumnya tidak dikenal oleh kemanusiaan. Sebagaimana mereka takut untuk menyadari bahwa semua anugerah peradaban dan teknologi yang dilimpahkan oleh tuhannya tidak lain hanyalah keputusasaan dan kotoran yang disepuh di atas emas. Dalam pencarian kekuatannya mereka telah membutakan dirinya dari kenyataan pahit; dimana tempatnya bersimpuh itu hanya akan memberinya kesedihan dan penderitaan.

Aku tidak mempunyai solusi yang mudah, dan aku tidak menawarkan doktrin untuk mengubah hidup. Tapi keyakinan budaya ini harus dihancurkan. Hari ini, semua tuhan mati. Ini bukan aba-aba untuk mengangkat senjata, atau sebuah seruan untuk pembebasan. Aku tidak meminta kalian untuk menghidupi hidup kalian - dalam kemarahan, kesedihan, dan kesengsaraan. Aku hanya meminta untuk menantang tuhan-tuhan mereka. Menghidupi hidup yang dimusuhi oleh keyakinan mereka.

Mungkin kalian akan menyadari bahwa hidup akan lebih baik tanpa harus berlutut memohon do’a kepada tuhan yang sama sekali tidak peduli dengan dunia. Hidupi hidup agar setiap hari bisa dihabiskan untuk mewujudkan dunia dimana kalian berada, mewujudkan komunitas hidup dimana kalian berasal menjadi tempat yang lebih baik. Ludahi wajah tuhan-tuhan mereka. Wujudkan hidup kalian supaya yang lain bisa melihat bahwa ada lebih dari satu cara yang baik dan benar untuk hidup.

UNDYING
Explanation of “This Day All Gods Die !”

Resensi Telat “Ada Apa dengan Cinta”

Agak telat film ini kuresensi karena memang aku tidak mau merelakan beberapa puluh ribu uangku untuk kepentingan pengusaha bioskop 21 yang memonopoli perfilman di indonesia dan pengusaha VCD asli yang terus-terusan mengkampanyekan “tolak pembajakan” demi akumulasi modalnya. Tapi akhirnya aku berhasil membujuk temanku yang memang dia fansnya Dian Sastro, sang simbol korban eksploitasi iklan produk kecantikan itu, untuk meminjamkan salah satu koleksi film-film yang dibintangi si Dian Sastro itu.

Kenapa aku ngotot mau menonton film ini? Karena aku lihat efek dari film ini yang sedemikian hebatnya, tidak hanya dari segi ekonominya saja tapi juga bagaimana film ini bisa mempengaruhi perilaku para penontonnya mulai dari gaya bicara si Cinta yang gaulnya nge-gank, sikap Rangga yang pendiam dan cool, sampai kabarnya banyak anak-anak SMU yang tiba-tiba menjadi suka membaca buku sastra.

Berkat embrio kebangkitan film nasional, yang salah satunya ditandai dengan film AADC ini, para guru yang dulu sudah hampir putus asa itu bisa berbahagia karena tanpa pernah disangka-sangka, ternyata film semacam inilah yang bisa menstimuli siswa untuk mulai belajar menyukai sastra. Memang, kalau kita bermaksud untuk membuat sebuah kesadaran sejati dalam diri seseorang (bukan yang palsu loh, seperti yang diakibatkan proses penggelembungan massa), kita harus bisa memulainya dari menggapai sisi pragmatis orang tersebut. Dalam hal ini, para sastrawan telah berkonspirasi dengan para pembuat film untuk menggambarkan indahnya kisah cinta masa muda dengan menggunakan bahasa-bahasa yang nyastra melalui medium yang paling populer yaitu film.

Kalau mau diperhatikan dengan lebih jeli kita akan mendapatkan gambaran keseluruhan puisi-puisi Chairil Anwar dalam karakter Rangga. Apa yang ada di dalam puisinya Chairil Anwar bisa kita temukan di dalam diri Rangga; mulai dari sikapnya yang individualis, kekokohan hati, idealisme tanpa kenal kompromi, jalan hidup yang non-konformis, dll; semuanya ada di sana tanpa kita sadari.

Sementara itu, tokoh Cinta dan kawan-kawannya hanya menampilkan karakter anak muda biasa yang terlalu memperlakukan hidup ini dengan indahnya keceriaan masa remaja, yang mudah terdistorsi budaya pop karena memang sejak awal tidak punya landasan ideal untuk menawarkan bargain position yang kuat. Anyway, aku banyak sekali menemukan gaya mereka yang banyak diikuti teman-temanku; mulai dari gaya berpakaian, joget dengan teman-teman se-gank, sampai dengan gaya bicaranya seperti “Iiihh, bagus banget!” lengkap dengan intonasinya yang baik dan benar.

Terus terang saja, menurutku best part dari film ini adalah scene dimana Cinta membacakan puisi Rangga sambil diiringi permainan gitar di sebuah pub. Keren euy, ingin sekali aku membuat eksperimen musikal puitis dengan konsep gabungan emotionally tendencies hardcore dan political spoken words, hampir miriplah seperti yang dilakukan oleh Cinta tapi tentu saja apa yang ada di otakku jauh lebih cadas. Kenapa tidak pecahkan saja gelasnya, biar tidak pada minum sekalian?!

Kalau melihat ending film ini, sepertinya ada kemungkinan bakal menyusul sekuelnya. Sebutlah, kira-kira nanti akan muncul judul-judul seperti “Ada Apa Dengan Rangga” atau “Ada Apa Dengan - Ada Apa Dengan Cinta”. Biasalah, di sini duit lebih banyak berbicara.

Cinta

Kau bertanya padaku, “Apa itu cinta…?”

Cinta. Kata itu mengandung berjuta makna. Sebuah kata yang dapat membuat hati tergetar kala mendengarnya. Sebuah kata yang membuat banyak manusia melepaskan pilihan-pilihan hidup. Sebuah kata yang dapat mengabulkan segala permintaan dari yang dicintainya. Sebuah kata yang dapat membuat seseorang tersenyum kala mengangankannya. Sebuah kata yang dapat membuat seorang remaja tanggung menjadi pujangga dadakan. Tapi hanya sedikit manusia yang dapat memahami hakikat cinta.

Tergantung siapa yang berhadapan dengannya, begitu pula definisi yang dibuatnya. Siapa saja berhak menggunakannya sesuai dengan definisi yang dipahaminya tentang kata cinta tersebut. Banyak orang mencoba mendefinisikan arti kata cinta. Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab, mereka yang bermain dengannya menyebutnya sebuah permainan, mereka yang tidak memilikinya menyebutnya sebuah impian, mereka yang sedang bercinta menyebutnya takdir. Sebanyak itu pulalah ketidakpuasan melanda mereka yang mencoba menerjemahkannya.

Sementara bagiku, Cinta adalah…

Cinta adalah memberi, dengan segala daya dan keterbatasannya, seorang pecinta akan memberikan apapun yang sekiranya bakal membuat yang dicintainya bahagia. Bukan balasan cinta yang diharapkan bagi seorang pecinta sejati, meski itu menjadi sesuatu yang melegakannya. Bagi pecinta sejati, senyum dan kebahagiaan yang dicintainya itulah yang menjadi tujuannya.


Cinta adalah menceriakan, seperti bunga-bunga indah di taman yang membawa kenyamanan bagi yang memandangnya. Seperti rerumputan hijau di padang luas yang kehadirannya bagai kesegaran yang menghampar. Seperti taburan pasir di pantai yang menghantarkan kehangatan seiring tiupan angin yang menawarkan kesejukan. Dan seperti keelokan seluruh alam yang menghadirkan kekaguman terhadapnya.

Cinta adalah berkorban, bagai lilin yang setia menerangi dengan setitik nyalanya meski tubuhnya habis terbakar. Hingga titik terakhirnya, iapun masih berusaha menerangi manusia dari kegelapan. Bagai sang Mentari, meski terkadang dikeluhkan karena sengatannya, namun senantiasa mengunjungi alam dan segenap makhluk dengan sinarannya.

Seperti Bandung Bondowoso yang tidak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sangkuriang tidak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibunya sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia berawal dari cinta.

Tapi ada satu hal yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta. Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan.

Jika kita kehilangan cinta, pasti ada alasan di baliknya, walaupun alasannya kadang sulit untuk dimengerti. Namun kita tetap harus percaya bahwa ketika cinta itu telah hilang, ia telah siap memberi yang lebih baik, yang mungkin belum bisa kita dapatkan.

Dongeng Perselingkuhan Dari Langit

obrolan tengah malam…waktunya manusia tidur.

Semestinya waktunya perang bagi hantu dan malaikat. Mereka saling memamerkan keberhasilannya hari ini pada manusia.Tapi sekarang, mereka ternyata bicara tentang sekolahan. Topik yang manusiawi tapi lagi diminati oleh keduanya dengan sama besarnya. Aneh.

“Kalau aku punya sekolahan, semua lulusannya akan menjadi hantu paling menakutkan bagi manusia, binatang, bahkan malaikat sekalipun!” kata Hantu dengan nada dan senyum sinisnya. Matanya sambil menatap tajam ke arah Malaikat yang dengan lemah lembut mengelus-ngelus sayap-sayap putih panjangnya yang telah membawanya terbang kesana kemari seharian ini. Malaikat tiba-tiba menatap ke arah hantu sambil tersenyum, dan bilang, “Kalau aku punya sekolahan, semua lulusannya akan menolak menjadi malaikat! Karena mereka semuanya ingin menjadi Tuhan…!” Malaikat lalu bangkit dan berjalan menjauh dari situ.

Hantu yang terlonjak kaget begitu mendengar jawaban tadi langsung berdiri dan berjalan mengejar langkah Malaikat. “Kenapa mesti jadi Tuhan? Bagaimana kamu tahu kalau Tuhan mau bagi-bagi ilmunya dengan kita? Ach, alangkah bahagianya aku kalau bisa jadi Tuhan!” mata Hantu langsung menerawang jauh sambil senyum tipis perlahan tampak di wajahnya. Tiba-tiba terdengar suara Malaikat yang langsung membuyarkan semua khayalan Hantu, “Berarti, takkan ada yang namanya sekolah Hantu ‘kan? Pendirinya saja ingin masuk sekolah Malaikat juga!”

Hantu langsung cemberut gila-gilaan mendengar kata-kata Malaikat tadi! Tapi dia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya sendiri sambil menatap Malaikat yang menghilang ditelan tebalnya awan dini hari…

Peraduan Hantu yang lembut imut. Sebentar lagi waktunya turun ke bumi menjelang.

Hantu sama sekali tidak bisa beristirahat dengan tenang. Sibuk melamunkan kata-kata Malaikat yang membuyarkan semua keinginannya membuat Sekolah Hantu itu. Bukan, dia bukan memikirkan bagaimana cara membalas Malaikat, bukan itu…Hantu baru sadar, kalau ternyata dia mempunyai keinginan itu. JADI TUHAN. Berarti, seharusnya dia bisa berkomplot dengan Malaikat untuk menggulingkan Tuhan…Aha!

Dengan serius Hantu mendengarkan semua rencana Malaikat dengan sekolahannya nanti. Hantu sebenarnya sudah tidak begitu tertarik dengan itu semua, dia sekarang malah ingin membujuk Malaikat untuk bersekongkol dengannya untuk menggulingkan Tuhan. Tapi, bagaimana ya caranya supaya Malaikat setuju dengan idenya itu?

Tiba-tiba Malaikat menyentuhnya lembut. Begitu lembut hingga hampir saja Hantu tidak menyadarinya kecuali semilir angin luar biasa dingin yang melingkupi wajahnya…Ach! Hantu jadi jengah dibuatnya. Malaikat kemudian berkata lagi, “Kenapa kamu ingin menggulingkan Tuhan? Akupun ingin melakukannya, tapi tidak dengan kamu…!”

Hantu tidak mampu mengeluarkan suara apa-apa, dia sebenarnya kaget luar biasa namun sekaligus ingin tahu alasan Malaikat ingin menggulingkan Tuhan. Lalu didengarnya Malaikat berbisik, “Aku ingin merasakan apa itu Cinta yang kata Tuhan berbeda antara kita dan yang dimiliki manusia. Itulah yang membuatku ingin menggulingkan Tuhan…!”

Cinta!? Bah! Kenapa itu lagi, itu lagi! Hantu sudah bosan luar biasa mendengar satu kata itu diperdengarkan oleh manusia setiap saat. Ini untuk cinta, itu untuk cinta, semua untuk cinta! Ih! Apa sih istimewanya cinta, hingga Malaikatpun mau bersusah payah menggulingkan Tuhan hanya sekedar untuk bisa merasakan apa cinta itu?! Dengan wajah cemberut Hantu turun ke bumi…

Kali ini Hantu mencoba mengamati lebih teliti semua yang dilakukan manusia untuk yang namanya cinta ini. Hantu melihat seorang pria melakukan korupsi di kantornya karena dia bilang dia cinta keluarganya dan ingin melihat mereka bahagia saat dia meninggal nanti. Hantu juga melihat seorang anak yang setengah mati berusaha berbohong dengan orang tuanya karena si anak bilang dia cinta keduanya dan tidak ingin menyakiti hati mereka. Hantu malah jadi bingung (hanya dia gengsi mengakuinya!). Apa cinta ini saat dilihatnya seorang presiden menandatangani perjanjian perijinan pembangunan pertambangan di negaranya oleh negara lain dengan alasan dia cinta rakyatnya dan tidak ingin melihat mereka menderita karena perekonomian mereka terpuruk beberapa tahun ini. Tapi Hantu malah lebih bingung lagi melihat seorang pembantu membagi sebuah ginjalnya pada majikannya yang katanya amat dicintainya itu. Ih, cinta rumit luar biasa ternyata! Hantu makin berkerut-kerut wajahnya.

Hantu capek! Cepat dia kembali ke langit dan memutuskan menyudahi saja pekerjaannya hari ini di bumi.

Malaikat dengan genitnya menunggu Hantu datang malam itu. Wajah cemberut Hantu lucu sekali!

“Aku sudah melihat cinta di dunia seharian kemarin”, Hantu langsung melaporkan hasil penemuannya pada Malaikat. Malaikat hanya memandang sekilas ke Hantu, tersenyum dan tetap menatap lurus-lurus ke Hantu. “Dan aku sama sekali tidak melihat pentingnya memiliki atau merasakan cinta ini…untuk apa? Hanya sebuah alasan buatan manusia untuk mendapatkan apapun yang mereka inginkan di dalam hidup mereka!” Malaikat tertawa kecil. Hantu mendelik sewot dan menatap tajam ke mata Malaikat. Tiba-tiba Malaikat berkata, “Tapi kamu tetap belum tahu apa sebenarnya cinta itu ‘kan?”…Hantu kesal! Langsung dia membalikkan tubuhnya dan mau langsung pergi jauh-jauh dari situ saat Malaikat sudah berdiri tepat di depannya sambil menatap lurus-lurus ke matanya!

“Kamu pernah berpikir untuk menyakiti aku?”

“Untuk melumpuhkanku hingga kamu bisa berkuasa penuh atas bumi, langit dan semua kehidupan ini?”

“Pernahkah kamu membayangkan kalau Tuhan tidak menciptakanku, kamu akan sendirian menjadi hulu balangnya yang bertugas menggoda manusia namun tanpa lawan yang setara?”
Malaikat masih melihat dalam-dalam ke mata Hantu, dan Hantu hanya sanggup menatap tanpa bersuara sama sekali. Angin dingin sejuk menerpanya…begitu sejuk hingga Hantu hampir saja terlena dan tertidur!

Hantu! Kamu jatuh cinta padaku, Dungu! Malaikat tersenyum lebar dan memeluk Hantu erat erat…sambil berbisik, “cinta yang ini kamu belum tahu ‘kan?”

Malaikat tidak pernah membutuhkan sayap untuk di bumi, andie…andie membutuhkan sayap untuk terbang… :)

Jangan Dibuang Begitu Saja!

You Gotta Think For Yourself

Berpikirlah untuk diri kalian sendiri, itulah kata kuncinya. Sadari bahwa kita memang hidup untuk diri kita sendiri. Betul kata mereka yang bilang kita hidup di dunia ini tidak sendirian, tapi sejatinya kita memang hidup sendiri ‘kan? Kita lahir tidak mengajak orang lain, begitu pula kalau kita mati nantinya. Determinasi diri, untuk itulah anarki ada. Jalan terus, tetap berjuang. Karena sang waktu terus melaju ke depan dengan gagahnya, tanpa pernah mau sedikitpun menoleh ke belakang. Ia tetap menghitung 1, 2, 3, dan seterusnya. Jangan pernah berharap ia akan sudi bergerak mundur.

You Don’t Need A Uniform

Aku percaya setiap manusia adalah pribadi yang unik. Seperti halnya sidik jari, tidak ada satupun yang sama. Kita tidak butuh penyeragaman atau sentralisasi hidup. Berbagilah segala perbedaan itu dengan orang lain yang berbeda pula, lihatlah bagaimana orang lain memandang hidupnya dan biarkan orang lain memahami bagaimana kita memandang hidup ini. Untuk perbedaanlah kita hidup, demi pluralitas kita menciptakan harmoni di muka bumi ini. Hapus segala macam kebencian atas perbedaan itu. Lupakan nasihat ibu kalian yang membenci orang itu, bungkam mulut ayah kalian yang membenci orang ini. Jangan ikut-ikutan, jangan mau menjadi domba. Nikmati indahnya perbedaan diantara kita, sebagaimana kita mengagumi keanekaragaman warna pelangi.

Or Anything Else

Kita juga tidak butuh prasangka atau segala macam hegemoni pikiran yang dipaksakan ke kepala kita. Kita tidak perlu memandang curiga dan menanam benih kebencian kepada mereka yang berbeda dengan kita. Kita juga tidak perlu patuh pada standar nilai atau seperangkat aturan dan norma yang dibuat oleh orang-orang masa lampau yang sudah sekian-entah-berapa tahun membusuk di liang lahat. Acungkan jari tengah dan bilang “persetan” untuk budaya dan tradisi yang katanya harus dilestarikan itu, selagi kita masih bisa memilih sendiri apa yang terbaik untuk diri kita dan kemudian mulai membuat surga dalam hidup kita sendiri saat ini, bukan demi nanti, bukan pula demi mereka.

Yeah, The Kids Were Having Their Saying

Kita punya hak untuk berbicara dan mengemukakan pendapat, aku yakin itu. Kitalah yang benar-benar tahu dan mengerti apa yang kita rasakan dan alami sendiri, bukan para pengamat profesional atau mereka yang mengaku lebih banyak makan asam garam itu. Kita punya mimpi tentang bagaimana kehidupan ini akan berlangsung, kita punya keresahan tentang bagaimana busuknya dunia ini. Kita punya hak untuk mewujudkannya, kita punya kemampuan untuk mengatasinya. Karena kitalah pewaris sah kehidupan masa depan. Hanya diri kitalah dan sang waktu yang tahu dengan pasti berapa nilai hidup dan mimpi kita. Kita tidak butuh kurator mimpi. Ini hidup kita, ini mimpi kita. Jangan gadaikan demi apapun yang mereka berusaha tawarkan atau paksakan kepada kita. Tetaplah bermimpi dan mulailah menghidupkan mimpi…(he he terus jadi distorsi mimpi deh!)

Mau Apa Sekarang?

Tepat ketika aku mengalami sebuah kegagalan, datang beberapa sobatku yang membuat gurauan lucu mengenai kesalahan yang sudah kulakukan sehingga aku bisa gagal. Heran, kok bisa-bisanya mereka bersuka cita di atas penderitaan orang lain. Ach, itu wajar kok karena mereka tidak menyertakan “gunakan otak” dalam etika peledekan mereka itu. Mereka terus-terusan melontarkan gurauan menyakitkan itu secara repetitif. Tawa mereka memang harus dibayar mahal, yaitu perasaanku yang mereka tindas. Cemoohan mereka tentang kebodohanku itu tidak ada habis-habisnya mereka kemukakan, kebodohan yang kulakukan di masa lalu dan penundaanku untuk menggapai peluang yang sudah terbuka di depan mata itu.

Lalu, apakah dengan demikian aku bisa terprovokasi dengan mudahnya? Heh, jangan harap. Kalau sudah dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa kulakukan coba? Sekedar menyesal atau meratapi jelas tidak akan pernah bisa merubah kenyataan. Berdo’a mengharap segalanya berubahpun sudah pasti bukan solusi yang tepat, semenjak tidak ada satupun orang di dunia ini yang bisa membuktikan keefektifitasannya secara ilmiah. Memang sih ada beberapa orang yang mencoba, tapi tetap saja sama juga bo’ong kalau mereka masih menggunakan argumen-argumen transedental dan selalu saja mengatasnamakan “Sang Maha Kuasa” yang tak terbantahkan itu…!

Sudahlah, hadapi saja apa yang ada sekarang. Karena apapun yang kita lakukan saat ini sudah pasti bisa mempengaruhi apa yang akan terjadi di masa mendatang, bukan masa lalu. Iya benar, bukan masa lalu karena sampai kapanpun sang waktu tidak akan pernah mau mengiba dan merelakan dirinya mundur ke belakang agar kita bisa mengulanginya lagi dari awal. Aku hidup untuk saat ini, itu sudah pasti. Aku tidak hidup untuk masa lalu, itu apalagi. Mau sampai kapan sih kita terus-terusan mengagungkan kejayaan romantis masa yang telah berlalu itu? Hidup ini terlalu pendek untuk bisa disia-siakan dengan keputusan yang salah.

Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, tapi jangan mau diperbudak olehnya. Daripada nanti kita terperosok ke dalam lubang yang lebih dalam, mending juga lupakan saja segala ketololan-yang-berbau-khas-indonesia-sekali itu. Lebih baik mengkonsentrasikan diri sendiri kepada apa yang ada dalam hidup kita ini, daripada meremehkan potensi berharga yang dimilikinya. Kalau tidak hati-hati, kita bisa terasing dengan diri kita sendiri nantinya (like me, rite…!)

Persetan dengan semua badut-badut heartless itu!

Get Out Of Hell, MTV !

Fenomena yang ada di masyarakat, khususnya sih anak-anak muda seperti diriku, telah dibutakan nalarnya dan tidak jarang banyak yang menjadi apolitis. Aku yakini peran TV sebagai racun masyarakat di sini tidak kecil, apalagi dengan hadirnya satu stasiun televisi alat propaganda pemerintah dan beberapa buah stasiun televisi swasta ditambah serbuan MTV yang membuat anak-anak muda di sini mengklaim dirinya sebagai MTV Generation, hahaha… lelucon sepanjang masa! MTV telah mendiktekan kepada anak-anak muda apa yang seharusnya dijadikan pola pikir, mereka telah memberikan standar bagi nilai estetika menurut apa yang yang mereka pikir akan menghasilkan uang, semua itu dilakukan untuk menambah keuntungan yang akan masuk ke kantong para korporat. MTV telah menghancurkan imajinasi manusia dan digantikan dengan pola pikir yang konsumtif dan berorientasi ke kejayaan kapitalisme dunia barat, mungkin mereka (sangat) perlu mengkonsumsi LSD (kertas kecil yang ajaib ini bisa dibeli di bd-bd Jakarta dengan nama Elsid -Viva Warhol & Hoffman!) untuk mengembalikan/ menstimulasikan daya imajinasinya. Daya kreasi untuk mencipta diubah menjadi keinginan untuk membeli karena mereka secara konstan dicekoki dengan sampah tidak berotak yang bersalut gula dan juga turut menyuburkan fetish commodity (pemberhalaan komoditas) di masyarakat. Mereka (MTV Generation maksudnya, hahaha!) ibarat tokoh utama dalam kisah legenda Doctor Faust yang menggadaikan nyawanya pada setan Mephistopeles demi sukses hidupnya dalam salah satu karyanya J.W.von Goethe.

“How far will you go, how low will you stoop. To tranquilize our minds with your sugar-coated swill. You’ve turned rock and roll rebellion into Pat Boone sedation. Making sure nothing’s left to the imagination. MTV get off the air, NOW!” - Dead Kennedys

Sedikit ‘optimisme’ Menjelang Kematian

“Life is hard and so am I. You better give me something so I don’t die”. - Novocaine For The Soul, Eels.

Apa sih enaknya terjebak dalam satu dunia sementara masih ada dunia lain yang bisa kita masuki, tidak hanya bawah atau atas tanah saja, mending buat dunia kita saja sendirian. tidak konsisten? memang! Dan aku adalah orang yang mengharamkan konsistensi.


He…he…di situlah letak indahnya hidup kita. Aku rasa hidup kalau lempeng-lempeng saja kayaknya tidak enak lagi, seperti tidak merasa hidup gitu. Aku mau merasakan indahnya menikmati detik-detik sisa hidupku di dunia ini dari berbagai sudut pandang dan dengan cara yang kusuka. Sama seperti kebenaran, pilihan juga memiliki banyak wajah (tidak terhitung jumlahnya), tergantung darimana dan bagaimana kita memandang dan menjalaninya.

Dinamika dialektis hidup kita ditentukan oleh diri kita sendiri. Biarkanlah proses yang akan menjawabnya. Lagian, bagiku konsistensi itu adalah semacam usaha pengkultusan, seperti melembagakan ketidakpastian.

Aku sadar. INILAH YANG BENAR-BENAR KUINGINKAN. Aku ketagihan ingin merasakan semangat yang baru setiap harinya. Sensasi yang kudapat ketika pertama kali merasakan semangat baru itulah yang ingin kurasakan setiap harinya. Selalu ingin menemukan sesuatu yang baru setiap harinya. ibarat cinta pertama di setiap saatnya. Mungkin bagi orang lain tidak baru, tapi setidaknya bagiku itu baru. Merasakan sendiri jauh lebih baik daripada sekedar mengetahuinya dari kacamata orang lain.

Setidaknya sampai nanti aku mati…!

Proletar Vs Satellite

Tidak ada perubahan yang signifikan dari kedua band ini, selain perkembangan dialektis yang memang wajar. Masih seperti dulu, Satellite tetap dengan Sweden hc/punk-nya dan Proletar yang keukeuh mengusung genre crust/grind.

Semenjak album ep-nya yang berjudul Amoral dirilis, Satellite makin menunjukkan konsistensinya dengan berkomitmen untuk tetap menggunakan “bahasa Indonesia” dalam semua lagu-lagunya. Wow, sebuah kecenderungan bagus yang jarang ada di scene lokal nih. Biasanya, banyak band-band dalam negeri yang ngotot menggunakan lirik lagu “berbahasa Inggris” walaupun kemampuan berbahasa bulenya bisa dibilang lumayanlah. Kalau sudah begini merekapun bersembunyi dibalik alasan “biar bisa go international” atau “karena bahasa Inggris adalah bahasa yang universal, jadi biar kami bisa memperkenalkan hal-hal yang diangkat ke khalayak yang lebih luas”. Ehm, bagus deh kalau begitu, siapa tahu saja Marvin the Martian dan ET bisa mengerti dengan apa yang kalian sampaikan. Go ahead earthlink, make my day!

Aku hanya bisa bilang, “mungkin ini sebuah konspirasi internasional lagi, mereka mau menindas lingua franca kita, yang merupakan sebuah hegemoni linguistik”.

Untuk Sebuah Nama

Kekasihku membantuku melewati masa susah
Kekasihku mendengar keluh kesahku
Kekasihku mencintaiku lebih dari yang lainnya

Kekasihku ikut tertawa dikala aku gembira
Kekasihku meneteskan air matanya jika aku bersedih
Kekasihku meringankan beban berat di bahuku

untuk sekalinya dalam hidupku
ada yang ingin kukatakan sekarang
sebentuk cinta telah dianugerahkan

belum kering bibir ini
ketika kukatakan, “aku sayang kamu”

masih terngiang di telinga
ketika kudengar, “akupun sayang kamu”
malam itu kita saling memahami perasaan

bukan kuasaku untuk bisa membuktikan kesungguhan hati
menduga kemungkinannyapun ada di luar jangkauanku
tapi sang waktu pasti akan mengizinkan sebagian dirinya
agar bisa kugunakan untuk merealisasikan kata-kata

jika malam itu berarti aku telah memiliki kamu
wajar kalau esok hari aku takut kehilangannya
meskipun kamu tak selalu ada di sisiku
kurasakan refleksinya ada di bayang hatiku

kalau suatu waktu kamu ingin menghapusku
dari lembaran cerita hidup dan keutamaan jiwa kamu
bawalah serta rasa cinta yang pernah kamu beri
karena meninggalkannya hanya akan menyiksa batinku

semoga hubungan ini hanya akan menjadi fajar hidup kita
bukan senjakala menjelang malam yang kelam
semoga masa-masa indah ini akan lebih dari sekedar bayangan masa lalu
melainkan menjadi bagian dari satu jiwa yang utuh…

Me, Myself and Junkies!

Kenapa sebahagian orang meragukan bahwa kemanusiaan seseorang ditentukan oleh ketergantungan dia pada obat-obatan atau yang lebih tenar istilahnya NARKOBA !!!??

Beberapa bulan terakhir ini aku banyak bertemu dan bergaul dengan orang-orang yang melakukan kesemua hal di atas dan mereka tidak pernah membuatku sedikitpun meragukan nilai kemanusiaan mereka. Karena mereka tetap tangkas berdiskusi, peka terhadap lingkungan sekitar dan berusaha keras untuk tidak merepotkan apalagi mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka untuk ikut-ikutan mengkonsumsi semuanya itu. God, how I love most of them dearly!

Anehnya, yang selanjutnya kusadari bahwa, saat seseorang menjadi pemabuk atau pecandu misalnya, kemudian dia mempunyai hubungan cinta dengan seseorang yang bukan pecandu, mereka melihat diri mereka sendiri seperti bukan manusia! Mereka merasa tidak layak untuk mendapatkan cinta tersebut, atau merasa pasangannya terlalu baik untuk mereka serta bahkan akhirnya memutuskan hubungan tersebut walaupun pasangannya sama sekali tidak bermasalah dengan hal tersebut. Kenapa?

Kalau kita percaya cinta itu buta dan untuk semua orang, kenapa saat cinta itu menyengat dua orang manusia yang pecandu dan bukan pecandu…cinta tiba-tiba dibungkam kekuatannya?


Marilah kita salahkan masyarakat yang membuat seorang pecandu kehilangan harga dirinya yang memang sudah kehilangan diri mereka sendiri…sebagai masyarakat, yang umumnya langsung beranggapan para pecandu sebagai sampah, mereka sendiri bukanlah para pemungut sampah yang baik! ANJING!

Asal kalian tahu, seorang pecandu tidak akan datang meminta pertolongan orang lain jika memang dia tidak sampai di ambang batasnya (bahkan seringkali mereka sendirilah yang memutuskan untuk menyudahi perjuangan mereka untuk berhenti dengan mencabut nyawanya sendiri, iya ‘kan?)

Dan buat semua teman-temanku yang pecandu, ada saat dimana aku harus pergi meninggalkan beberapa orang dari kalian, dan mungkin akan sering kutemukan saat-saat dimana aku tidak ingin menggantikan kalian semua dengan orang lain manapun di dunia ini!

-Can you tell the difference between a junky and a liar?-

Peperangan antara “OTAK” dan “HATI”

“Itu urusan “Otak” loe!” begitu katanya.
Bagaimana loe mau nulis tentang kesetaraan kalau loe sendiri masih punya pembantu di rumah loe?
Bagaimana loe mau nulis tentang iklan dan efeknya yang membuat orang konsumtif kalau loe sendiri masih menghabiskan begitu banyak uang untuk belanja berbagai macam barang tidak penting itu?
Bagaimana loe mau nulis tentang perlakuan manusiawi pada binatang kalau di rumah loe sendiri loe masih memelihara ikan hias, anjing atau bla bla bla…?
Bagaimana loe mau nulis tentang Dunia Bawah Tanah kalau loe hanyalah seseorang dari Dunia Atas Tanah?

Hehehe…! Kasihan “Otak” gwe, dia mesti menjawab semua pertanyaan di atas sementara “Hati” gwe cengengesan tidak peduli. Inilah perang yang setiap detik dalam hidup gwe tidak kunjung selesai apalagi berhenti, bahkan bila gwe tertidur sekalipun! (Mungkin itu juga sebabnya gwe terkena insomnia kadang-kadang)

“Hati” gwe menang kali ini, karena dia dengan cueknya memutuskan membuat semua tulisan di atas untuk menunjukkan proses yang sudah gwe capai sejauh ini. Walaupun Otak gwe bolak-balik mengingatkan dengan nada halus bahkan kasar dan berisik sekalipun betapa tololnya gwe terlihat dalam tulisan di atas! Hehehe!
Mau tahu tidak kata “Otak” gwe kalau lagi berantem dengan “Hati” gwe? Kayak begini nih…

“Taela! Ngapain sih nulis begituan? Semua orang juga sudah tahu lagi!”
“Ciee! Mau dibilang pintar? Politis? Alah! Sudah deh jangan jadi pembohong!”
“Nulis artikel itu ya jangan subyektif terus! Sekali-kali obyektif donk?”
“Loe siapa sih nulis-nulis begituan? Ngerasainnya saja loe belum pernah!”

Gwe tidak pernah membela salah satu dari mereka. Gwe hanya menuruti sang pemenang, yang lebih sering juga berganti-ganti. Kadang “Hati”, kadang “Otak”. Bahkan pernah keduanya kalah! So stupid…he he he!
Gwe tidak pernah merasa benar dan gwe juga tidak pernah merasa salah. Gwe berdiri di atas opini gwe sendiri sebagai hasil dari peperangan tadi. Apa yang gwe katakan detik ini, besok mungkin gwe ubah lagi atau bahkan tidak ingat sama sekali. Pelupa? Bisa, namun lebih tepatnya pemenang perang antara “Hati” dan “Otak” gwe sudah berganti lagi, Kawan! Eits, gwe juga bisa menjadi seorang pembohong yang lihai loh…! Makanya gwe juga harus pintar untuk mencari kesalahan “Otak” dan “Hati” kalian kalau kalian meragukan gwe. Ha…!!??

Saat “Hati” gwe menginginkan sesuatu dan “Otak” gwe menentangnya (seperti posting artikel tidak jelas gini) gwe bersyukur sekali kalau gwe masih mempunyai nyali. Dan nyali datangnya dari “Hati”, bukan dari “Otak”. Iya ‘kan? Karena kalau gwe pikirkan (berarti pake Otak ‘kan?) apa yang bakalan dikatakan orang tentang artikel ini pasti gwe sudah mengubur dalam-dalam keinginan gwe ini. Untuk apa membuka ketololan diri sendiri dengan mengakui betapa tidak tahunya gwe tentang apa yang gwe tulis selain menuruti kata “Hati” gwe saja saat ini?

Gwe jadi ingat pertama kali gwe menulis! Waktu itu juga modalnya hanya keinginan. Gwe ingin menumpahkan apa yang gwe pikirkan tentang banyak hal di dalam hidup gwe, gwe ingin belajar membuat media gwe sendiri, gwe ingin bicara dengan lebih banyak lagi orang yang tidak mengetahui apapun tentang gwe sebelumnya. Keinginan-keinginan itu tidak pernah berubah sampai sekarang, bahkan saat semakin banyak orang menyangka gwe mempunyai berbagai macam alasan di balik segala macam hal yang gwe lakukan sekarang, gwe hanya ingin menuruti “Hati” gwe saja. Titik.

Terlalu naif? Mungkin, tapi bukankah saat manusia ditekanpun dia pasti akan mencari jalan keluar dari tekanan itu? Bukankah saat manusia diperlakukan tidak adil dia akan menuntut perlakuan yang lebih baik? Bukankah saat manusia di penjara dia akan berusaha keras mencari jalan keluar walaupun hanya sebuah lubang kecil saja? Karena kita manusia, semua itu akan terjadi dengan sendirinya. Karena setiap manusia pasti punya proses sendiri-sendiri dalam hidupnya untuk menemukan berbagai jawaban yang muncul dari dalam dirinya tentang apapun, termasuk dirinya sendiri. Tanpa ataupun dengan campur tangan orang lain termasuk Tuhan, tumbuhan dan binatang yang ada di sekitarnya. Yang penting buat gwe, gwe harus terus melangkah untuk mencari jawaban-jawaban tadi, jangan pernah berhenti, biarpun semakin banyak yang mempertanyakan semua yang gwe lakukan, mencurigainya, melecehkannya, bahkan memujinya. Gwe hanya ingin terus berjalan hingga gwe tidak bisa lagi berjalan. Ini cara gwe hidup, Kawan!

Gwe jadi ingat kawan-kawan gwe yang menyuruh gwe untuk tetap berjalan, untuk tidak mempedulikan orang-orang yang tidak menyukai gwe, untuk mempertanyakan dan mengkritik begitu banyak hal yang gwe lakukan, gwe berterimakasih sekali, sayangnya hidup gwe bukan untuk kalian semua. Tapi untuk diri gwe sendiri, saat semua pertanyaan-pertanyaan di “Otak” dan “Hati” gwe butuh jawaban yang berbeda-beda sekalipun, tapi gwe menikmati semuanya. Termasuk perubahan-perubahannya yang menjengkelkan dan membingungkan itu! Hahaha!
Untuk kawan-kawan lainnya yang juga sedang berjalan dan seringkali terantuk duri dan batu bahkan tidak hanya dari dalam diri kalian sendiri juga orang-orang di sekitar kalian…tetap berjalanlah, tetap berpeganganlah pada diri kalian atau orang-orang yang kalian percayai, toh pada akhirnya kalian sendiri yang merasakan semuanya…bukan gwe, bukan mereka. Apalagi untuk kalian yang mesti berganti arah perjalanan kalian, semoga kalian masih bisa berbalik apabila kalian merasa jalan yang kalian tempuh sekarang bukan yang kalian inginkan. Toh kalian sendiri juga yang tahu di mana mesti berhenti dulu sebelum berjalan lagi; selamat jalan, Kawan kawan!

Jadi, kalau tadi malam gwe bisa jujur, kenapa pagi ini tidak?

Manifesto


My hands are bleeding, this thread cuts through my veins
but it’s all I’ve got to hold.
I hang and pray and struggle everyday
to keep this spark of sanity from growing cold - Inside Out, By A Thread


Ini adalah manifesto gwe, manifesto kelelahan gwe ketika gwe lelah, seperti banyak kawan-kawan lainnya yang gwe tahu sebahagian besar dari kalianpun sudah lelah. Lelah menatap dunia yang sama, begini-begini terus. Gwe tahu, sebagian dari kita mencoba menandinginya dengan membuat dunia yang baru, yang berbeda, yang lebih toleran, lebih komunikatif, lebih kooperatif, tapi biar bagaimanapun gwe tetap pesimis. Buktinya bertebaran, bisa kalian lihat di luar sana.

Ya, seperti kalian, Hari-hari gwe penuh dengan kemuakan, kemarahan tidak jelas dan tentu saja harapan. Itu salah satu alasan mengapa gwe berkenalan dengan HipHop, Punk and Skin, Hardcore and Melodic, dan apapun itu yang pernah menjadi teman dekat gwe. Gwe menggauli itu semua karena satu hal: “Gwe terasing dari dunia ini”. Dan ketika “mereka” datang, mereka bukan hanya bicara sebagai sekedar musik yang bisa melupakan hari-hari gwe yang supersucks itu, tapi ia seolah menpunyai energi untuk mematahkan sumbernya. HipHop, Punk and Skin, Hardcore and Melodic, apapun itu yang pernah gwe yakini tetap merupakan sebuah totalitas pemberontakan. Mereka begitu marah, muak dan tidak pernah puas, mereka mencerahkan, sekaligus fun, menghibur dengan sangat luar biasa.

Gwe benci melihat dunia ini menghakimi dan melihat definisi ‘sukses’ orang dari berapa properti yang ia miliki, dari berapa banyak uang yang ia miliki. Gwe ingin bersama kalian semua membangun dunia yang berbeda, namun yang gwe lihat kalian semua berlomba-lomba membangun karir dan membangun ‘masa depan’ yang persis sama seperti yang diajarkan orang tua kita selama ini yang sama maknanya: BUSUK.

Mungkin gwe terlalu banyak berkhayal dan terlalu banyak keinginan dan tidak ‘ilmiah’. Mungkin orang lain memang tercerahkan dengan bentuk masyarakat hari ini dan gwe terlalu memperbuas keterasingan gwe. Mungkin memang gwe kalah, seperti kawan-kawan lainnya yang berjalan di luar sana yang masih berharap banyak pada aktivisme ini.

“Sebuah Kontemplasi”

Bukan…bukan komunisme, ada yang punchlinenya lebih nendang…FASISME, ya kata itulah yang layak digunakan untuk melihat reaksi dari pihak-pihak yang bertikai. Yang menjadi pertanyaanku adalah pertanyaan yang sama yang akan kulontarkan kalau si Karl Marx masih hidup…Mengapa anda megeneralisir asumsi anda?? “I am more than just a scientific equation” kalau kata Downset. Yang lebih hebat lagi adalah seseorang seakan mempunyai pembenaran untuk bisa menyakiti orang lain yang mempunyai identitas yang berbeda dari dia.

What is this…a planet for the uniformed? gwe sering menjumpai sentimen-sentimen yang bernada rasis akhir-akhir ini. Sebetulnya aku sudah capek untuk menjelaskan hal yang itu-itu saja, tapi what the hell lah! Ada apa sebenarnya dibalik sentimen-sentimen rasis tadi? Historiskah? Seperti yang digembar-gemborkan anggota partai nazi sebagai ubermansch-nya Nietzsche? Konspirasikah, seperti prediksi spekulatif-metafisis orang-orang ‘Islam’ mengenai Zionisme dan pandangan terhadap orang Yahudi? Apakah benar sebuah kesalahan harus ditimpakan kepada pihak-pihak tertentu berdasarkan identitas fisiknya? Where are the places for brains, then? Where’s yours?

Akhir-akhir ini juga kata “sweeping”, sering dijumpai di media-media informasi. Sweeping berasal dari kata sweep atau menyapu. Jika kita berbicara mengenai sapu, maka kita akan berbicara mengenai apa yang disapu. Biasanya sampah. Jika kita perhatikan orang yang sedang menyapu, ia akan menyapu apapun yang ia anggap sampah. Sekali lagi yang ia anggap sampah. Sampah bagi dia, tapi bagi orang lain bisa berarti sumber mata pencaharian atau mungkin bisa dimakan. McDonald’s melabelkan produk makanan yang tidak laku dalam jangka waktu 3 menit sebagai sampah, tapi apa kata buruh yang menjadi bagian dari produksi produk tersebut? Keringat! Dan apa kata orang-orang yang lapar dan tak mampu untuk membelinya? makan siang! Intinya adalah dalam konteks hubungan manusia, apa yang bisa menjustifikasi tindakan seseorang untuk ‘menyapu’ pihak-pihak tertentu sebagai ‘sampah’. Aku jadi ingat lagi waktu melihat sekjen Hisbullah diwawancara di TV, kalau tidak salah di liputan 6. Dia bilang Bush telah melukai hati umat Islam. Dengan menuduh Osama (tanpa bukti) sebagai otak dibalik serangan WTC dan Pentagon itu, ia berasumsi bahwa Bush telah mengobarkan perang melawan Islam. Hal ini seolah-olah menjustifikasi mereka untuk melakukan hal yang sama. Coba perhatikan apa bedanya Bush yang menuduh Osama sebagai teroris tanpa bukti yang otentik, dengan sweeping Hisbullah terhadap warga AS atau bule-bule yang sebetulnya tidak semua mendukung Bush dan bahkan mungkin ada yang beragama Islam, yikz? Same shit different smell, rite? Yang namanya orang fasis, itu terlepas dari atribut-atribut, identitas, bla bla bla lainnya, tapi hebatnya, mereka pandai menggunakan justifikasi…apalah itu ideologi seperti nasionalisme, komunisme, liberalisme, HAM, agama, dan potensi-potensi pembenaran lainnya. Aku sepakat dengan temanku, bahwa terror is terror, apapun alasan dan justifikasinya. Busuk adalah busuk. Wack is wack. Titik.

Aku tidak menawarkan solusi untuk masalah tersebut. Aku hanya ingin membagi ide-ide yang ada di kepalaku. Aku tidak memaksa siapapun untuk mengikuti pola pikirku. Hey, after all, ini hanya sebuah tulisan, selanjutnya terserah kalian semua. Tulisan ini kutulis sebagai kounter-aksiku terhadap rasisme dan nasionalisme yang memang sedang naik daun akhir-akhir ini. Namun, terkadang aku harus bicara dalam bahasa yang ‘mereka’ mengerti.

For a man who no longer has a homeland, where writing becomes a place to live…coz’ too many bullshit and prejudice!

Self-Pity Kills Humanity

Buat seorang teman yang tak kelihatan,
Aku tahu bagaimana jahatnya tekanan kebutuhan-kebutuhan yang makin menjeratmu itu, yang tanpa sedikitpun memberi kesempatan untukmu bernafas barang lima menit untuk sekedar meluruskan kaki serta duduk-duduk di bawah pohon rindang.

Namun sekali lagi, itu adalah pilihan kamu sendiri untuk menjadi orang tertutup yang penuh kekhawatiran. Sudah berapa kali aku beri kamu usulan untuk keluar dari semua itu? Sudah berapa banyak nama aku sarankan untuk kamu ajak berbicara sekedar mendapat sudut pandang berbeda dari yang kamu punya sekarang? Berapa kali aku ingatkan betapa masih jauh lebih beruntungnya kamu dibandingkan banyak orang lainnya di dunia ini?

Dan aku tetap di sini tak bergeming mendengar semua sumpah serapah dan caci maki serta rasa ibamu yang meluap-luap bagi diri kamu sendiri itu! Hingga kamu buta terhadap luka dan derita orang lain, termasuk diriku. Bayangkan apa yang akan terjadi di dunia ini bila semua orang sibuk mengasihani dirinya sendiri setiap hari seperti kamu!?? Tak masuk akalku sama sekali.

Anehnya (hebatnya!) kamu bisa menuntut serta marah-marah padaku bila saja aku tidak menanggapi keluh-kesah kamu! Kamu bilang aku bukan seorang teman sejati, atau sama saja dengan teman lainnya serta sama sekali tidak pernah benar-benar memperdulikan kamu. Yeah, right! Apakah aku pernah meminta kamu datang ke hidupku untuk menjadi teman? Jangan membuatku mesti menyakiti kamu saat aku cukup bisa pergi dan melupakan kita pernah berteman suatu kali.

Itulah yang membuatku akhirnya harus menulis surat ini sebelum menghilang dari hidupmu esok lusa. Aku mesti jujur pada diriku sendiri karena kejujuranku padamu lebih sering menyakiti kita berdua akhir-akhir ini. Semoga kamu temukan teman baru yang memiliki ambang batas pengertian dan kesabaran yang jauh lebih besar dan tebal dariku. Semoga kamu bisa berhenti menghujani diri kamu sendiri dengan air mata saat yang kamu butuhkan adalah sejenak menoleh dan mendengar isak tangis orang lain di hidup kamu.

Besok, jangan lagi datang untuk menyapa, mengetuk pintu bahkan mendengar suaraku!

-You bored me to death, Darky!-

Ibunda

Ketika aku masih kecil,
Ibunda telah menghabiskan begitu banyak waktu…
Mengajarkanku menyanyikan sebuah lagu,
Mengajarkanku menggunakan sendok & garpu untuk makan,
Memakaikan dan mengancingkan bajuku,
Menyisirkan rambutku…
Dan menemaniku bermain luncur-luncuran…
Dan hal-hal lainnya yang tak mungkin aku lupakan…


Ibunda,
Sekarang kakiku sulit untuk berdiri
Maukah Ibunda memegang erat tanganku?
Menemaniku…
Pelan…
Seperti tahun-tahun yang lalu
Saat Ibunda menemaniku
Berjalan pelan…
Selangkah demi selangkah…

Biarlah aku hanyut dalam kenangan-kenangan ini…
Sungguh, setiap detik bersamamu merupakan kenangan terindah bagiku!

Rutinitas Keparatz

Setiap saat yang kita lewati, hanya bisa kita alami satu kali dalam hidup kita. Setiap detik yang kita jalani, hanya berlaku satu kali dalam hidup kita. Setiap detik adalah pemberian baru dari Tuhan untuk kita. Akankah kita menyia-nyiakannya dengan terpaku pada rutinitas? Banyak dari kita yang telah diperbudak dengan rutinitas. Akankah kita membiarkan waktu berlalu dengan merasa hidup kita tidak seperti yang kita inginkan?

ach…persetan dengan rutinitas!

Kontradiktif Paradoxal

Tidak ada yang absolut di dunia ini kecuali sang absolut itu sendiri.
Yang benar belum tentu benar, yang salah belum tentu salah, yang benar bisa saja amat benar, dan yang salah bisa saja amat salah. Dan selanjutnya, yang… yang…itu bisa saja amat…amat…bingung? Maklumlah namanya juga kontradiktif paradoxal…dan percayalah, kita hidup dalam dunia seperti itu. Selamanya…

Banyak hal dari dunia ini yang berjalan bertentangan antara teori dan praktek, antara ide dan pelaksanaan, antara das sollen (yang dicita-citakan) dengan das sein (yang terjadi/dilihat). Ketiadaan realitas absolut dari manusia, membuat manusia itu sendiri, tidak pernah dapat absolut sebab ia memang bukan makhluk absolut. Manusia boleh menyandang nama homo-socius, homo-genius, homo-faber, dan sebagainya, tapi tidak bisa menjadi “homo-absolut”.


Banyak manusia bersusah payah untuk menjadi manusia idealis, tetapi pada prakteknya dia tidak pernah mencapai apa yang diidekannya itu. Ketidaksesuaian ide dengan realitas memang wajar, mengingat apa yang diidekan tidak segampang prakteknya. Tapi, bagaimanapun juga kita tetap butuh ide/gagasan sebagai motor pendorong, agar kita tetap berpikir, dan bergerak dinamis.

Tanpa ide, manusia hanyalah seonggok daging dan tulang, yang bergerak statis. Maka ide itu perlu dan jangan dilarang! Itu sama saja membawa manusia menggali kuburannya sendiri. Dengan ide saja, manusia sudah kelewat setengah mati mengejarnya, apalagi tanpa ide, manusia bisa mati benaran.
Saranku, belajarlah dari manusia lain dan pengalaman. Sebab, tanpa belajar dari pengalaman kita akan menjadi manusia yang munafik dan terlalu percaya diri sebagai manusia. Selain itu, tetaplah berpegang erat pada keyakinan kita masing-masing selama keyakinan itu kita anggap benar. Walaupun kata benar tetap saja mengandung bias kesalahan. Tapi kita jalan saja, soal benar atau tidak, dosa atau tidak, bermoral atau tidak, sudah ada yang menilaiNya…! (“ini hanya ideku loh…!”)

Mimpi seseorang adalah impian…
Mimpi bersama banyak orang adalah jalan menuju kenyataan…! -
Helder Camara

Do Your Feet Hurt…?

Can I call you sweetheart or even baby doll?
If I had your number, you’d be getting a phone called
Can I leave you a message on your machine?
Letting you know that you’re the bomb and you blew up on me

Are you anxious to see me…after your next class?
Do you care when I tell you step around that broken glass?

Can I see you after get out of school?
I won’t even mind it if you treat me cruel
Take a ride on my vespa, I’ll take you home
I’ll climb up to your window and read you a poem

I know that you believe in the one true God above
And that’s why your waiting for your one and only love
Do your feet hurt…?
Did you fall from heaven…?
‘coz you’ve been running thru’ my mind all day
My mind don’t mind…

I don’t know what to say or do
I can’t eat when I’m with you
Goodnite sweetheart, I’ve gotta go
And you won’t come to my next show

If you try to understand me, you won’t ever leave me all alone…

Tuhan Menciptakan Dosa Karena Surga adalah Tempat Yang Sempit

Mungkin Dia kekurangan duit untuk membeli lahan yang lebih luas
Atau supaya para Malaikat tidak kewalahan mengawasi warganya
Dia tidak ingin populasinya membengkak melebihi kapasitas
Dia tidak ingin Taman Firdaus itu menjadi kota Jakarta yang kedua

Makanya kamu harus lulus �fit and proper test� supaya bisa masuk ke sana
Kalau kamu �ramah� (rajin menjamah), takutnya para bidadari keluar semua
Kalau kamu berdoa pakai pantat, nanti tangan kamu malah bikin grafitti lagi!
Kalau tidak begitu, untuk apa Tuhan menciptakan Rhoma Irama dan FPI?

Atau mungkin kita demo saja menuntut perluasan kerajaan surga

pakai saja lahan neraka, biar penghuninya bisa eksodus bareng kita
Supaya kita tidak perlu menghabiskan waktu lagi untuk beribadah dan berdo’a
Kalau tidak dikasih kita akan kudeta terus mendeklarasikan republik

Hari gini…
Kok masih ada saja ya yang masih mau memakai sistem monarki kayak begitu?!

HA HA!

Don’t HA HA at me you stupid fuck
Throw that HA HA to someone else
Maybe HA HA him, her, or them
Anywhere you want but don’t HA HA at me

If you ask me, maybe we can HA HA together
HA HA to the moon, HA HA to the stars
So the world can hear our HA HA loudly
Hey, it’s the HA HA night after all !

Do the HA HA , do it HA HA style
One HA , two HA HA , three HA HA HA
Don’t hate the HA HA , be the HA HA
Hear my HA HA , then I hear yours

There’s no other things as HA HA
HA HA here, HA HA there, HA HA anywhere
HA HA is as easy as the abc thing
You don’t even have to think, just HA HA!

Viva la HAHAism!

Hinaan dan Luka, Gagasan dan Tindakan

Sesungguhnya banyak diantara kita yang mengaku dirinya mendukung kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat. Bagaimanapun juga, ketika perdebatan ini mencuat ke permukaan oleh beberapa individu yang mencoba mempraktekkan kebebasan ini, sering dijumpai semacam pemaknaan baru bagi kebebasan berbicara ini sebagai usaha untuk menindas perkataan orang lain. Sayangnya, posisi yang diambil oleh sebagian besar dari kita pada permasalahan ini tidak lebih prinsipil jika dibandingkan dengan kaum konservatif dan liberal mainstream.

Dalam prakteknya, sebahagian besar orang, entah label apapun itu yang digunakan untuk mendeskripsikan dirinya, mendukung kebebasan untuk berbicara hal-hal yang mana mereka setujui, tapi juga berusaha untuk membungkam suara-suara yang mengemukakan gagasan yang berlawanan dengan apa yang mereka pikirkan.

Sebuah pendapat mencuat dari mereka yang berkeinginan untuk menghentikan orang lain dari pengemukaan pendapatnya bahwa mengatakan sesuatu hal yang kotor sama halnya dengan melakukan hal itu. Dengan logika ini, pembicaraan yang rasis sama halnya dengan menyerang orang lain secara fisik hanya karena masalah kulit warnanya saja, atau berakting dalam sebuah adegan pemerkosaan di sebuah film sama halnya dengan pemerkosaan yang sesungguhnya. Hal ini sangat tidak benar. Tapi menggunakan ekspresi-ekspresi seperti “penyerangan verbal” untuk mendeskripsikan nama panggilan cenderung sama halnya dengan berusaha mengaburkan perbedaan antara perkataan dan tindakan, antara hinaan dan luka.

Sedari kita kecil, kita selalu diajarkan bahwa “tongkat dan batu bisa mematahkan tulang kita, tapi kata tidak akan pernah bisa menyakiti kita.” Dan, karena hal itu tidak benar bahwa kita tidak “terluka” hanya karena masalah pemanggilan nama atau dengan cara lain diserang dengan perkataan orang lain, harus ditarik pemisahan yang jelas antara kesedihan emosional dan cedera fisik. Untuk apapun alasannya, pembelaan diri baru bisa dibenarkan setelah adanya penyerangan fisik. Tapi, perkataan yang menyerang, selagi kita menanggapinya dengan berbagai cara non-kekerasan, adalah sesuatu yang harus kita perbolehkan jika kita mengharapkan sebuah masyarakat yang bebas.

Hal lain yang masuk diakal untuk menekan pendapat orang lain adalah bahwa, walaupun melalui tulisan dan perkataan selama tidak melakukan hal lain selain menyebarkan pemikiran, gagasan-gagasan ini mungkin akan menginspirasi beberapa orang untuk mulai bertindak sesuatu yang dapat melukai orang lain secara fisik. Benar jika dikatakan bahwa tindakan seseorang dimotivasi oleh apa yang mereka pikirkan, dan bahwa gagasan mereka mungkin dipengaruhi oleh orang lain. Walau begitu, di manapun manusia memperoleh keyakinan yang memotivasinya, setiap individu bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Jika seseorang terprovokasi setelah mendengar atau membaca sebuah gagasan, sang korban hanya bisa bertahan melawan penyerangnya dan bukan kepada si penyampai gagasan. Hanya tindakan yang tidak bersahabatlah yang bisa mendapat tanggapan fisik.

Cara untuk menanggapi gagasan yang tidak disetujui adalah dengan menyebarkan gagasan yang berbeda. Mengadakan debat terbuka dengan gagasan-gagasan yang berlawanan adalah metode yang terbaik untuk mendapatkan kebenaran dan mempromosikan filosofi yang etis. Hanya bagi mereka yang takut akan kekalahannya dalam sebuah perdebatan, mereka akan menemukan bahwa pandangan para lawannya harus dimusnahkan.

Mereka yang telah menemukan sebuah jenis masyarakat baru dimana manusia hidup di alam kebebasan, tapi masih memandang perlunya menindas gagasan orang lain dalam rangka mencapai dunia baru ini, mungkin harus mengambil pelajaran dari sejarah Uni Sovyet, dimana tepatnya sebuah filosofi ditanamkan ke dalam pemikiran rakyatnya. Seperti dulu yang pernah dikatakan oleh salah seorang pengkritik kaum Leninis, Rossa Luxembourg, “Kebebasan itu adalah bagaimana bebasnya mereka yang berpikiran berbeda denganmu.”

05.10.01 (ha! Ini tulisan lamaku yang baru ketemu…)

HEX
It’s nothing as it seems…

I am a walking time bomb
My body carry something
That you don’t want it
Not even in your dream

I am a flying sadness
Fill your skies with tears
Swap your smile with blood
The curse has been set

Who’s the owner of your love? of my?

Every single details of me
Is just another eulogy
A line to mourn for
A song to cry on
Dear stupid cupid…
Shoot your arrow to any heart besides me
Dear grim reaper…
Please take away my pain along with life

Is there any something that can hold a place for me?
Well, make it for two!
I hope someone will take over the place
Someday soon, before it’s too late…!

I Couldn’t Said I Love You

Sayang, sudah beberapa hari ini kita selalu bersama-sama. aku suka riangmu, aku suka candamu, aku suka tawamu, aku suka senyummu, aku suka tatapanmu dan terlebih, aku suka cara kamu membuatku melupakan hari-hari lalu yang telah merampas duniaku. Hmm…sungguh kusesali, aku tidak punya kata-kata untuk sekeping cinta yang berani kunyatakan padamu, dan kuharap kau tidak menertawai kenyataan hatiku !

oH…Feelin’ !

No one can explain why do I fallin’ in luv
It’s just naturally, no one can deny this feelin’

Oh feelin’…why did you so strange?
Oh feelin’…why did you so strick to me?

Give me some say what I should do
Normally, I’m starting love her…

I get her in my mind in the nite
Does she get me in her mind, too?

I’m sitting on the chair very tight
And thinking what she do tonite?
In hopes, there’s a piece of memory about me in her head
And I will attend a piece of memory about her in my head !

somewhere outta…someone’s lovin’ you!

Sesuatu Mengenai Penderitaan dan Keindahan

“Keindahan hidup adalah ketika engkau dapat berteriak gembira, “Teater!” di tengah gedung yang sedang terbakar dan penuh berisi penghuni.” -- Andre Breton

Penderitaan terasa menyakitkan hanya saat engkau merasa takut terhadapnya. Penderitaan hanya menyakitkan karena engkau mengeluhkannya. Ia mengejarmu karena engkau selalu melarikan diri darinya. Jangan kau lari darinya. Jangan kau keluhkan. Jangan pula kau takutkan. Engkau harus belajar mencintainya. Engkau telah mengetahui hal ini, engkau telah cukup mengenal hal ini, jauh di dalam dirimu, terdapat sesuatu hal yang sangat magis, sebuah kekuatan tunggal, sebuah penyelamatan tunggal, dan sebuah kebahagiaan tunggal, sesuatu yang disebut cinta. Maka, cintailah penderitaanmu. Jangan kau lawan, jangan pula kau coba lari darinya. Rasakan, betapa manis ia dalam esensinya, serahkan dirimu kepadanya, jangan pula kau temui dengan penuh keengganan hati.

Keenggananmulah yang menyakitkan, tak ada yang lain. Kesedihan bukanlah kesedihan, kematian bukanlah kematian jika engkau tidak membuatnya demikian. Penderitaan adalah sebuah alunan irama musik yang menakjubkan, sebuah momen dimana kau memberikan seluruh jiwa ragamu. Tetapi engkau tak pernah mendengarkannya; engkau selalu memiliki suatu musik dan melodi yang berbeda, privat, keras kepala dalam telingamu yang tak akan pernah engkau lepaskan sehingga dengan dirinya, maka musik penderitaan tak akan pernah terdengar harmonis. Dengarkan diriku! Dengarkan aku, dan ingatlah selalu: penderitaan adalah ketiadaan, penderitaan adalah ilusi. Hanya dirimu sendirilah yang menciptakannya, hanya engkau yang telah menyebabkan dirimu sendiri menderita!

Inilah yang kualami, atau yang orang-orang kesepian itu alami. Orang-orang kesepian itu menutup mata dan tersenyum, dan dalam senyuman yang membius inilah maka segala penderitaan dapat dipahami, akan selalu ada penerimaan bagi segala kelemahan, segala cinta, dan segala kerapuhan.
Tetapi itulah keindahan dan keheningan, senyuman redup penuh penderitaan, dan hal tersebut tak pernah berubah, tetap, serta indah dalam raut wajahnya. Demikianlah pepohonan tampak saat musim gugur, saat daun keemasan terakhir melayang jatuh, ketika bumi menerimanya untuk tetap hidup dalam peleburannya dengan tanah. Itu adalah sebuah derita, sebuah kesedihan, kesedihan yang terdalam; tetapi tak ditemukan keberadaan perlawanan, tak ada penolakan. Ia adalah persetujuan, pendaftaran, kepatuhan. Ia adalah kekuatan pengetahuan dan persetujuan tanpa pertanyaan. Orang-orang yang kesepian mengorbankan dirinya dan memuji pengorbanan tersebut. Mereka menderita dan mereka tersenyum. Mereka tidak menguatkan hati dan karenanya ia bertahan hidup, demikianlah mereka menjadi abadi. Mereka menerima kenikmatan, kesukaan dan cinta dan memberikannya, memberikannya kembali; tidak pada seorang asing, melainkan kepada kekuatan garis hidup yang telah menjadi bagian dari dirinya. Sebagaimana pikiran meresap ke dalam ingatan dan isyarat tenggelam kepada sisanya, maka mereka yang dicinta oleh orang-orang yang kesepian bersama seluruh yang dimilikinya akan meresap, melebur bersama penderitaan; tidak hilang, melainkan mengembara kepada kedalaman jiwanya. Penderitaan melenyap, tetapi tidak dibunuh.
Ia tertransformasikan, tidak terhancurkan. Ia akan kembali pada kedalaman, merasuk ke dalam dunia dan diri sang penderita. Ia telah hidup dalam sebuah esensi kehidupan itu sendiri, yang sempurna dan begitu penuh.

Life must hurt. Too many forces, there’s not enough tragedy!

Renungan Hidup…

Aku membayangkan hidup ini sebagai suatu permainan ketangkasan dimana aku harus memainkan keseimbangan 6 buah bola yang dilempar ke udara. Bola-bola itu kunamakan : Pekerjaan, Keluarga, Kesehatan, Teman, cinta dan Spirit, dan aku harus menjaga agar ke-6 bola ini tetap seimbang di udara. Kalian akan segera mengerti kalau ternyata “Pekerjaan” itu hanyalah sebuah bola karet. Jika kalian menjatuhkannya maka ia akan dapat memantul kembali. Tapi, lima bola lainnya - Keluarga, Kesehatan, Teman, cinta dan Spirit - terbuat dari gelas. Dan jika kalian menjatuhkan salah satunya maka ia akan dapat terluka, tertandai, tergores, rusak atau bahkan hancur berkeping-keping. Dan ingatlah bahwa mereka tidak akan pernah kembali seperti aslinya. Kalian harus pahami itu benar-benar…!

Bagaimana caranya?

Jangan merusak nilai kita dengan membandingkannya dengan nilai orang lain. Perbedaan yang ada diciptakan untuk membuat masing-masing diri kita spesial.
Jangan menetapkan tujuan dan sasaran Kita dengan mengacu pada apa yang orang lain anggap itu penting. Hanya Kita yang mengerti dan dapat merasakan “apa yang terbaik untuk kita”.
Jangan menganggap remeh sesuatu yang dekat di hati kita, melekatlah padanya seakan-akan ia adalah sebagai bagian yang membuat kita hidup, dimana tanpanya, hidup menjadi kurang berarti.
Jangan membiarkan hidup kita terpuruk dengan hidup di ‘masa lalu’ atau dalam mimpi masa depan. Satu hari hidup pada suatu waktu berarti hidup untuk seluruh waktu hidup kita. Jangan menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat kita berikan.
Jangan takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ketidaksempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita satu sama lain. Jangan takut menghadapi resiko. Anggaplah resiko sebagai kesempatan kita untuk belajar bagaimana menjadi berani. Jangan berusaha untuk mengunci cinta ketika memasuki hidup kalian dengan berkata: “tidak mungkin kutemukan”. Cara tercepat untuk mendapatkan cinta adalah dengan memberikannya, cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah dengan menggenggamnya sekencang mungkin, dan cara terbaik untuk menjaga agar cinta tetap tumbuh adalah dengan memberinya “sayap”.
Janganlah berlari, meskipun hidup tampak sangat cepat, sehingga kita lupa dari mana kita berasal dan juga lupa sedang menuju kemana kita.
Jangan lupa bahwa kebutuhan emosi terbesar dari seseorang adalah kebutuhan untuk merasa dihargai.
Jangan takut untuk belajar sesuatu. Ilmu Pengetahuan adalah harta karun yang selalu dapat Kita bawa kemanapun tanpa membebani.
Jangan menggunakan waktu dan kata-kata dengan sembrono. Karena keduanya tidak mungkin kita ulang kembali jika telah lewat.
Hidup bukanlah pacuan melainkan suatu perjalanan dimana setiap tahap sepanjang jalannya harus dinikmati.

Dan akhirnya resapilah:

MASA LALU adalah SEJARAH,
MASA DEPAN merupakan Misteri dan
SAAT INI adalah KARUNIA.
Itulah sebabnya kenapa dalam bahasa inggris “saat ini” disebut “The Present”.

Si Tulul…!

teman gwe sering cerita tentang loe. paras cantik loe, ramah siapa loe, hangat sentuh loe. teman gwe pengen sekali memiliki loe. sayang, loe milik orang lain, teman gwepun mundur, dia tidak suka merusak kebahagaiaan orang lain. namun, teman gwe yang baik itu gak tega melihat gwe penasaran karena cerita-ceritanya tentang loe, dia lalu mengenalkan gwe ama loe, kitapun berkenalan, tapi gak berteman. belum.

loe dan pacar loe sangat serasi. iba gwe untuk teman gwe. tapi teman gwe memang laki-laki yang baik. gwe bahagia bisa melihatnya ceria, katanya bijak. pacar loe dan teman gwe gak berteman, begitu juga gwe, kita semua hanya saling kenal. teman gwe kemudian pergi, meninggalkan gwe, loe dan pacar loe. berusaha mencari dunia baru, dunia yang dia mau.

lalu loe dan gwe berteman. lebih dari sekedar kenal. semua karena sifat ramah loe. gwepun senang berteman ama loe, apalagi karena loe sudah punya pacar, membuat gwe merasa aman. tiba-tiba loe datang pada gwe dengan bergelimangan air mata. gwe tanya kenapa, loepun menjawab “gwe berhenti mencintainya !”.

loe cerita betapa gak amannya ketika bersama dengannya, loe takut, dan karenanya loe mencari gwe, mencari rasa aman. gwe kaget! dan bingung…senang banget karena merasa dibutuhkan oleh teman, membuat gwe merasa dihargai. menjadikan gwe orang baik. karena gwe juga suka memberikan rasa aman, apalagi terhadap teman.

gwe suka loe. gwe cinta ama loe. boleh gak gwe jadi…

gwe lari! gak tahan ama kata-kata loe. gwe lari karena pernyataan loe menghilangkan rasa aman gwe ama loe. gwe tinggalin loe disaat loe butuh rasa aman yang udah berhasil gwe ciptain. gwe sadar itu, tapi gwe takut…

kitapun berpisah…

gwe tinggalin loe dan mencari dunia baru. dan gwepun merindu…amat merindu…
gwe tinggalin dunia baru gwe untuk mencari loe. kembali tanpa rasa malu, hanya rindu. kitapun kembali bertemu…

“hai!” loe menyapa gwe terlebih dahulu. selalu.

hai juga. apa khabar?

terus loe bertanya tentang gwe. gwe jawab tentang dunia baru gwe yang udah berlalu, tanpa loe. gwe kemudian bertanya tentang loe. gak loe jawab pertanyaan gwe, malah membalas dengan pertanyaan, loe kenal dia?

ternyata loe malah tanya tentang dia, teman gwe yang lain. gwe pikir loe akan tanya mengenai masa lalu kita. gwe kecewa, meski begitu gwe lega. tapi tetap gwe jawab pertanyaan loe, gwe suka ditanya…

ya, gwe kenal dia. dia teman gwe. jawaban gwe nyenengin loe. lalu loe bilang pengen jadi temannya teman gwe yang lain itu. loe penasaran. seperti halnya gwe penasaran kala teman gwe yang dulu selalu cerita tentang loe. namun gwe juga penasaran, kenapa loe gak rindu ama gwe, padahal gwe sengaja kembali untuk loe? pertanyaan gwe terjawab ketika kita ngomongin teman gwe yang lain itu. dia membuat gwe kagum. gwe salut padanya, ucap loe dengan mata berbinar. ya, gwe juga, bathin gwe dalam hati. telah berhasil membuat loe kagum sehingga lupa ama gwe.

ternyata teman gwe yang lain itupun kagum ama loe, menurutnya loe cerdas, lucu, cantik dan manja. penggambaran diri loe dalam empat kata yang gwe juga sangat setuju. kemudian loe ama dia secara resmi berkenalan…berteman…berpacaran.

gwe nyesel…buat apa gwe kembali…kini saatnya jadi laki-laki yang baik seperti teman gwe yang dulu. “gwe bahagia bisa ngeliatnya ceria.”

waktu terus berlalu.

dan di suatu masa, gwe kaget dan bingung…kemudian gwe pura-pura gak tau dan bertanya ama loe kenapa gak bersama teman gwe lagi…

gwe berhenti mencintainya !

gwe gak lagi kaget dan bingung. loe pernah lakuin hal yang sama ama pacar loe yang dulu, jadi mengapa sekarang gak? lagipula gwe sudah sering ngebayangin hal ini bakal terjadi. harapan akan sebuah kesempatan karena sering ngebayangin hal ini terjadi. kenapa loe berhenti mencintainya…?

gwe…sebenarnya…mmmh…gimana ya…

loe terlihat bingung sekali. Ha…ha…ha…tawa gwe dalam hati. memang pertanyaan itu kartu as gwe, memberi kesempatan ama gwe untuk merhatiin wajah loe yang bingung dan panik, mimik muka yang selalu gwe damba…gwe seneng ngeliat loe kehilangan diri loe. tapi gak lama loe menjawab, dengan nada yang lebih yakin, gwe kagum padanya karena dia teman gwe. gwe sebenarnya mencintainya. gwe mencintai loe. dari dulu. selalu.

degh! jawaban loe membuat gwe was-was, karena gak ada kata-kata itu di “skenario gwe”. gwe juga mencintai loe, pikir gwe. tapi ini gak benar, entah mengapa…benar-benar gak benar, kata hati kecil gwe.

dan loepun akan berhenti mencintai gwe…gwe bergumam yang ternyata terlalu keras gwe ucapin.

gak! gak mungkin! mencintai loe adalah segalanya bagi gwe. gak mungkin gwe ninggalin loe. gwe pengen banget memiliki loe. gwe butuh loe karena gwe mencintai loe, dengan sepenuh hati, selamanya…

BLARRR !!!! butuh karena cinta dan bukan sebaliknya bagi gwe adalah bahasa universal untuk sebuah komitmen yang bulat dan kuat. dan selamanya…itu berarti…oh…ini terlalu berat…terlalu cepat…gwe gak siap…

lari! hanya itulah yang kemudian terlintas di benak gwe. gwepun kembali lari ninggalin loe.

dahulu gwe lari karena gak nyaman, takut loe bakalan ninggalin gwe dan gwe akan sangat terluka, karena gwe yakin gwe gak akan pernah ninggalin siapapun yang gwe cintai. dan tentu saja saat itu gwe gak lagi merasa aman karena loe baru saja khianatin pacar loe, gwe takut dikhianatin, takut banget.


kini, setelah gwe yakin loe gak akan pernah ninggalin gwe, gwe kembali lari. bukannya gwe gak nyaman ama diri loe, tapi gwelah yang merasa gak nyaman ama diri gwe sendiri. hal-hal baik jarang terjadi ama gwe, dan pernyataan loe membuat gwe takut. gwe gak pengen nyakitin loe, khianatin loe, karena loe sangat gwe cinta.

***Dan biarlah kisah loe dan gwe menjadi sisa-sisa kebahagiaan yang selalu muncul di dalam warna-warni kehidupan kita***


HARDLINE

Perbedaan antara hardline yang biasa disebut hardedge (vegan straight edge) adalah lebih extreme. Hardline adalah sepenuhnya vegan, mereka memegang teguh keyakinannya di dalam hidup dan mereka juga mendukung kebebasan binatang, human right, animal right dan anti aborsi. Hardline juga menentang adanya pornografi, mereka percaya bahwa itu mempunyai efek buruk bagi masyarakat yang dapat menyebabkan wanita hanya dijadikan obyek seks belaka. Secara keseluruhan hardliners sama seperti para animal liberation yang menginginkan kedamaian, kebersihan lingkungan di planet bumi ini.

Pertama-tama kesalahan konsep terbesar hardliners adalah pergerakan ini dilakukan oleh extreme militant straight edge. Kebiasaan hardline didasari oleh gaya hidup extreme vegan, hardliners sangat menghargai hidupnya jadi mereka memutuskan untuk menjadi seorang straight edge, tapi tidak sepenuhnya tergantung dengan gaya hidup straight edge.

Seperti gerakan straight edge, hardline menciptakan sebuah perkumpulan dimana ada seorang straight edge (anggotanya) ditunjuk menjadi crew yang dikenal dengan “chapter”. Tujuan utama dari seorang chapter adalah mensosialisasikan hardline di dalam masyarakat. Chapter biasanya menjadi aktif dalam berbagai protes yang mengangkat tema lingkungan dan binatang. Mereka juga bergerak di belakang pergerakan anti aborsi, hardline juga membentuk suatu asosiasi yang secara langsung menolak kematian yang disebabkan oleh manusia (seperti perang, hukuman mati). Hardline juga menentang sepenuhnya eksloitasi terhadap sumber daya alam.

Banyak para hardliners dibenci oleh masyarakat karena mereka memilih pendekatan yang extreme untuk mencapai tujuan mereka. Seperti secara fisik dalam masalah pembebasan binatang, yang menggunakan taktik dasar dari seorang teroris untuk melawan industri yang telah mengeksploitasi binatang. Dan juga ada isu yang menyebutkan para hardliners menyerang para pengguna alkohol dan para pemakai obat illegal, ini semuanya tidaklah benar. Hardline adalah para pecinta kedamaian yang menghargai equality, mereka bukan ultra militant straight edge gank.

Aksi hardline tidak sepenuhnya selalu didasari oleh ukuran extreme, banyak dari waktu mereka yang dihabiskan untuk mengajarkan masyarakat tentang keuntungan dari gaya hidup vegan dan bagaimana binatang mempunyai haknya. Dan mereka menjadi terlibat dalam aksi protes atau hanya dengan membagi-bagikan selebaran, semua taktik ini dilakukan oleh semua para aktivis animal right. Hardline juga terlibat dalam masalah agama yang mengajarkan mereka hidup yang lebih baik, seperti Islam.

Karena gaya hidup hardline membutuhkan pengendalian diri yang tinggi dan kedisiplinan yang kuat, banyak para hardliners tidak kuat lagi terhadap itu semua selama hidupnya. Ini merupakan ketakutan bagi para hardliners, secara keseluruhan menyebabkan jumlah para hardline berkurang di dalam masyarakat. Semakin banyak orang menjadi vegan, semakin banyak orang melihat dan melakukan pendekatan dengan cara yang lebih keras.

Ini sepertinya menjadi jalan bagaimana pergerakan bekerja, orang yang memulai keluar dari sXe biasanya akan mencari jalan ke veganism, dan semakin banyak orang menjadi vegan, semakin mendukung gaya hidup ini ke depannya. Jadi secara singkat etnik hardline, aku secara pribadi tidak merasa akan mati semuanya, tetapi pada moment tertentu mereka hanyalah untuk yang ekstrem dari pergerakan vegan.

Hardline Manifesto

Saatnya telah tiba untuk sebuah ideologi dan untuk sebuah pergerakan yang secara fisik dan moral cukup kuat untuk melawan kekuatan jahat yang akan merusak bumi (dan semua kehidupan yang ada). Sesuatu yang tidak dapat dibeli,atau godaan menuju jalan yang salah. Pergerakan yang bebas dari ketenangan pikiran yang busuk dan kelemahan tubuh. Sebuah ideologi yang murni dan penuh kebenaran, tanpa kontradiksi dan inkonsisten. Sesuatu yang mengatur segalanya oleh satu standard dan mengutamakan pertanggungjawaban seseorang dan pertanggungjawaban di bawah semuanya. Dan memandang semua kehidupan bukan dari eksternalnya saja, tapi juga dari dalam diri seseorang - menyadari kesatuan fisik dari penindasan, seperti sistem kapitalis (dimana semua kehidupan hanyalah untuk membelanjakan), itu hanyalah keluar dari manifestasi penyimpangan nilai dari orang-orang yang menjalankan institusi yang mengontrol hidup kita, mempengaruhi budaya kita dan akhirnya merusak bumi ini.

Juga harus mengakui kerusakan pada dasarnya dari penyebab sebuah isu, dimana konsep keadilan selalu selektif (dimana setiap grup yang terlibat berjuang untuk kebenaran dengan kepedulian dari para personalnya atau di suatu kasus dengan berbuat kebaikan untuk semua) - berpindah ke sekitar seperti pendekatan yang gagal - secara logika dan meliput semua sistem secara terus menerus dan aksi dari sebuah program, dapat dilakukan dan akan sukses.

Ideologi itu, pergerakan itu adalah Hardline. Sistem yang dapat dipercaya, dan jalan hidup untuk kehidupan oleh satu etnik - dimana semua yang kehidupan yang tidak berdosa adalah bersih, dan mempunyai hak untuk hidup bebas merupakan kesatuan yang alami dari keberadaan dalam kedamaian, tanpa campur tangan. Single etnik ini menjamin semua kehidupan, dari janin sampai manusia dewasa (hitam, putih, pria atau wanita), sampai binatang atau habitatnya, semua mendapatkan hak persamaan derajat, dengan kebebasan untuk semua. Di bawah prinsip ideologi hardline, semua bebas dilakukan asalkan aksi mereka tersebut tidak menyakiti/melukai dengan menghargai hak semuanya. Setiap aksi yang mencampuri dengan masalah hak seharusnya tidak menimbang hak itu sendiri, dan daripada itu maka tidak akan ditoleriri. Mereka yang menyakiti atau merusak kehidupan di sekitar mereka, atau menciptakan situasi di dalam kehidupan atau kualitas dalam mengancam maka dari itu tidak lagi menghiraukan yang tidak berdosa, dan merubah menjadi tidak mempunyai hak sama sekali.

Mereka sepakat dengan hardline untuk berpegang pada prinsip kehidupan sehari-hari. Mereka akan hidup dengan satu hukum yaitu hukum alam, dan tidak melalaikan kerena nafsu dan kesenangan - dari tindakan seksual dan aborsi, dari penggunaan obat terlarang (dan dari semua kasus yang menyakiti seseorang dalam kehidupan di sekitarnya dengan alasan yang dicari-cari mereka sudah menyakiti diri sendiri). Dan, dalam mengikuti kepercayaannya seseorang tidak boleh merusak kehidupan yang tak berdosa - tidak ada produk binatang yang dikonsumsi (daging, susu atau telur). Diikuti dengan kesucian/kebersihan dalam setiap kehidupan, hardliner sejati harus berjuang untuk kebebasan dari ranta-rantai-menyelamatkan hidup dari suatu kasus, dan yang lainnya, menyetujui peradilan bagi mereka yang bersalah dan merusak semua itu.

Hanya dengan dedikasi dan bekerja keras - hidup dari kehidupan akan harmoni dengan kesatuan kami dan kepercayaan, dengan mencapai kekuatan dari kesucian/kebersihan tubuh dan pikiran, dengan aktif menentang mereka yang bersalah merusak dunia dengan racun mereka, perbuatan mereka akan yang meyebabkan polusi - kita bisa memenangkannya dalam perjuangan ini.

Hardline Hate

Hardline adalah pergerakan yang didasari dari persamaan tujuan dari animal liberation untuk memperluasnya, yang menggunakan cara illegal untuk mendapatkan perhatian dari masalah di masyarakat. Ini pertama kali terlihat extreme, tapi menyadari banyaknya masalah manusia dalam masyarakat untuk berlomba ke arah abad 21. Berkurangnya daratan untuk populasi, kerusakan alam sekitar, hilangnya ekosistem alam, dan pertumbuhan binatang yang dilindungi semakin kecil. Untuk meghindari masalah tersebut adalah dengan menjadi seorang straight edge kau bisa merubah menjadi lebih baik, kau akan membuat perubahan. Dengan menyebabkan perubahan dalam masyarakat menurut kepercayaan mereka dan kami menyadari betapa kecilnya prioritas etnik yang kami rangkul sebagai manusia dari planet ini. Ini yang penting, karena bila kamu memilih untuk mengambil ketertarikan di dalam alam sekarang dan kemudian kamu aktif menyelamatkan bumi ini untuk anak-anak kita. Jika kamu tidak percaya untuk menjadi straight edge atau menjadi vegan dapat meyelamatkan sumber daya alam ini.

Aku pikir ini adalah penting untuk melihat seperti pergerakan dari hardliners dan animal liberationist adalah bukan masalah tapi sebuah pergerakan yang melawan masalah dalam jalan yang berbeda dan juga dengan legal dalam aktivitas animal rights. Ini juga penting untuk diingat untuk selalu membuka pikiran, itu adalah alat yang luar biasa yang kau miliki. Itu mudah untuk mendekati isu sosial dengan pikiran tertutup tapi itu tak selalu menjadi cara yang terbaik untuk mendekati sesuatu. Jika semua orang berpikiran sempit tentang pergerakan straight edge tidak akan terjadi sejauh ini dalam masyarakat. Untuk melabeli dengan mudah hardliners sebagai pembuat masalah adalah salah, jika kamu berbicara dengan seseorang dan debat tentang nilai etnik mereka kau akan mengetahui bagaimana mereka sebenarnya. Untuk menilai semua komunitas hardline di dalam isu selanjutnya oleh seseorang itu bukanlah straight edge (janganlah menilai sesuatu dengan pikiran yang sempit). Yang mau aku ucapkan adalah selalu menjaga dalam pikiran jika suatu waktu seseorang menanyakan tentang hardliner atau ketika suatu saat kau membaca artikel atau halaman dalam hardline etnik. Itu tidak apa-apa untuk tidak mendukung etnik hardline, atau sepenuhnya membenci itu tidak mengangguku, berikanlah kepada mereka kesempatan untuk membaca apa yang kau tahu, jelaskan apa yang kau tahu, dan tetapkan pikiranmu.

Animal Abuse Di Kroasia

Musim panas ini aku mengunjungi pulau Hvar di perairan Adriatic Kroasia. Aku dikagetkan dengan banyaknya penyiksaan terhadap anjing dan kucing. Meskipun tidak semua orang menyiksa dan membunuh binatang, tapi sepertinya sudah menjadi budaya praktis dalam memperlakukan kucing, sebagaimana banyak kota di barat yang memperlakukan tikus.

Aku tinggal di seksi penginapan di kota Stari Grad. Setiap malam aku mendengar kucing yang disiksa dan dibunuh. Aku melihat seekor anak kucing yang diikat plastik yang kencang dan dibuang ke sampah kaleng. (Aku diberitahu bahwa ini adalah salah satu metode untuk mengontrol populasi kucing), aku melihat seekor kucing ditabrak lari oleh mobil dan aku mendengar seekor anak kucing berumur dua minggu menangis sepanjang hari setelah dibuang tanpa ibunya dan dibiarkan mati.

Setelah mendengarkan tangisan kucing siang dan malam, akhirnya aku menemukan mereka di belakang sebuah musium dekat tempat yang aku tinggali. Aku mengingatkan di sini adalah pusat dari masyarakat di kota, tak seorangpun menyelamatkan atau memberi makan anak kucing tersebut. Banyak dari para pegawai di Biro Turisme dan pemilik bisnis atau manajer yang berbicara dengan bahasa inggris menyangkal semua kejadian itu. Sebagian menyatakan mereka bukan dari kroasia dan memperlakukan binatang seperti itu adalah hal wajar di sebagian negara.

Sementara itu jika aku berbicara dengan mereka, mereka kadang-kadang menyebutkan bahwa kejadian yang serupa juga terjadi di kampung halaman mereka. Beberapa dari mereka berbicara dengan jujur dan mengakuinya bahwa mereka mempunyai masalah serius dengan populasi kucing. Metode yang umum dalam mengontrol populasi kucing ialah membawa kucing khususnya anak kucing ke dalam kapal dan membuangnya ke laut. Tipe yang lain dalam mengontrol binatang telah selesai di musim dingin, ketika para turis telah pergi.

Dan saat itu pemerintah menaruh racun di seluruh kota. Aku diberitahukan oleh formulir pengontrol binatang dengan cara praktis selama dua puluh tahun. Selama sepuluh tahun terakhir, kepemilikan anjing menjadi sangat trend di masyarakat Kroasia. Selama aku menetap di sini aku belajar banyak, masyarakat membawa anjing ke pantai sebagai simbol status dan ditinggalkan sampai liburan mereka selesai. Aku bertanya kepada seorang dokter hewan kota apakah ada hukum melawan kekejaman terhadap anjing dan kucing, aku diberitahu bahwa itu tidak ada. Alasannya Kroasia adalah negara miskin dan tidak tahu bagaimana memperlakukan binatang dengan baik. Tapi dalam membuat hukum perlindungan terhadap anjing dan kucing tidaklah mahal.

Kroasia adalah negara berkembang, tetapi lebih berkembang daripada negara lain di Eropa seperti Belarussia atau Ukraina. Tunawisma adalah sesuatu yang umum di sini. Jika masyarakat Kroasia dan pemerintahannya menolak untuk merubah dalam memperlakukan binatang, mungkin kalian dapat memberikan tekanan terhadap mereka. Karena salah satu industri terbesarnya adalah turisme, mengancam dengan memboikot akan dapat menarik perhatian mereka. Untuk menerapkan cara praktis ini, seseorang harus tinggal dengan penduduk asli di dalam lingkungan masyarakat (mereka menjaga daerah turis bebas dari binatang yang tersesat). Berbicara bahasa Slavic dapat membantu, jadi dapat mengerti apa yang mereka bicarakan.

Setiap tindakan kecil dapat membantu, tolong gunakanlah waktu yang telah ada agar pemerintah Kroasia tahu kalian tidak setuju dengan perlakuan mereka terhadap binatang. Juga sebarkan kata-kata kepada yang lain agar dapat membantu usaha ini. Kalau perlu masukan tulisan ini ke dalam website atau mencetaknya dalam surat kabar, akan sangat membantu menyebarluaskan. Situasi di perairan Adriatic Kroasia sudah sangat kacau. Tolong sebarkan informasi ini, beritahu kepada orang yang kalian kenal dan juga tolong bantu dalam memberi tekanan kepada pemerintah Kroasia untuk membuat hukum kesejahteraan binatang.

Terimakasih, Alexandra Yurkiw…

Alasan Menjadi Vegetarian

Vegetarianisme

Ada banyak alasan untuk kalian menjadi vegetarian, itu termasuk daging dari diet kalian (bukan saja daging merah, ayam termasuk, ikan dan makanan laut lainnya).

Untuk Kesehatan kalian:

Banyak penyakit yang berkaitan dengan memakan daging semakin sering dan semakin umum dijumpai. Penyakit ini bisa dihentikan dan dicegah dengan mengadopsi diet vegetarian. Dengan memakan daging kita memberikan peluang pada penyakit tersebut secara signifikan, penyakit seperti osteoporosis, asma, diabetes, obesitas, serangan jantung, kanker, dan lain-lain.

Ø Osteoporosis disebabkan karena mengkonsumsi daging yang terkandung lemak hydrogenated. Lemak ini yang menghilangkan kalsium di dalam tubuh lewat urine.

Ø Nutrisi dari daging telah dilebihkan oleh para industri daging. Daging mengandung lemak dan kolesterol yang bisa menghambat pembuluh darah vena dan arteri, yang dapat menyebabkan serangan jantung.

Ø Kebanyakan penjagalan binatang melakukannya dengan keadaan tidak sehat dan tidak higenis. Selain itu mereka juga memberikan obat untuk meningkatkan produktivitas. Obat ini tetap terkonsentrasi di dalam daging dan dikonsumsi oleh orang yang memakannya.

Untuk Lingkungan:

Hutan semakin rusak untuk menyediakan rumput/padang rumput untuk penjagalan binatang, itu dapat membinasakan habitat liar dan seluruh ekosistem.

Ø Untuk merubah hutan liar menjadi padang rumput menyebabkan hilangnya kesuburan tanah.

Ø Menyebabkan hilangnya sumber air yang tersimpan di bawah tanah.

Ø Binatang tersebut menghasilkan kotoran yang banyak, menyebabkan polusi terhadap sungai, danau, dan laut. Polusi ini lebih kuat dibandingkan dengan yang lain, yang disebabkan oleh manusia.

Ø Hutan hujan tropis, seperti Amazon, telah rusak untuk menyediakan permintaan daging di dunia.

Ø Penelitian dari Universitas California menyebutkan untuk memproduksi 0,5 kg gandum, dengan 0,5 kg daging, daging membutuhkan 100 lebih banyak air dibandingkan gandum. Itu berarti bahwa satu buah sapi bila dibandingkan dengan pengunaan air maka dapat menghidupi 16 jenis tumbuhan.

Untuk Orang-orang Kelaparan:

Ketika jutaan orang mati karena kelaparan, kebanyakan sumber dari agrikultur pindah ke pemeliharaan lembu untuk memperbaiki kondisi hidup.

Ø Setiap 2 detik, di dunia anak-anak meninggal karen kelaparan. Kalau masyarakat mengurangi mengkonsumsi daging sebanyak 10%, 60 juta orang dapat diberi makan dengan padi yang digunakan untuk memberi makan binatang potong.

Ø 20 orang vegetarian dapat menghemat tempat yang luasnya sama dibanding 1 orang pemakan daging.

Untuk Binatang:

Di Brazil, hampir 1 juta binatang dibunuh setiap tahunnya.

Ø Nelayan yang menggunakan jala (dan peralatan modern lainnya untuk memancing) membunuh jutaan binatang laut, mempengaruhi seluruh ekosistem. Jala ikan dapat membunuh 10 kali lebih banyak daripada binatang yang sebenarnya ingin ditangkap.

Ø Anak sapi jantan yang baru lahir langsung diambil dan dipisahkan dari ibunya, dirantai lehernya dan dibiarkan berdiri di pagar yang kecil. Selama 16 minggu, mereka tidak bisa bergerak, diisolasi dan diberikan makan diet yang kurang zat besi, supaya daging mereka terasa enak & sedikit lemak seperti ayam atau ikan.

Ø Ayam betina ditempatkan di tempat yang sempit dan dikelilingi kandang, jadi mereka tidak bisa menggerakan sayapnya ataupun berdiri. 95% dari mereka mati karena stress. Paruh mereka dipotong dengan besi panas supaya mereka tidak bisa menyakiti sesamanya. Sakit yang mereka rasakan sama dengan jika tangan kita diamputasi tanpa obat bius.

Ø Babi-babi terkonsentrasi di tengah yang lebarnya hanya 2 meter. Tempat ini sangat kecil sehingga mereka tidak bisa bergerak di lumpur.

Apa Yang Bisa kalian Lakukan?

Sesuatu yang sehat dan perilaku yang manusiawi dapat kalian mulai dari makanan kalian selanjutnya. Menghindari produk hewani, kalian membantu diri kalian sendiri, alam dan binatang. Termasuk semua jenis daging. Makan sayuran lebih banyak, gandum, dan buah-buahan. Coba makanan transisi, tersedia di toko makanan dan supermarket. Hamburger dan hotdog vegetarian sangatlah enak, lasagna dari tahu dan pilihan yang lezat lainnya. Tanya pilihan makanan vegetarian di sekolah kalian, kantor atau restoran favorit kalian. Sadarlah kalau pemerintah mendukung industri binatang, mengizinkan peternakan sapi di lingkungan umum. Baca lebih banyak tentang vegetarian. Cari di buku, majalah, koran, fanzine dan publikasi lainnya. Cari tahu tentang group atau orang yang berpikiran sama dengan kalian dan juga dengan asosiasi perlindungan binatang. Kontak dan bergabunglah dengan mereka! Dan ingat, untuk membuat perubahan semuanya itu tergantung dari kita.

Selamat Mencoba Menjadi Seorang Vegetarian…

Arm Your Love, Then…The Bad Days Will End!

Pagi itu kulihat Flo duduk seorang diri dengan tenang di sofa biru tersebut, meringkuk dengan menggenggam secangkir teh. Seorang diri tetapi masih tampak begitu menikmati momen, memberikan jawaban berupa senyuman pagi padaku dalam kebahagiaan akan penerimaan akan diriku. Seorang diri dalam remangnya pagi, cahaya mentari yang menerobos jendela yang mulai memudar, membanjiri seluruh kepalanya bersanding dengan harumnya parfum selendangnya, juga kedamaiannya. Mungkin ia telah mengerti bahwa ini semua akan berlangsung lebih lama daripada hanya satu malam saja - senyuman di pagi hari, sarapan yang malas dan mengalun. Segalanya telah menjadi baik.

Tapi harus berhati-hati, tetap tenang, kuburkan sedikit pengharapan. Kadang seorang pecinta dapat membantumu membuka diri untuk mencinta seluruh temanmu, lebih lagi, saling berbagi hidup. Dalam puncaknya, ia akan hadir karena ia akan mengingatkanmu bagaimana mencinta, membuka, dan bagaimana hidup justru menjadi begitu indah saat kita membaginya.

Hal terburuk adalah saat emosi tersebut hanya berada di satu sisi dan berdiri pada sekedar layanan pendukung seksual. Flo telah mengetahui hal ini dengan baik dan melihatnya beberapa kali, “teman-teman terbaiknya” memperlakukan pasangannya seperti sebuah kotoran. Hampir semua lelaki tampak bersandar penuh pada partner perempuan mereka, kebanyakan tidak menyadari bagaimana mereka dapat melakukannya. Ia mengerti karena ia mengalaminya. “Kadang cinta tak hadir dengan mudah” dan begitulah adanya. Walaupun segalanya tampak begitu natural, mungkin itu karena partnermu membuat segala kompromi yang tak tercatat. Dalam titik tersebut, maka sebuah relasi telah menjadi sebuah pekerjaan tak berbalas dari hasil seseorang.

Ini semua membutuhkan setidaknya dua orang pecinta yang benar-benar nyata, bukan sekedar “romansa” yang begitu memuakkan melainkan cinta kasih, bukan sekedar eksploitasi emosional yang “normal” melainkan kenikmatan mutual sebagai sebuah basis akan sesuatu yang lebih besar dan lebih baik.

Romansa yang ditawarkan oleh televisi dalam sinetron dan telenovela ditawarkan pada kita sebagai satu-satunya komunitas yang mungkin, sebuah kepemilikan atas satu sama lain dan juga sebuah dukungan emosional satu sama lain untuk dapat terus bertahan hidup dalam kekejaman dunia modern. Satu-satunya yang sukses dari berbagai relasi antar manusia yang tidak dipertimbangkan dalam terminologi bahwa sebuah relasi maksimum tak hanya antar dua orang saja. Beberapa relasi menjadi eksklusif, memisahkan dua orang yang terlibat dari orang lainnya dan diperkuat dengan penjagaan rasa cemburu agar yakin relasi tersebut tak melibatkan orang lain lagi.

Romansa menjadi sebuah privatisasi, pembatasan dan pendistorsian hasrat kita untuk berelasi dengan orang lain dalam cara yang lebih berarti, atas hasrat untuk menemukan sebuah petualangan dalam relasi dengan orang lain. Romansa, sebuah sup yang mengepulkan ketertarikan yang justru membatasi hasrat kita. Romansa, menyalurkan hasrat hanya melalui lingkaran rantai kepemilikan, mengekang hasrat untuk sebuah komunitas yang begitu bebas berinteraksi, bermain, berpetualang dengan kesukaan yang tinggi.

Cinta bukanlah romansa. Ia juga bukan sebuah penderitaan martir dalam masokisme politis dan religius. Ia adalah tawa lepas yang membawa serta benih-benih komunitas. Ia tidak terbatas pada partner seksual, keluarga ataupun kawan dekat. Ia adalah keceriaan yang kita temukan dalam diri orang lain dan yang orang lain temukan dalam diri kita. Sebuah penemuan yang memperlihatkan bahwa hidup tidaklah seorang diri, melainkan sebuah interaksi banyak orang. Bila kita semua ada dalam keceriaan, bagaimana bisa kita tidak saling jatuh cinta?

Dalam kehampaan rasa komunal, cinta adalah bom waktu yang dapat menghancurkan alienasi dan eksploitasi dari sesama. Inilah yang menjadi dasar dari komunitas manusia yang saling mendukung dan membebaskan.

Flo melirik padaku, “cintailah kekasihmu seakan engkau mencintai dirimu sendiri, bangunkan ia seakan engkau membangunkan dirimu sendiri, lepaskan ia seakan engkau melepaskan dirimu sendiri, jangan korbankan ia seperti engkau tak mau menyakiti dirimu sendiri. Bentangkan sayapnya seperti engkau bentangkan sayapmu selebar engkau mampu, dan bersamanya raihlah mentari, gapailah bulan. Biarkan angin membisikan pada diri kalian kemana kalian akan melayang lepas, nikmati hembusannya, meliuklah di balik awan di bawah sinar rembulan. Dan gapailah bintang di tempat yang paling utara. Dan hanya untuk satu kali, tengoklah ke belakang dan ucapkan: ‘selamat tinggal dunia yang kejam, kami telah memulai hidup’.”

“Cium aku dengan gairah yang mengintrik erotisme, dalam bayang-bayang yang berlari dalam pasir. Sentuh aku sepenuh adrenalin yang dicuri dari berbagai momen. Tekan aku dengan kelembutan yang terekspos di bawah reruntuhan nekropolis.”

…ini hanyalah sebuah awal

Tak ada lagi batas untuk diruntuhkan, tak ada lagi mata rantai untuk dipatahkan selain pikiranmu sendiri. Kemabukan yang begitu tenang. Hasrat untuk hidup bebas, mencinta dan melarikan diri. Mimpi-mimpi telah mendahagakan diri akan harapan, menggigit dan menekan hidup. Interlude yang menggeliat, gerak yang melilit jemari, tangan yang meremas lembut dalam genggaman, melepaskan orgasme kemerahanmu lebih daripada aksi apapun. Cinta tak akan terdefinisikan, begitu subtil. Maka saat itulah affair cintaku dengan sebuah spirit yang tak bernama bermula…

Marilah Kita Saling Jatuh Cinta…

“Tuhan mencintai burung, maka Tuhan menciptakan pohon agar burung tersebut mendapat tempat bermain yang bebas. Tapi manusia merasa mencintai burung, maka manusia menciptakan sangkar yang membuat burung tersebut tak dapat terbang dengan bebas.”

Jatuh cinta adalah sebuah aksi paling pokok dari sebuah revolusi, dari perlawanan terhadap kemapanan saat ini, keterbatasan sosial dan kultural, serta ketiada artian dunia ini.

Cinta mentransformasikan dunia. Dimana sang kekasih sebelumnya merasakan kebosanan, kini dengan cinta dia merasakan nafsu dan gairah. Disaat sebelumnya dia merasa puas dengan keberadaan dunia saat ini, kini dia merasa sangat bergairah dan berusaha untuk beraksi menuntut hak-haknya. Dunia yang sebelumnya terlihat kosong dan membosankan, kini menjadi dunia dengan penuh arti dan makna, penuh dengan berbagai resiko dan larangan, dengan keagungan dan bahaya. Hidup bagi seorang kekasih adalah sebuah anugerah, sebuah petualangan dengan taruhan kemungkinan yang tertinggi; setiap momen adalah sebuah kenangan, patah hati dan kesedihan menjadi sebuah noda yang memperindah kecantikan dan kegairahan hidup. Saat merasakan jatuh cinta, seorang kekasih yang sebelumnya merasa kehilangan arah, teralienasi dan kehilangan pegangan hidup akan mulai menemukan dan mengerti apa keinginan pribadinya. Secara cepat eksistensinya akan sangat berpengaruh pada dirinya; menjadi sangat berharga dan bahkan menjadi sangat agung dan mulia bagi dirinya. Gairah yang membara adalah sebuah antidot yang akan mengobati kasus kekecewaan terburuk dan akan menarik diri dari ketertundukan.

Cinta membuat segala hal menjadi mungkin bagi individual untuk berkomunikasi dengan yang lain dalam cara yang sangat berarti - cara yang membuatnya untuk meninggalkan sangkarnya dan mengambil resiko spontanitas dan melawan tata krama secara bersamaan, untuk saling mengenal dalam cara yang kadang tak terpikirkan sebelumnya. Karenanya cinta juga membuat segala hal menjadi mungkin bagi kekasih untuk saling memperhatikan dan peduli akan kebutuhan sesamanya dengan menggunakan perasaan terdalamnya atas kesadarannya sendiri, bukan karena atas suruhan dan petunjuk dari kitab agama atau doktrinasi kaum kanan. Dan dalam saat yang bersamaan, hal tersebut membuat sang kekasih keluar dari rutinitas kehidupan sehari-hari yang memisahkan diri kita semua dari kehidupan sosial dan kemanusiaan. Sang kekasih juga akan membuat batas sendiri dari alienasi sosial dan semua orang yang terlibat di dalamnya untuk kemudian hidup seakan dia berada di dunia penuh warna yang jelas berbeda dengan orang lain yang menjalani hidup tanpa warna dalam kondisi alienasi sosial saat ini.

Dalam konteks ini cinta adalah sebuah tindakan subversif, karena cinta menjadi sebuah ancaman terhadap pemapanan aturan-aturan dalam kehidupan modern. Produktifitas kerja harian yang membosankan yang disosialisasikan dengan berbagai etika modern tak akan ada artinya lagi bagi mereka yang sedang jatuh cinta, karena bagi sang kekasih kekuatan yang dianggap lebih penting akan menjadi petunjuk bagi dirinya sendiri bukannya petunjuk yang mengacu kepada tradisi atau etika yang dimapankan oleh sistem. Strategi pemasaran yang disusun berdasarkan keapatisan atau ketidak nyamanan sosial agar dapat menjual produknya yang merupakan inti dari sistem komoditi yang menjalankan roda ekonomi saat ini, tak akan ada artinya bagi sang kekasih. Dunia hiburan yang didesain agar massa mengkonsumsi sesuatu dengan pasif, yang berdasarkan kepada sisnisme dan keimpotenan para pemirsanya, tidak lagi akan menarik hati sang kekasih.

Tak ada tempat bagi para kekasih yang bergairah dan romantis dalam dunia saat ini, baik dalam dunia bisnis maupun dalam dunia pribadi. Bagi sang kekasih akan sangat lebih berharga untuk berjalan-jalan di jalanan kota maupun pantai untuk sekedar menatap bulan purnama di langit atau sekedar memandangi bintang dan awan bersama pasangannya daripada harus berkutat dengan soal-soal kalkulus atau ujian atau wawancara kerja atau juga menjual sebuah produk - yang bagi dunia modern hal-hal tersebut akan sangat berguna bagi masa depan perekonomian - dan apabila sang kekasih memutuskan untuk mendahulukan hal yang dianggapnya lebih berharga tersebut, dia akan melakukannya dengan segenap keberanian untuk menghadapi resiko dari tindakannya tersebut.

Dia tahu dengan pasti bahwa menerobos daerah yang di tutup dan bercinta di bawah hamparan bintang di langit akan menjadi sebuah momen indah yang tak terlupakan daripada menghabiskan waktu menonton acara di televisi yang penuh dengan iklan dan doktrinasi. Karenanya, cinta menjadi sebuah ancaman bagi ekonomi yang memapankan sifat konsumtif yang menghipnotis massa, dengan berbagai produknya dengan melalui iklan di media massa, sehingga publik tak lagi membeli sebuah produk karena kebutuhannya akan produk tersebut.

Dengan demikian maka cinta menjadi sebuah ancaman juga bagi sistem politik, dimana akan menjadi semakin sulit untuk mempengaruhi seorang laki-laki untuk mengabdikan dirinya - untuk berjuang dan berkorban - pada abstraksi negara dan sistemnya. Seorang laki-laki akan memilih untuk hidup dan mati demi kekasihnya daripada harus hidup dan mati demi negaranya. Cinta juga akan menjadi ancaman bagi segi kultural dalam segala bentuknya, karena sang kekasih akan memilih untuk menomorduakan tradisi dan segi kultural dari sistem negara yang mendominasi dan mengekang segala gerak massa dibandingkan dengan kekuatan perasaan yang dimiliki oleh dirinya dan menuntun jalannya sendiri.

Cinta juga menjadi ancaman bagi masyarakat itu sendiri. Cinta yang penuh gairah selalu ditentang oleh masyarakat borjuis karena hal itu merupakan sebuah bahaya bagi kestabilan kemapanan sosial yang menguntungkannya. Cinta memperbolehkan untuk membuat kejujuran, keterbukaan dan segala ketransparanan, untuk kemudian meletakannya pada kekuatan emosi dan membuka rahasia-rahasia dimana laki-laki dan perempuan yang tunduk oleh sistem tak akan berani untuk mengatakannya. Sang kekasih tak akan dapat berbohong kepada respon seksual dan emosionalnya; situasi-situasi tertentu akan mempesonakan dan menggairahkan baginya tak peduli apakah dia berusaha menolaknya atau tidak, apakah hal tersebut dianggap sopan atau tidak, apakah diperbolehkan oleh tradisi dan dogmatisme agama atau tidak. Seseorang tidak akan dapat menjadi seorang kekasih dan bertanggung jawab terhadap sistem masyarakat komoditas dalam waktu yang bersamaan; karena cinta akan membuat sang kekasih tidak lagi mempedulikan apakah dia berdedikasi dan dianggap penuh respek atau tidak. Cinta yang sesungguhnya tidaklah bertanggung jawab terhadap sistem komoditas saat ini, melainkan penuh dengan gairah dan gelora pemberontakan, tak peduli apakah hal tersebut dianggap pemberani ataukah pengecut oleh sistem, tak peduli apakah hal tersebut akan berbahaya bagi dirinya maupun bagi tatanan sistem masyarakat di sekitarnya, karena dia hanya akan melayani satu tujuan: gairah cinta yang membuat jantung seseorang berdetak lebih kencang. Cinta melupakan segalanya, baik itu nilai kesopanan, ketertundukan maupun rasa malu. Cinta mendorong baik laki-laki maupun perempuan ke dalam heroisme yang sejajar dalam saat yang bersamaan dengan berbagai sikap anti-heroisme - untuk mendefinisikan keberanian untuk saling melindungi siapapun atau apapun yang dikasihinya.

Sang kekasih akan berbicara mengenai nilai moralitas dan bahasa emosional yang berbeda daripada yang dikembangkan dan dimapankan oleh kelas borjuis. Kelas borjuis hanya mengenal satu kata: kepatuhan, dan menolak kegairahan akan sesuatu yang baru dan mengancam kelangsungan posisinya. Kelas borjuis memapankan pemikiran untuk selalu tunduk dan diam dalam kesunyian dan penerimaan akan tradisi sosial yang telah diset sedemikian rupa bagi diri undividu dalam masyarakat, melalui keluarga, guru, pekerjaannya, negaranya, adat istiadatnya tanpa pernah ada kemauan untuk memperhatikan kebutuhan dan keinginan individunya sendiri. Tanpa keberadaan gairah yang menggelora dalam dirinya, seseorang tak akan memiliki kriteria sendiri yang memisahkan mana yang baik dan buruk menurut dirinya sendiri, yang dengan demikian maka konsekwensinya adalah menerima segala dogma ataupun doktrin yang dicekokkan kepadanya sepanjang hidupnya di dunia ini. Berapa banyak laki-laki dan perempuan tidak pernah melihat kenyataan bahwa mereka memiliki banyak kesempatan untuk memilih nasibnya sendiri, jalan hidupnya sendiri, lalu kemudian memilih untuk mengikuti saja kemana arah hukum dan aturan dijalankan oleh mereka yang memiliki kekuasaan hanya karena mereka merasa tak lagi memiliki ide lain tentang apa yang harus dilakukan? Sang kekasih yang jatuh cinta, tak lagi kebingungan untuk memilih jalan di luar jalur yang telah diajarkan oleh sistem, tak lagi memerlukan prinsip yang dimapankan untuk kepentingan pabrik, karena gairah dan hasratnya telah mendefinisikan bagi dirinya sendiri apa yang baik dan apa yang buruk, dan membiarkan hatinya sendiri yang menentukan kemana dia harus menjalani hidupnya. Sang kekasih akan dapat melihat keindahan dan betapa berartinya seluruh isi dunia, karena dia telah mengecat seluruh isi dunia dengan warna-warna yang beraneka ragam, bukannya hanya hitam dan putih. Dia tak lagi membutuhkan dogma-dogma, sistem moralitas ataupun aturan-aturan negara dan tradisi, karena dia mengetahui dengan pasti apa yang harus dilakukannya walaupun tanpa instruksi sama sekali.

Hal itu jugalah yang menjadi inti ancaman bagi tatanan masyarakat saat ini. Apa yang akan terjadi apabila setiap orang dapat menentukan sendiri apa yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri tanpa membutuhkan bimbingan yang mengatasnamakan moralitas? Apa yang akan terjadi apabila setiap orang melakukan apapun yang mereka pikir benar dengan keyakinan mereka sendiri dan keberanian mereka untuk menghadapi resikonya? Apa yang terjadi apabila setiap orang lebih ketakutan untuk kehilangan rasa cinta yang mereka miliki, kehilangan kegairahan hidup lebih daripada ketakutan untuk mengambil resiko, ketakutan akan kelaparan, kedinginan ataupun bahaya sekalipun? Apa yang akan terjadi jika semua orang mematikan pertanggungjawaban terhadap sistem dan memilih untuk menghidupkan impian liarnya dan menjalani hidup setiap hari seakan hidup tak pernah berakhir? Pikirkan bagaimana dunia ini jadinya! Jelas dunia ini akan menjadi sangat berbeda dengan kondisi saat ini, dunia akan menjadi sangat indah dan berwarna-warni - satu hal yang akan sangat ditakuti oleh mereka yang menguasai perekonomian pasar dan status quo: perubahan.

Dan juga, diantara imej stereotipikal yang digunakan oleh media untuk menjual pasta gigi atau liburan bulan madu, sebenarnya cinta yang bergairah berusaha dimatikan oleh kultur kita. Sikap ‘terbawa oleh emosi’ berusaha dibekukan, bukannya semakin didorong agar kita semua tumbuh dengan keyakinan hati kita. Bukannya malah didorong, keberanian untuk mengambil resiko atas keputusan dan kata hati selalu dihambat. Kita malah didorong untuk tidak berani mengambil resiko sama sekali dan kemudian memilih untuk jadi seseorang yang ‘bertanggung jawab’. Maka cintapun didefinisikan lain. Seorang laki-laki dilarang untuk jatuh cinta kepada laki-laki lainnya, seorang perempuan dilarang untuk jatuh cinta kepada perempuan lainnya, seorang individual dilarang mencintai mereka yang memiliki latar belakang suku dan etnik yang berbeda, adanya pelarangan yang mapan dalam tradisi dimana jatuh cinta menjadi tabu diantara mereka yang memiliki latar belakang ekonomi yang berbeda. Laki-laki dan perempuan harus melegalkan hubungan cinta mereka dengan menggunakan kontrak religius ataupun surat legal yang berhak menentukan apakah sepasang kekasih boleh memelihara cintanya ataukah tidak. Cinta bagi kebanyakan diri kita saat ini, adalah sesuatu yang didefinisikan lain, yang dianggap sesuatu yang hanya terdapat pada malam minggu di restoran-restoran mewah ataupun fast food multinasional terkenal atau juga di bioskop-bioskop ternama yang menguras isi dompet, yang hanya memperkaya para pemilik modal dari perusahaan-perusahaan tersebut tanpa mempedulikan bagaimana buruh-buruh mereka bekerja tepat waktu siang malam dan menguras tenaganya di situ.

Dalam artian ini, ‘cinta’ yang komersial seperti itu berarti tidak sama dengan cinta yang menggairahkan, membakar dan saling berbagi dan memperhatikan. Pembatasan-pembatasan definisi kata cinta, penyalahgunaan kata cinta yang biasanya hanya memapankan sistem dewasa ini, telah menyingkirkan arti cinta yang sesungguhnya; cinta yang berarti seperti sebuah bunga liar yang tumbuh dengan indah tanpa pernah diharapkan untuk muncul untuk kemudian dapat berkembang dengan sesuai harapan tanpa harus ada aturan baku dalam memeliharanya.

Kita harus melawan segala bentuk pembatasan sosial dan kultural yang hanya akan mencabik-cabik dan meruntuhkan gairah yang kita miliki. Untuk hal tersebut, hanya cinta yang dapat memberikan arti kepada kehidupan, memberikan hasrat yang membuat diri kita merasa berharga atas eksistensi hidup kita dan menunjukan tujuan hidup kita. Tanpa hal-hal tersebut tak ada jalan bagi kita untuk menentukan sendiri bagaimana kita harus menjalani hidup kita kecuali mengabdikan diri kita pada penguasa, pada sesuatu yang metafisis, pada boss atau menjalani doktrin sosial yang menentukan apa yang harus kita lakukan tanpa memberikan kepuasan kepada diri kita seperti yang diberikan oleh self-determinasi. Maka karena itu, jatuh cintalah hari ini, kepada laki-laki, perempuan, kepada musik, kepada bumi, alam dan lingkungan, dengan ambisi dan dengan dirimu sendiri, dan juga jatuh cintalah kepada hidup itu sendiri!!!

Seseorang mungkin akan berkata bahwa sangat konyol untuk mendorong orang lain agar jatuh cinta - yang satu jatuh cinta atau yang lain tidak - tapi hal ini sebenarnya tidak dapat dilakukan dengan penuh kesadaran. Emosi tidak mengikuti instruksi manapun dari pemikiran yang rasional. Tetapi lingkungan dimana kita harus menjalani hidup, memiliki influens besar bagi emosi kita, dan kita dapat membuat keputusan rasional yang dapat mempengaruhi lingkungan. Akan sangat mungkin untuk memperjuangkan perubahan lingkungan dengan cara memberikan cinta yang kita miliki kepada lingkungan yang kemudian akan memberikan emosi-emosi lain kepada orang lainnya. Jalur kita adalah untuk mengemudikan dunia kita sehingga dunia ini akan penuh dengan orang-orang yang jatuh cinta, sehingga dengan mengembalikan rasa kemanusiaan tersebut, maka kita semua akan semakin siap dengan kata-kata ‘revolusi’ yang selama ini kita bicarakan tanpa akhir - yang membuka jalan kepada pengekplorasian arti kehidupan dan mengisinya dengan kebahagiaan hidup kita semua.

Kebanyakan dari kita, bergerak dengan menggunakan kebencian sebagai energi kita. Tapi kita sering lupa bahwa tak akan pernah ada kebencian tanpa kita memiliki rasa cinta dalam hati kita. Karenanya, marilah kita memulai segalanya, bergabung dengan aksi resistansi dengan mulai saling jatuh cinta…

The Manipulative and Deceiving God

Siapa bilang kita membutuhkan tuhan untuk menjalani hidup kita?

Kita mau bicara soal apa sih, tuhan, agama atau hidup?

Kita bicara tuhan saja, walaupun ketiganya cukup terkait erat. Kalau agama tidak ada, tuhan juga tidak laku. Kalau tuhan tidak ada, agama di khalayak umum tidak ada yang mau mendengarkan, tapi di kalangan tertentu akan diterima dengan debat kusir. Kalau tidak ada umatnya, agama pasti tidak akan berkembang dan manusia tanpa agama pastinya pada akhirnya akan ada yang mendirikan agama baru. Tapi pada dasarnya dengan atau tanpa tuhan, dengan atau tanpa agama…hidup akan terus bergulir.

So…tadi bilang apa…siapa membutuhkan siapa?

Tuhan membutuhkan kita, kalau tidak ada kita juga pasti tidak ada yang mau mendengerkan omongan dia, dia mau berkotbah dengan siapa coba? Atau mungkin tidak ada yang mau melakukan perintah dia. Coba kalau manusia sebumi ini pada sepakat protes kepada tuhan tidak mau lagi mendengerkan dia, dia pasti pergi mencari dunia lain yang membutuhkan dia.

Agama tanpa tuhan, akan pincang jalannya; tapi tuhan tanpa agama…hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menerimanya, Gab.

Dasarnya sih satu saja, tuhan tidak bisa disebut tuhan tanpa ada pengakuan dari umatnya…

Kita bicara tentang tuhan yang mana?

Memang ada berapa banyak tuhan yang kalian kenal?

Banyaklah…Aku sampai bingung karena banyak yang mengaku jadi tuhan. Jangan-jangan, salah satu dari mereka itu adalah tim kita yang disuruh mengaduk-ngaduk urusan keimanan manusia…

Ya…pokoknya tuhan, lepas dari konteks agama dan ajarannya, apapun itu macam dan bentuknya…

Lah, pada hakikatnya siapa sih tuhan itu? Siapa yang menobatkan tuhan menjadi tuhan, kalau tuhan ditanya kamu mengklaim diri menjadi tuhan ya, mungkin dia akan menjawab: “tidak…kebetulan saja namaku tuhan…he he he…” Kalau boleh diambil gampangnya, tuhan itu ‘kan hanya makhluk jadi-jadian yang diciptakan oleh pendahulu kita supaya kita takut, supaya kita tidak punya ruang gerak dan waktu yang tidak terbatas untuk melakukan apa yang kita inginkan. Tahu ‘kan kamu, seperti di Gn. Kawi sana, banyak yang memilih menjadi harimau jadi-jadian, atau babi jadi-jadian biar pada kaya.

Tuhan itu mikir kali ya, mending aku yang disembah deh – daripada aku mesti saingan dengan iblis mending aku mengaku saja kalau aku yang menciptakan dunia dan alam semesta…Kira-kira, bisa gitu tidak ya kejadiannya, daripada iblis dianggap tuhan ‘kan mendingan tuhan dianggap tuhan…?

Ha ha ha…kalau soal itu mesti tanya tuhan dan iblis tentang bagaimana sejarahnya salah satu dari mereka bisa menjadi tuhan…Sekarang begini, bukti kalau tuhan butuh kita…coba deh…siapa yang mau mendengarkan omongannya? terus kalau manusia tidak butuh tuhan maka hampir semua mesjid, klenteng, sinagog, gereja dan kuil jadi tidak laku, jadi kosong karena pada tidak ada yang datang. Kalau agama dan tuhan sudah tidak berumat, itu karena orang-orang sebenarnya tidak membutuhkan dia…dia itu yang membutuhkan umat, membutuhkan orang, membutuhkan manusia, membutuhkan kita. Mana ada agama bisa berkembang pesat kalau tanpa umat…jadi pada dasarnya tuhan itu membutuhkan kita.

Bisa jadi…! Mana ada sih pimpinan yang tidak ingin selalu dielu-elukan oleh rakyat atau bawahannya, kalau bisa setiap saat, setiap waktu banyak diberikan puja-puji terima kasih dan upeti, mana ada sih pimpinan yang tidak ingin mempolitisir dan memanipulasi pikiran rakyat dan bawahannya, mana ada sih pimpinan yang bisa memimpin tanpa ada rakyat atau bawahannya?

Jangan-jangan kalau tuhan tahu bahwa dia tidak mempunyai umat di bumi ini, dia pasti akan pergi dari bumi ini dan mencari dunia lain untuk mendapatkan umat baru, mendirikan agama baru, dan pada saat tuhan pergi mencari dunia atau agama atau umat yang baru, pada saat itulah bumi kita akan lebih damai dan tenteram. Karena apa…? Ya, karena begitu tuhan pergi dari muka bumi ini, begitu juga semua iblis dan setanpun akan pergi mengikutinya. Tuhan tidak bisa hidup tanpa setan dan iblis, demikian juga sebaliknya.

Yup. Betul, hmmm…betul apa yang barusan kusebutkan tadi, bahwa pada saat manusia tidak membutuhkan tuhan lagi maka tuhan akan pergi – tapi tidak pergi tanpa usaha. Tuhan akan berkolaborasi dengan iblis sebelum pergi, untuk meyakinkan diri sendiri bahwa memang manusia sudah pada tidak membutuhkan tuhan lagi. Antek-anteknya tuhan pasti akan berusaha keras melakukan indoktrinasi, ancaman, penekanan, propaganda dan segala macamnya agar manusia makin disesatkan pada pemikiran bahwa manusia membutuhkan tuhan.

Manusia itu merupakan target-market paling mudah untuk tuhan. Mana mungkin tuhan menjual agamanya kepada binatang, tumbuhan dan bintang atau bulan, mana mungkin?! Manusia itu suatu objek yang paling mudah dipermainkan, mudah dipancing, mudah dibakar emosinya karena dari semua makhluk hidup yang ada di bumi ini hanya jenis manusia saja yang paling sombong; sesumbar bahwa dia memiliki otak dan bisa memberikan kemajuan kepada alam semesta.

Ya…justru yang paling sombong itu yang paling gampang dijatuhkan dan dibakar. Tuhan memang ahli marketing-strategy yang terbaik sesudah Pak Harto, makanya penjualan produksinya meningkat terus, dibeli orang dimana-mana tanpa dipikir lagi, semua berlomba-lomba untuk membeli apa yang dijual karena laris manis tanjung kempul…huheuhe!

Tuhan itu tidak goblok, dia pintar memainkan romantisme agama yang dipadu dengan hukum dagang dosa – pahala. Ajang dia bermain itu dirasa dan pikiran manusia, diputarbalikkan sedemikian rupa sampai semua orang percaya pada apa yang dianggapnya sebagai perintah tuhan. Sampai-sampai tiap manusia berlomba-lomba untuk mengedepankan apa yang diyakininya tanpa menyadari bahwa seharusnya sebagaimana seorang manusia yang santun dan beradab, dia harus rendah hati tentang apa yang dimilikinya. Orang-orang kepercayaan dia itu sudah tahu bagaimana membuat suatu pembenaran atas nama tuhan, bagaimana mempropagandakan dan membesar-besarkan romantisme agama dengan sebaik-baiknya sehingga manusia makin tersesat mencari jati dirinya.

Hmmmm…Kita itu hanya digoblok-goblokin oleh tuhan selama ini, kita termakan oleh pikiran kita sendiri, oleh pola pikir tradisi yang telah berabad-abad dianut, kalau kita tidak bisa hidup tanpa tuhan. SIAPA BILANG? Makanya nieztsche bisa bilang tuhan sudah mati. Makanya Zarathustra bilang bunuh tuhan kalian. Makanya Osho Rajneesh bilang ketika tuhan pergi, maka kalian akan menyadari bahwa diri kalianlah tuhan yang sebenarnya.

Wah…kesannya nantangin tuhan banget…kesannya mencobai tuhan. Tapi aku suka ideologinya. Setiap manusia bisa menjadi tuhan untuk dirinya sendiri.

Orang-orang dengan pemikiran seperti mereka itu sangat jarang, tapi sekali mereka mempropagandakan pemikirannya maka mereka dihujat. Kalau saja propagandanya berhasil dan mereka bisa menggalang massa di kalangan manusia, tuhan segera tahu kalau dia dalam posisi yang terancam. Dengan cara apapun akhirnya tuhan menurunkan pasukannya untuk membunuh atau memusnahkan mereka.

Kalau saja manusia tahu bahwa dirinyalah tuhan yang sebenarnya, maka dia akan makin mencintai dirinya dengan lebih baik, membuat hidup dan lingkungan di sekitar dia menjadi lebih ceria, lebih sederhana, lebih terfokus kepada pemujaan untuk alam semesta. Pengerusakan terhadap bumi dan alam semesta ini dilakukan karena manusia tidak menyadari hal-hal yang paling mendasar.

Betul, manusia banyak berdalih segala macam alasan untuk memuja nama tuhan. Membangun rumah tuhan dimana-mana dengan meminta sumbangan yang sifatnya memaksa, membuat jalanan macet, pengancaman kalau tidak menyumbang maka tidak dapat bisnis baru, dan lain sebagainya. Lalu kalau rumah tuhan sudah terbangun, kalau ada yang merusaknya maka menuduh manusia lain dan kalau bisa berperang sekalian, perang syahid katanya.

Dengan alasan terjadi perusakan di dalam rumah tuhan maka manusia kemudian beramai-ramai mengadili orang yang dituduhnya, mengutuk perbuatannya, mengatasnamakan tuhan dan agama dalam perbuatan itu, berteriak-teriak bahwa kesucian rumah tuhan telah dilanggar…Padahal manusia tidak menyadari bahwa dia sendiri juga mengadakan perusakan besar-besaran terhadap rumah tuhan yang paling hakiki.

Maksudnya?

Rumah tuhan yang paling hakiki adalah alam semesta ini, dan isi rumah tuhan ini; isi alam semesta ini telah dirusak dan diputarbalikan sedemikian rupa karena keserakahan manusia sehingga bumi tidak lagi bisa memuja tuhan, sudah dibikin cacat. Alam semesta diobrak-abrik demi alasan kemajuan pengetahuan dan teknologi tanpa bisa mengembalikannya kepada keadaan semula. Lautan bolak-balik dikeruk dan direklamasi tanpa mengindahkan kehadiran makhluk hidup lainnya. Pada skala yang lebih kecil, di lingkungan hidup manusia sendiripun sudah terlalu egois untuk mengindahkan tetangga dan sesama makhluk hidup yang lain.

Kalau mau jujur dan dipikir lebih lanjut, kalau tidak ada tuhan, dijamin dunia tenang deh. Tuhan juga yang membuat kacau dunia. Dia bilang, dia yang memberikan peraturan-peraturan agama supaya manusia menjalankannya. Katanya, jangan serakah…jangan mengumpulkan harta kekayaan duniawi saja…jangan membunuh. Coba kalau peraturan itu tidak pernah dikeluarkan, boleh dibilang 90 persen manusia tidak akan tahu tentang keserakahan, tentang harta yang menjamin hidup dengan enak atau tentang pembunuhan. Karena adanya sosialisasi aturan itu makanya sekarang orang-orang pada serakah mengumpulkan harta untuk jaminan hidup dia mungkin juga dengan membunuh. Itu hanya sekedar contoh dari berjuta juta kasus yang sudah terjadi.

Sekarang dipikir saja, darimana manusia tahu tentang konsep kesetiaan dan pengkhianatan, konsep miskin dan kaya, konsep jujur dan berbohong kalau bukan dari tuhan…?! Benar ‘kan…? Itu sumbernya dari tuhan. Coba dirunut-runut dari siapa konsep itu datang kalau bukan dari buku-buku alkitab. Nah, kata manusia, buku alkitab itu dari tuhan. (penonton1 nyeletuk: Eeeh…benar juga…tuhan itu sudah pintar dari sananya ya, begitu tercipta tuhan bisa menulis buku, je!!!) Naaah, karena sudah tahu makanya manusia juga mulai iseng melanggar konsep dan aturannya. Coba kalau tuhan tidak memperkenalkan konsep-konsep di atas, pasti manusia tenang-tenang saja tak ada yang gontok-gontokan.

Ck…ck…ck…sebegitu dahsyat dan hebatnya yang namanya tuhan itu ya sampai bisa menguasai semua pikiran manusia dari jaman baheula sampai sekarang (penonton3 mikir: Berapa ratus juta jiwa ya itu…?) membuat mereka ketakutan, membuat mereka percaya bahwa apa yang tertulis di dalam buku-buku yang dipercayai sebagai alkitabnya adalah datang dari tuhan juga. Ada tidak ya sekolah ketuhanan? bisa jadi ada hal-hal yang perlu kita pelajari di sana untuk bisa berlaku seperti itu?

Ha…ha…ha…diperlukan suatu terobosan pemikiran yang gila-gilaan untuk bisa melawan tuhan dan indoktrinasinya!

Sudah tahu tuhan itu sangat manipulatif dan sering salah membuat aturan kok masih diikuti juga…simak saja, kalau tidak ada tolak ukur bahwa manusia harus punya harta untuk diakui keberadaannya di dunia ini oleh orang lain, pasti deh semua orang juga tidak akan berkeinginan mempunyai harta. Nah, sekarang tolak ukurnya dari tuhan itu ditulis dalam buku-buku agama, alkitab dan kitab suci yang diakui. Lah…diakui oleh siapa?? Apa tuhan pernah mengeluarkan surat ijin kalau dia mengakui bahwa kitab-kitab itu sah secara hukum? Orang yang menulis kitab-kitab itu manusia juga kok, sekarang malah dibilang itu diakui oleh tuhan sendiri.

Enak juga ya jadi tuhan, Sudah bikin peraturan yang salah masih ditakuti lagi. Ditambah lagi dengan aturan yang salah itu makin salah diartikan, salah diterapkan dan disalahgunakan juga. Terus sudah begitu ditiru lagi…!huehue…

Apa lebih baik kita bentuk tuhan yang baru saja…biar manusia menyadari bahwa masih ada tuhan-tuhan yang lain yang bisa disembah. Atau mungkin lebih baik lagi, biar tuhan yang manipulatif itu tahu kalau dia punya saingan.

Hueheuehe…manusia itu selalu hidup tidak dengan sadar, mereka tidak pernah melek mata hatinya, mereka menjalani hidupnya dengan fokus duniawi dan kesenangan mereka sendiri, sampai-sampai mereka tidak menyadari kalau mereka sendiri sudah menciptakan tuhan-tuhan yang lain…Mau bukti?

Bukti yang bagaimana lagi?

Ada manusia yang menuhankan seks, sehingga kemana-mana yang dicari hanya kepuasan seks, kalaupun dia tiap minggu ke gereja, tetap saja seks menjadi tujuan entah itu dari selingkuh dalam segala bentuknya, atau penyiksaan seks terhadap anggota keluarga, atau memperkosa.

Hhhhmmmm…

Ada yang menyembah harta dan uang, sehingga menimbun harta dengan segala cara…dia tidak pernah merasa aman kalau tidak mempunyai harta untuk hari tuanya atau untuk anggota keluarga yang akan mewarisinya…dia akan selalu mencari keuntungan harta dan uang dengan segala cara, halal atau tidak halal, tetap saja dia menyembah uang…ngejengkang ngejengking sholat 5 waktu, tapi tetap saja di pikirannya uang harta dan pernak-perniknya.

Aku mengerti sekarang…Ada juga kok yang memuja-muji kerja, menjadi workaholic seolah-olah keberadaannya di bumi ini tidak bisa diakui kalau dia tidak bekerja, tidak mencapai karir yang tinggi, tidak mempunyai ijazah yang hebat, tidak memiliki prestasi pendidikan dan karir yang bisa diakui oleh khalayak ramai.

Now you’ve got it, friends! Masih banyak contoh lainnya, seperti ada yang menyembah ketakutan – termasuk ketakutan berbuat dosa, sehingga seluruh hidupnya dilingkupi dengan ketidaknyamanan dan ketidakamanan, semua yang dihadapi dalam hidupnya diterima dengan rasa yang negatif dan kekuatiran bahwa apa yang dilakukannya belum cukup untuk menjamin kenyamanan di masa mendatang, termasuk hidup ahli warisnya. Banyak manusia yang tidak menyadari kalau setiap makhluk yang hidup di bumi mempunyai garis hidup sendiri-sendiri, mempunyai azab dan kesukaan sendiri-sendiri.

Bukti penuhanan yang lain…ada yang memberhalakan kekuasaan, bahwa tanpa kekuasaan dia tidak merasa percaya diri, bahwa dengan kekuasaan dia dapat berbuat apa saja dan mendapatkan apa saja yang dia inginkan. Belum lagi yang menyembah dan menuhankan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan lain sebagainya. Lucunya lagi, mereka semua berlomba-lomba mengagung-agungkan apa yang disembahnya…! Heuheuhew…

Ha ha ha…tuh dengar! Pada protes semua yang baca atau menguping dialog kita. Seperti biasa, kita dihujat sebagai kafir…kafirkah orang-orang yang sudah memuja-muji tuhannya tanpa mengenal siapa tuhan itu sebenarnya? Kalau memang tuhan tidak bisa diusir pergi dari bumi…(penonton 1 bisik-bisik ke penonton 2: Apa kita saja ya yang mengungsi…!? Hah…ini ‘kan rumah kita…tuhan yang datang bertamu ke sini ‘kan…siapa yang mengundang tuhan untuk datang ke sini kalau bukan manusia?) Lantas bagaimana? Apa kita harus hidup dalam pertentangan terus dengan tuhan? Kalau tuhan itu tamu di rumah kita, lantas rumahnya dia di mana yakz…?

Weleh…ini baru bukti, ini bukti baru…ha ha ha…ada manusia yang menyembah kemunafikan. Kotbah sana-sini tentang apa yang tertulis dalam kitab suci, bicara sana-sini tentang apa yang diyakininya sebagai perintah tuhan, tapi penerapannya malah nol besar, malah bergosip, menjelekkan orang, bicara di depan lain di belakang lain, berbohong, serakah, ingin mendapat titel yang terbaik dan paling takwa…Weleh…kita disebut kafir…seharusnya mereka melihat ke dalam diri mereka sendiri, mereka lihat ke dalam kaca cerminnya dan akan terpampang jelas di sana siapa yang paling kafir dan munafik…!

Sabar…sabar…manusia itu tercipta dengan keterbatasan juga, setiap manusia berbeda-beda pola pikirnya dan tiap hidup manusia itu sudah digariskan seperti apa pemahamannya tentang hidup. Mereka harus menjalani sebuah proses untuk bisa mengerti kenapa kita bisa berdiskusi seperti ini. Kalau kalian ingat, aku pernah bilang ‘kan kita harus menjalani beberapa pase kehidupan untuk bisa mengerti arti tuhan dan ketuhanan yang sebenarnya. Kalian mungkin sudah melalui 5 kehidupan, aku sudah 9 kehidupan. Orang dengan tingkat reinkarnasi rendah, pemahamannya masih jauh…

Wah…diskusinya malah semakin rumit kalau pakai tingkat reinkarnasi…he he he

Itu ‘kan usia jiwa…seharusnya sebagai manusia yang hidup dalam zaman sekarang ini mereka itu harus lebih bisa berpikir kritis dan tidak statis. Lucu saja manusia sekarang, pola pikirnya makin picik…memuja-muji nama tuhan tapi juga membawa-bawa nama tuhan untuk dijadikan perisai berkelahi dengan orang lain, membawa-bawa nama tuhan untuk mengadakan pembenaran atas tindakannya…ck ck ck…padahal kalau ditanya, apa itu tuhan, siapa itu tuhan, di mana itu tuhan, apa hakikat ketuhanan, apa itu do’a dan bagaimana berdo’a yang baik, mungkin mereka tidak akan pernah bisa menjawabnya. Begitu saja masih dengan lantang mengatakan di depan umum bahwa mereka adalah manusia bertuhan. (penonton 4 kandidat anggota tim iblis protes: Eh…kenapa tidak ada yang membawa-bawa nama iblis untuk sebuah kebaikan ya…he he he)

Mungkin saja tuhan yang mereka sembah itu mengajarkan mereka untuk berpura-pura dan berbohong, munafik dan kafir dalam jiwa, mengajarkan mereka untuk mengedepankan yang penting, yang kelihatan di depan orang banyak, bukan apa yang ada di dalam jiwanya. Mungkin tuhan yang mereka puja-puji itu telah mengajarkan suatu sistem perdagangan antara dosa dan pahala, antara kebaikan dan kejahatan. Siapa yang berbuat baik, maka tuhan akan menghitungnya sebagai pahala untuk bekal di akhirat (penonton 2 mikir lagi: Apa mereka juga tidak tahu bahwa hidup ini adalah akhirat kalau mereka tidak bisa menerima kehidupan ini apa adanya, dan surga nirwana yang nikmat kalau mereka bisa melihat sebuah keindahan ketika memperhatikan sebuah kelopak bunga merekah???) Siapa yang menyebut do’a ini sebanyak sekian kali maka dijanjikan pintu surga, siapa yang melakukan dosa maka ia harus mengakui dosanya dihadapan pemuka agama yang menjadi wakil tuhan (penonton 1 ngakak-ngakak: masya allah…tuhan ya tuhan…masa sampai mengangkat wakil di bumi…berarti organisasinya itu hebat sekali ya…tuhan yang maha segalanya masih harus mengangkat wakil di bumi untuk mengawasi orang berdosa…huehue!) Siapa yang tidak melakukan dharma maka azab akan terus mencerca hidupnya (penonton 3 ikutan nyelak: Capek ach terus-terusan melakukan dharma, bukankah kehidupan itu adalah suatu rangkaian dharma dan non-dharma yang tidak pernah berhenti? Bagaimana bisa kita harus melakukan dharma terus-menerus…tuhan saja capek mengurusi bumi makanya dia sesekali main tembak-tembakan dan main air, apalagi kita manusia…!?)

Mungkin juga tuhan mereka mengajarkan untuk menghujat terlebih dahulu tanpa mengerti atau mencoba mengerti apa yang tengah kita bicarakan. Itu karena mereka telah memakan mentah-mentah semua perintah tuhan, semua isi alkitab dan buku-buku pernak-pernik keagamaan, menelan semua perintah agama yang telah diturunkan berabad-abad tanpa membuka jiwa dan pikiran untuk mengkaji lebih dalam, apakah peraturan itu, yang katanya telah berabad-abad diwariskan, masih absah untuk dipertahankan terus…? tolol banget sih…!

Manusia ‘kan harusnya bisa lebih kritis dalam menerima makanan jiwanya. Seperti halnya mereka memilih apa yang akan dimakan untuk badannya, seharusnya mereka ‘kan berlaku seperti itu untuk jiwanya. Sebuah jiwa yang telah disucikan, akan memberikan badan dan kehidupan yang suci pula…Sekarang, pertanyaannya suci yang bagaimana…? Banyak ‘kan para pemuka agama yang mengkumandangkan bahwa dia adalah orang suci dan lain sebagainya.

Suci itu relevan, terutama suci untuk jiwa…hanya manusia itu sendiri yang tahu suci yang bagaimana yang cocok untuknya. Ini bagaimana sih, jadi bicara soal suci…perasaan tadi kita bicara soal tuhan, jadi mendingan tetap ada di koridor tuhan…jangan kemana-mana yakz…!

Oh iya…kalian dulu pernah bilang…cara pendekatan tentang tuhan yang dilakukan oleh manusia untuk memberikan indoktrinasi kepada generasi di bawahnya, pendekatan tentang tuhan maksudnya, ternyata tidak berubah. Tuhan digambarkan menjadi sosok yang kejam yang siap memberi hukuman bagi pendosa, yang tidak akan memberikan ampunan kalau manusia tidak mengampuni teman yang bersalah kepadanya, yang menunggu-nunggu di kursi ketuhanannya dengan kado-kado bagi siapapun yang punya pahala paling besar…! Wekz…

Ya…bagaimana ya…salah manusia sendiri. Mereka menciptakan tuhan dengan alasan untuk kedamaian, dan agar semua jadi teratur dan bisa diatur rapi. Sekarang saat tuhan malah maju melesat sesuai dengan kemajuan waktu dan teknologi, malah manusia jadi keteteran. Mereka tidak mengantisipasi kalau tuhan bisa berubah-ubah menurut waktu dan mode serta kemajuan zaman.

Bukannya manusia itu menciptakan tuhan supaya ada sosok yang bisa dijadikan kambing hitam. Kalau ada sesuatu yang salah dalam hidupnya, maka merekapun berdoa sambil menangis-nangis menggulung kumis tak karuan, meminta agar tuhan segera memperbaiki kehidupannya yang kacau-balau. Terlebih lagi merekapun memaki-maki tuhan, menghujat tuhan atas kesalahan yang terjadi, ada yang menjadi sinis. Adapula sih yang makin menjadi menutup diri dan fanatik juga, mengiba-iba kepada tuhan, berjanji kalau tuhan memperbaiki kesalahan hidupnya maka dia akan berubah menjadi baik (penonton 1 nyindir penonton 2: Nah…ini namanya merayu tuhan, menyogok tuhan dengan janji mau berubah menjadi baik) Apa itu bukannya mengkambinghitamkan tuhan…menyuruh tuhan mengambil alih tanggungjawabnya?

Itu ada benarnya juga…banyak yang masih mempraktekkan hal di atas. Kalian membayangkan tidak, bagaimana tuhan ngakak-ngakak tak karuan melihat tingkah laku manusia. Dia mungkin bilang, “dulu aku diciptakan oleh manusia untuk menjadikan semuanya teratur dan damai, untuk menjadi tempat pengaduan bagi manusia, sekarang baru tahu rasa manusia itu…Aku bisa bermain menjadi tuhan yang sebenarnya dengan mempermainkan pikiran dan perasaan mereka dan mungkin akan mengacaukan kehidupan mereka. Aku bisa mengimitasikan diri menjadi tuhan-tuhan yang lain, dan menyamar menjadi manusia yang mempersonifikasikan tuhan di bumi. Aku ‘kan capek disuruh tanggungjawab terus, aku capek menjadi kambing hitam terus, disalahkan terus, dimintai tolong terus, tapi manusia bukannya makin sadar kalau harus berusaha memperbaiki malah aku yang disuruh memperbaiki. Kok jadi seperti anak yang minta dibelikan baju kalau naik kelas, lah terus tidak naik kelas masih maksa minta dibelikan yang lain. “Bisa dibayangkan kalau kekacauan itu terjadi, manusia akan saling tuduh, saling fitnah dan saling menginjak dan membunuh sesamanya. Manusia sendiri yang akan menghancurkan peradabannya dan alam semestanya…goblok banget ‘kan!”

Ha ha ha…baru ngeh…ternyata tuhan yang manipulatif itu adalah yang ada di dalam pikiran manusia ya…yang diciptakan manusia sendiri untuk menakut-nakuti dirinya sendiri.

Nah…ditambah lagi dengan semua peraturan-peraturan yang membatasi perilakunya dalam hidup, yang diakui sebagai perintah tuhan, tradisi dari tuhan. Contohnya begini, tidak usah jauh-jauh, dikatakan kalau orang berpuasa itu berarti turut merasakan penderitaan kaum dhuafa, kaum miskin dan sebagainya. Orang kok mau puasa pakai alasan ikut merasakan penderitaan…mau puasa ya puasa saja, mau tirakat ya tirakat saja jangan dicari pembenarannya. Kok penderitaan orang lain dijadikan suatu kibaran bendera. Justru bukannya harus malu, kok malah mengikuti orang melarat jadi melarat…sementara orang melarat dan menderita sedang berusaha memperbaiki hidupnya. Apa itu tidak membuat orang melarat dan menderita menjadi sombong…karena dicontoh terus oleh orang-orang yang lebih kaya? Apa itu tidak memberikan kesan bahwa melarat itu baik dan menjadi kaya itu tidak baik? Kalau begitu seharusnya orang yang melarat tidak perlu berpuasa saja…

Lalu ditambah lagi dengan kalimat untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Loh…mau mendekatkan diri kepada tuhan ya tidak perlu menunggu puasa dan tidak perlu keroyokan…malah tuhan bingung kalau pada keroyokan. Dan mungkin saja tambah panik si tuhan itu karena tiba-tiba hampir semua manusia di bumi pada mengeluh tidak bisa menahan lapar dan nafsunya. Kalau pada protes kayak begitu ‘kan tuhan bisa saja bilang, siapa yang menyuruh kalian puasa ramai-ramai? Membuat ribut di surga saja…orang dia lagi enak-enakan tidur ada yang mengeluh bareng-bareng, “aduh tuhan tidak kuat nih…!”

Mungkin di surga sana banyak tuhan yakz…jadi pas ada orang mengeluh, mereka bergilir “Kamu gih kesana yang ngisengin itu orang pengeluh”, atau mungkin ada tuhan urusan puja-puji, ada tuhan urusan nangis-nangis, ada tuhan urusan pengisengan dan main games dan lain sebagainya. Siapa tahu loh…! Capek ‘kan jadi tuhan, sudah 24 jam tidak putus-putus mesti mengatur peredaran alam semesta termasuk metabolisme tubuh manusia, udah 24 jam penuh memegang langit biar tidak jatuh, dan main gangsing terus biar bumi dan bulan tetap berputar di porosnya, belum lagi memegang ember biar air laut tidak pada tumpah, ditambah tiap 8 jam sekali harus merubah setting panggung di bumi…masih saja manusia ribut soal hidupnya kok tidak enak terus…hueheue!

Ada juga tuhan yang doyan chatting…ha ha ha…terus…lama-lama tuhan jutek juga ini kok manusia tidak berhenti mengeluh dan menangis. Kapan ya bisa sadar kalau bukan tuhan yang tanggung jawab atas hidupnya…?

Belum lagi yang doyan judi, taruhan dengan bokap kalian…jiwa manusia ini bisa dia rebut menjadi milik bokap kalian.

Belum lagi yang kerjaannya nyimenk dan triping terus…heuhue!

Ha ha ha ha ha ha…

Aslinya, tuhan yang sebenarnya lagi ngumpet kok…dia lagi mikir ini ada dua orang manusia kok suka banget jadi setan untuk manusia yang lain…besok-besok kalau jiwa kita sampai di depan pintu kematian, sudah langsung ditendang balik ke bumi atas permintaan para iblis, karena meringankan beban tugas para iblis yang lain…ha ha ha!

Terbayang tidak kalau tuhan itu usil, suka mengintip orang bercinta…karena di surga sana kedengaran lenguhan dan erangan orang bercinta…ngirilah yaww…tiba-tiba dia muncul di sebelah tempat tidur terus merazia surat perkawinan…ha ha ha…suatu saat polisi di bumi ini bisa seperti itu loh…seperti star trek tiba-tiba muncul di tengah ruangan dan merazia kriminalitas (Memang bercinta tanpa surat nikah itu kriminalitas ya…?)

Jangan-jangan malah begini, lagi bercinta terus tuhan muncul dan langsung telanjang sambil bilang, “Can I join the party?” Ha…ha…ha…itu baru seru…!

Hahaha…tapi pada satu eksistensi tertentu, tuhan itu memang hadir di situ kok, di ruangan itu, dan tanpa harus merazia surat nikah orang yang bercinta, pada titik tertentu nantinya dua orang itu akan merasa bersalah kalau memang mereka bersalah. Jadi unsur tuhan adalah omni-present itu selalu ada…di dalam pikiran kita…tuhan ada di sini, tuhan ada di situ, tuhan tahu apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan…Kalau sudah begitu, apa tuhan benar-benar ada dan sudah tahu belum rumahnya tuhan itu ada di mana, kok setiap kita berlaku hal yang tidak sesuai dengan hati nurani, tuhan selalu ada dan ketika kita berlaku sesuai dengan hati nurani dia tidak pernah hadir?! Kalau sudah kayak begitu…itu tuhan yang mana ya tadi yang hadir? Yang manipulatif? Yang curang? Atau…?

Penutup

Sejauh ini kita diskusi, kesimpulannya apa sih? Bahwa tuhan melakukan banyak rekayasa untuk mempermainkan emosi, otak dan perasaan manusia karena dia ketakutan kalau tiba-tiba manusia sadar bahwa manusia tidak membutuhkan tuhan, maka dia kehilangan kesempatan untuk menjadi tuhan seterusnya?

Maunya sih kita datangin tuhan saja…kita bilang kalau kita tahu cara dia berpolitik dan merekayasa semua kejadian di bumi…ingin tahu dia akan bilang apa ya nantinya…?

Tapi di balik semua tuhan-tuhan itu, pasti ada satu yang benar-benar bisa disebut yang asli. Tapi kita ‘kan masih harus menguji kualitas ketuhanan dia untuk tahu bahwa dia benar-benar yang asli…Lantas, nanti kalau sudah ketemu yang asli…? sebenarnya manusia itu harus takut pada tuhan tidak sih…? dan apakah tuhan bisa semanipulative itu?

Hey…dipikir lagi yang benar, siapa yang manipulatif kalau bukan manusia itu sendiri dengan semua pemikiran dan pembenarannya?

Jadi, kesimpulannya tuhan itu siapa dan dimana?

Segini banyak kita berbicara, masih juga kalian tanyakan…?

*!@???$%^&*(!#$%^&!*()”|>{(!@%% !@#@!#?...........bbbbbbbiiinggggguuunnngggggg!!!!!!!!

Aku dari tadi di sini mendengarkan kalian…pertanyaanku sekarang kenapa semua manusia ribut mencari-cari pencerahan jiwa untuk bertemu dengan tuhan, kenapa ya tidak ada yang mencari siapa aku, di mana aku…kenapa ya tidak ada yang mau bertemu denganku?

Tahu tidak, Papa Iblis kenapa tidak dicari-cari, tapi malah selalu dihindari? Karena tuhan itu punya sistem dan metode propaganda yang hebat tentang Papa, makanya Papa kalah favorit dan tidak digemari.

Jangan salah, Gab, Bokap kalian itu walaupun dihindari tetapi manusia itu tanpa sadar malah mendekatkan diri kepada Bokap kalian daripada kepada tuhan. Jadi kalau aku jadi bokap kalian, mendingan diam saja, menikmati propaganda yang dikibar-kibarkan oleh tuhan, karena malah makin membuat dia populer juga kok. Manusia disuruh menghindar dari Sang Iblis, dianjurkan untuk mementingkan akhirat daripada duniawi, tetapi pada prakteknya mereka itu malah berhura-hura dengan keduniawiannya.

Gila, si tuhan, membuat propaganda anti Iblis, tapi manusia pada tidak tahu ‘kan kalau setiap hari Jumat malam aku bermain badminton dengan tuhan dan hari minggu pagi malah bermain golf. Malam minggu, kita berdua mabuk bareng sambil ketawa-ketiwi melihat tingkah manusia di bumi.

Ha…ha…ha…Si Oom mendingan diam saja, hitung-hitung pemasaran Sang Iblis itu gratis nebeng di propagandanya tuhan…he he he!

Kapan ya kira-kira manusia bisa mengikuti kegilaannya untuk bisa memuja dengan benar, tertawa terbahak-bahak dan menari tanpa malu-malu untuk mengekspresikan rasa syukurnya…?!

Mau tahu kegilaan apa yang ada di pikiranku?

Apa coba…?

Iseng saja coba deh kalau pas lagi di gereja, saat Credo Para Rasul disebutkan, terus pastornya di altar joged-joged sendiri…apa itu bukan suatu hiburan untuk manusia dari tuhan? Atau saat sholat jumat di masjid, tiba-tiba imamnya mengajarkan gerakan kungfu shaolin…ha ha ha…apa bedanya gerakan sholat dengan gerakan kungfu shaolin, semuanya ‘kan sama-sama dilakukan untuk puja-puji dan ucapan syukur?

Huehuehueheheheheheheh…aku nantikan saat kejadian itu bisa dilaksanakan…pasti akan menjadi bahan tertawaan antara aku dan tuhan, sementara untuk manusianya…mereka akan shock dan marah, mereka akan berkelahi antar kalangan sendiri…!

tambaaaaaahhh biiiinggguuungggggg ‘kan loe…??? Kacian Deh Loe…

- The End –

THE PRAYER

Gabriel: Gue abis dari departemen doa di jalan pintu surga. Busyet deh, banyak pengantrian tuh…sampai bikin macet jalanan.

Lucifer: Emang kenapa?

Gabriel: Gak tau tuh…gak biasa-biasanya sampai luber ke luar kantor departemen antriannya. Pegawai departemen doa lagi pada pusing, nerima banyak permintaan dari bumi; banyak doa yang sifatnya meminta, mungkin 99.9 persen dari total permintaan yang masuk isinya hanya itu sedangkan yang 0.1 persen adalah doa yang bersifat terima kasih dan bersyukur.

Lucifer: Di bumi lagi banyak orang susah kali, yeh?

Gabriel: Bukan, ini malem takbiran. Besok ‘kan, Lebaran loh…

Lucifer: Oh…waktunya ngeroyok tuhan ya? Hi hi hi hi hi hi…

Gabriel: Hahahahaha…disangkanya tuhan punya diskon kali ya, pas ramadhan ada diskon dosa dan ampunan…ha ha dianggap mall kali, nih…

Lucifer: Gimana ya pikiran orang-orang itu?

Gabriel: Ya, namanya juga manusia, semuanya masih pakai konsep “Saya Diuntungkan atau Tidak”. Konsep itu udah jelas tertanam dari waktu kita dilahirkan, kita kecil, terus sekolah dan menjadi dewasa. Inget ‘kan…waktu kecil kita sering dicekoki oleh kalimat-kalimat seperti ini: “kalau kamu menurut apa kata Ibu, nanti Ibu kasih permen. Awas jangan nakal, nanti biar ditangkap polisi kalau gak. Atau…Kalau rapor kamu tidak ada merahnya, Ayah belikan sepeda…” Nah…apa bedanya semua konsep di atas dengan analogi: Kalau kamu berbuat baik setiap saat, Tuhan akan memberikan pahala yang akan menantikanmu di surga kalau kamu mati. Jadi, berbuat baik itu dilakukan karena ada balasannya atau imbalannya? Kapan manusia bisa diajarkan tulus donk kalau semua pakai konsep itu?

Lucifer: Hmm…bukannya konsep itu jadi mengatur orang menjadi lebih tau mana yang harus ditaati, mana yang baik, mana yang kewajibannya…

Gabriel: Kalau gue bilang, itu malah membuat orang tidak mengenal ketulusan yang sebenarnya

Lucifer: Hmmm…

Gabriel: Atau analogi ini…kalau kamu berbuat hal-hal yang haram; dosa-salah, maka suatu saat nanti kamu akan mendapatkan hukuman rajam di neraka. Kalau memang benar adanya, maka sebagai manusia yang kritis, harusnya kita berpikir bahwa alangkah kejamnya tuhan, jika demikian. Sosok yang mulia dan lembut hati ternyata menyimpan kekejaman sedemikian rupa “bukankah ini malah memberi cerminan kepada manusia bahwa kita juga boleh berbuat kejam kalau ada orang bersalah kepada kita, atau boleh membalaskan dendam” karena tuhan sendiripun juga berbuat demikian…?

Lucifer: Apa jadinya ya, kalau dari kecil itu kita tidak diajarkan seperti hal-hal di atas? Apa jadinya kalau orang tua kita tidak mengajarkan konsep untung-rugi, konsep hukum-dagang seperti itu? Pernah gak, kamu mikir sampai jauh ke sana?

Gabriel: Bisa jadi, akan tercipta manusia-manusia yang bebas nilai dan yakin akan tanggungjawabnya sebagai manusia. Atau malah akan tercipta manusia dengan nilai-nilai ekstrim sekalian, yang mungkin bisa jadi akan disebut teroris atau ada yang menciptakan nilai-nilai yang baru juga. Siapa tau…

Lucifer: Bebas nilai?

Gabriel: Artinya, tidak terkukung oleh satu nilai tertentu saja. Dia mungkin akan bisa menganggap bahwa suatu perbedaan itu adalah hikmah dan anugerah yang harus disyukuri juga. Coba jika dari kecil kita diajarkan dengan nilai bahwa adalah normal punya nilai merah di rapor, atau sungguh tidak apa-apa jika kamu tidak terlalu pintar dalam menuntut ilmu…atau adalah wajar jika kita mengerjakan sesuatu sesuai dengan keinginan kita tanpa ada imbalan apa-apa. Yang penting adalah tanggungjawabnya, jika kita memilih untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu, semuanya itu mengandung resiko yang harus kita pikul sendiri…bukan orang lain yang harus disalahkan atau dipaksa untuk memikulnya.

Lucifer: Iya, gue ingat waktu kecil selalu dibilang oleh bapak-ibu agar menjadi anak yang berbakti dan untuk membuktikan jadi anak yang berbakti itu gue harus menjadi yang terbaik, to be the best. Tetapi di mata gue, the best itu adalah menjadi juara; makanya gue selalu berusaha untuk jadi juara dimana-mana, jadi terobsesi untuk jadi pusat perhatian karena gue juara. Padahal kalau dipikir-pikir, sekarang nih, kalau disuruh jadi the best itu adalah the best dari diri kita sendiri, tidak harus jadi the best dari komunitas…

Gabriel: Sekarang baru kamu sadari ‘kan, kalau manusia baru dapat disebut jadi orang bukan karena dia sukses dalam karir dan pekerjaannya, bukan karena dia bergelar sarjana ini dan itu, bukan karena dia punya rumah dan harta berlimpah. Jadi “orang” itu artinya dia telah memberikan yang terbaik dari dirinya, membuktikan bahwa diapun telah memberikan usaha yang maksimal kepada kehidupannya dan menerima apa adanya hasil dari usahanya, apapun bentuknya.

Lucifer: Bener, Gab…bener…Eh…Gab…! Aku baru terima tulisan-tulisan dari milis edan@yahoogroups, ada yang menarik…mau denger, gak?

Gabriel: Tulisan tentang apa?

Lucifer: Gimana kalau aku bacain tulisan tentang doa dan dosa, selang-seling sambil bahas juga deh, jadi gak bosen? Kalau sudah, pindah ke topik lain, kalau ada waktu…

Gabriel: OK. Shoot…

Lucifer: Bentar…nah, ini nih…ada satu tulisan sederhana tapi menggelitik. Tiap manusia selalu perlu menyisihkan waktu untuk berdialog monolog dengan tuhan atau dengan dirinya sendiri. Ada saat-saat dimana manusia perlu menyendiri dan merenungkan apa yang telah ia perbuat atau ia dapatkan.

Dari zaman dulu, manusia hanya tertarik untuk mengedepankan kepentingan pribadinya, mendahulukan egonya. Semua itu tercermin dalam doa-doa yang telah diajarkan kepada kita dari kecil. Kalimat-kalimat seperti, “Jauhkanlah kami dari kejahatan, Berilah kami rejeki atau panjangkanlah rejeki kami, Tunjukkanlah jalanmu, Sediakanlah tempat mulia bagi kami kelak” banyak ditemui dalam kitab suci semua agama.

Belum lagi doa permintaan agar proyek bisa goal, atau membeli rumah dan mobil baru, atau mungkin agar dapat istri sampai 3. Termasuk juga di dalamnya doa agar tindak korupsi dan tindakan penyelewengannya dapat terus tertutupi dan tidak ketahuan oleh orang lain. Belum lagi di sertai iming-iming seperti: “Tuhan, kalau proyek saya goal, nanti saya nyumbang ke yatim piatu deh, atau…Tuhan, kalau masalah ini bisa beres dan saya selamat tidak kena ciduk, nanti saya bangun gereja deh…!”

Gabriel: WALAH! Ha ha ha…bagus tuh doanya…pembujukan berselubung doa.

Lucifer: Ha ha ha…terusin lagi ya…Di kalangan umum, doapun indentik dengan permohonan ketimbang sebagai dialog/monolog dengan tuhan. Jika seseorang dalam kondisi tertimpa stress atau kesusahan, maka nasehat yang utama dari rekan-rekannya adalah berdoa. Berdoa agar kesusahannya bisa diringankan oleh tuhan, agar jalannya dapat diterangkan oleh tuhan dan dirinya dikuatkan oleh tuhan. Semua yang terkatup dalam doa…isinya hanya MEMINTA. Salahkan doa seperti itu?

Entahlah, tetapi kalau saja tuhan itu hadir dengan pola pikir manusia, lama kelamaan dia akan bosan, karena manusia memanjatkan doa yang HANYA berisi permintaan agar ego manusia dapat terpenuhi. Simak saja, gak ada doa yang tidak mengandung EGO manusia, even itu sebuah doa yang dipanjatkan untuk orang lain; masih terpancar EGO dari si pendoa agar orang lain itu bisa selamat atau bisa mendapatkan anugerah tuhan.

Gabriel: Tulisan itu ada benernya, Luc…Sekarang, seandainya tuhan punya ego juga, dia akan mengeluh…”Buset deh ini para manusia bisanya minta melulu ke gue terus gue disuruh ngedengerin terus, disuruh ngabulkan terus permintaan-permintaan yang tak pernah ada ujungnya. Gue udah minta ini itu juga sama manusia supaya bisa taat sama gue, tapi mereka tetap saja asyik dengan keduniaan…ngapain juga gue ngabulin permintaan mereka.” Bisa gitu ‘kan…?

Lucifer: Terusin lagi ya…Dalam satu persekutuan doapun, dalam hal mengadakan doa yang dilakukan bersama-sama dengan banyak orang, sampai terjadi rengekan masal dengan airmata, teriakan yang bersahut-sahutan dan kata-katanya hanya berisikan permintaan ini, permintaan itu dan lain sebagainya yang sejenis itu. Sungguh, di mataku, kadar doa telah didegradasikan menjadi pengedepanan EGO manusia, dan doa jadi sarana manusia dalam meminta sesuatu kepada tuhannya.

Gabriel: Menurutku, tidak ada satupun Nabi dan Wali Allah yang bisa mengajarkan bagaimana berdoa yang benar, bukan karena mereka tidak tahu; tetapi pada keadaan saat dimana mereka hidup, orang-orang yang menjadi pengikutnya selalu berangkat dari konsep “apakah aku diuntungkan”, atau “bagaimana dan dengan cara apa aku diuntungkan”. Jika mereka mengajarkan konsep doa yang sebenar-benarnya, maka ajaran mereka tidak akan laku karena bertentangan dengan anggapan umum.

Lucifer: Iya, Gab…Jadi pada akhirnya, gak ada satu makhluk hidup di dunia ini yang mengenal kata TULUS dengan sebenar-benarnya, makanya gak ada yang bisa berdoa dengan benar pula. Tulus dalam arti tanpa pretensi apa-apa, tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan agar doanya dikabulkan atau didengarkan. Tulus dalam arti tidak berharap bahwa semua kebaikan yang telah dilakukan akan diberi ganjaran yang setimpal. OK…dilanjut ya bacanya…:

Tidak ada yang tahu bagaimana berdoa yang benar, dengan cara apa yang benar. Terlalu banyak cara berdoa yang diajarkan kepada manusia sampai-sampai mereka bingung sendiri. Satu satunya kunci untuk mengetahui apakah doa itu sudah benar adalah dari hati nurani sendiri. Doa adalah waktu perenungan, berdialog dengan tuhan tentang introspeksi dan perbaikan diri. Doa yang keluar dari hati nurani adalah doa yang tulus. Doa tidak harus diucapkan secara verbal dengan kata-kata. Malah, jika sebuah doa dipanjatkan, yang terbaik adalah yang hanya bisa dipahami oleh manusia pemanjat doa dan tuhannya saja. Doa tidak mengenal kata-kata, tidak mengenal bahasa. Semua hal yang berkaitan dengan doa, ada di dalam hati dan dilontarkan dari dalam hati langsung kepada tuhan. Tidak ada perantara.

Durasi dan berapa kali berdoa dalam seharipun juga tidak ada patokan yang masuk akal. Ada orang yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri hanya untuk berdoa dan berdoa, seperti suster-suster di biara katolik di Magelang, bangun tidur sampai tidur lagi…itu saja kerjanya.

Gabriel: Hah…? Gila…itu ‘kan penyiksaan diri…sementara manusia diberi hidup itu untuk dipergunakan sebaik-baiknya.

Lucifer: Mungkin saja menurut mereka, itulah yang sebaik-baiknya bagi hidup mereka Gab…

Gabriel: Aneh saja, Luc…kok ada ya yang seperti itu?

Lucifer: Adapula doa yang disusun dengan menurut aturan tertentu dan harus diucapkan dengan atau dalam bahasa tertentu pula.

Gabriel: He he he…emang tuhan hanya paham satu bahasa saja ya, makanya harus berdoa dalam bahasa yang kadang-kadang kita sendiri tidak mengerti sepenuhnya?

Lucifer: Pada dasarnya setiap agama tidak punya garis besar yang jelas tentang bagaimana berdoa yang benar, berapa lama dan berapa kali, dalam bahasa apa…semua agak rancu. Bagi penganut agama yang fanatik, maka sering kali aturan-aturan keagamaan itu dilakukan tanpa pengkajian lebih lanjut melalui logikanya.

Doa pun tidak harus terdiri dari beberapa komponen seperti terlebih dahulu memohon ijin dan meminta maaf, baru kemudian memuliakan nama tuhan, atau berterima kasih atas anugerahnya terlebih dahulu, baru memanjatkan permintaan. Itu semua hanya tradisi dan cara berpikir manusia yang wajar. Kalau hendak meminta, lebih baik basa-basi dulu. Ya, sekedar sopan santunlah.

Gabriel: Yup…benar itu. Dengan kata lain, begini…Untuk memuliakan nama tuhan dan memberi puja-puji baginya, akan selalu menjadi tidak tulus jika telah diatur terlebih dahulu. Manusia baru bisa memuja dan memuliakan nama tuhan, jika sudah bisa mensyukuri nikmat yang diterimanya, apapun bentuknya. Pada saat mensyukuri semua nikmat itu, maka hatinya akan tersentuh dan penuh keharuan, dan akan diikuti dengan rasa terima kasih yang dalam dan rasa pemujaan, rasa keheranan bahwa tuhan yang begitu agung ternyata masih menumpahkan rahmat dan anugerahnya untuk dia yang begitu hina dan tidak berarti apa-apa. Biasanya rasa syukur seperti itu hanya bisa diikuti dengan tangis keharuan, tangis penyesalan, tangis terima kasih tanpa ada lagi kata-kata yang bisa mewakili semua perasaannya.

Lucifer: Ya…gue pernah merasakan apa yang kamu contohkan. Semua itu tidak bisa dijelaskan kata-kata, hanya hati yang mengerti. Jika kita bisa mensyukuri nikmat yang kita terima, pada saat kita memanjatkan doa atau saat berdialog/monolog dengan tuhan, tidak ada lagi satu katapun yang bisa mewakili semua permintaan kita. Apa yang kita urutkan sebelumnya untuk meminta kepada tuhan agar ini dan itu, semuanya tidak dapat diucapkan dengan benar. Karena pada dasarnya, logikanya, jika kita bisa mensyukuri bahwa tuhan yang begitu dahsyat kuasanya mau memberikan anugerah kepada kita yang hina, buat apa lagi memanjatkan permintaan-permintaan kita? Kita hanya bisa berserah kepadanya untuk melakukan apa saja kepada kita, hanya bisa pasrah akan anugerah apa saja yang akan ia berikan, siapalah kita…yang dengan sombong menuntut dan meminta ini dan itu kepadanya. Tanpa kita sadari, tuhan sendiri telah mengetahui dan memahami apa yang kita inginkan, apa yang kita perlukan jauh sebelum kita menyadari semua keperluan dan keinginan kita.

Gabriel: Sebenarnya, doa yang berisi permintaan ini dan itu, adalah wajar dan manusiawi, selama tidak berlebihan.

Lucifer: Banyak orang yang beranggapan bahwa selama dia berdoa terus, maka cukuplah. Biarkan saja tuhan nanti yang akan menjawabnya. Banyak orang hanya bergantung pada keajaiban doa, pada keyakinan bahwa yang penting dia sudah berdoa. Doa tidak akan menjadi ajaib tanpa usaha manusia itu sendiri. Doa tidak pernah terjawab seketika.

Gabriel: Doa itu hanya jalan. Doa itu adalah jembatan antara diri kita yang hina dengan yang maha kuasa dan maha dahsyat. Saat kita memanjatkan doa maka kita telah membangun jembatan antara tuhan dan diri kita. Tetapi untuk bisa sampai kepada tuhan, untuk bisa sampai kepada yang diharapkan, kita sendiri yang harus menjalaninya. Tidak bisa orang lain. Kitalah yang harus berjalan di atas jembatan itu.

Gabriel: Kasarnya begini…Mengapa kita memintanya untuk meringankan kesusahan hidup kita, kalau dari kesusahan hidup yang sedang kita alami malah mendewasakan kita, malah membuat kita lebih bijak dan lebih melek mata-hati? Mengapa kita memintanya untuk menerangi jalan kita, kalau dari kegelapan yang kita lalui, kita mendapatkan pemahaman baru tentang mana yang baik, mana yang kurang baik? Mengapa kita meminta semua itu kepadanya padahal dengan cobaan dan kesusahan hidup itu kita bisa bertemu dengannya dan memahami siapa dan apa tuhan yang sesungguhnya?

Lucifer: Kamu ada benarnya, di sini juga si penulis menyebutkan…Mengapa kita harus takut akan hal-hal yang negatif dan jahat, padahal melalui hal-hal tersebut kita menjadi lebih tegar dalam mengarungi kehidupan. Bukankah hal yang negatif dan jahat itu pertanda bahwa tuhan itu sangat adil dan tidak berpihak.

Ketika menciptakan manusia, bukankah bisa saja tuhan menciptakan manusia lengkap dengan perasaan yang hanya mencintai dan patuh kepadanya? Tetapi justru tuhan menciptakan manusia lengkap dengan rasa, akal dan nurani; dan selama menjalani kehidupan manusia diberi pilihan; hendak mentaati dan mencintai tuhan, atau hendak mengikuti jalan keduniawian yang penuh kenegatifan dan kejahatan. Tuhan memberi kesempatan kepada manusia untuk menentukan jalannya sendiri. Tuhan juga memberi kesempatan kepada iblis untuk juga dapat membujuk manusia menjadi antek-anteknya.

Dan pada pilihan-pilihan tersebutlah, manusia juga diajarkan untuk menjalani kehidupannya dengan lebih bertanggung jawab. Manusia yang ‘melek hati’ akan menyadari bahwa pada pilihan-pilihan itulah tuhan mengajar umatnya secara langsung. Semua ajaran yang tercantum dalam alkitab atau buku-buku suci hanyalah kata-kata belaka dibandingkan dengan hal tersebut. Dan manusia yang sadar dan eling akan lebih mengerti bahwa sebanyak apapun dosa dan kesalahan yang kita perbuat; seberapapun besar dosa yang dilakukan; pintu maaf tuhan tidak pernah tertutup. Tuhan akan selalu memaafkan segala bentuk dosa dan kesalahan, tetapi tuhan juga meminta tanggung jawab langsung dan konsekuensi dari perbuatan tersebut.

Gabriel: Betul, Luc…akibat dan dampak yang timbul dari perbuatan dosa itulah yang harus ditanggung oleh manusia sebagai hukuman atas dosanya. Hukuman itu tidak datang dari tuhan, tetapi dari manusia itu sendiri, karena sadar atau tidak sadar, dia telah memilih untuk melakukan perbuatan dosa. Hukuman itu tidak akan bisa dialihkan atau diberikan kepada orang lain. Si pembuat dosalah yang harus menjalaninya.

Lucifer: Jadi anggapan bahwa setelah mati, orang akan menjalani siksa atas dosa dan kelakuan selama ia hidup itu masih setengah benar? Hukuman atas dosa dan kelakuan itu dijalani manusia pada saat ia masih hidup, bukan setelah ia mati, begitu Gab? Ia yang membuat neraka bagi dirinya sendiri dengan melakukan hal-hal yang negatif dan tidak sesuai dengan hati nuraninya?

Gabriel: Ya…seperti itulah. Dan doa itulah yang menyelamatkannya, karena dengan membangun jembatan untuk berkomunikasi dengan tuhan, ia telah membuka diri kepada tuhan untuk berkarya melalui dirinya. Ingat, tuhan tidak pernah tertarik pada keahlian dan kemampuan (ability) manusia…dia hanya tertarik pada kesediaan manusia (availability). Dengan berdoa manusia telah menyediakan dirinya untuk bersedia menjadi umat tuhan yang baik. Namun setelah berdoa itulah yang penting…apakah manusia tersebut kembali melakukan kesalahan dan dosa; atau makin padat usahanya untuk menjalani semua yang dia sepakati dalam doanya. Jika jembatan yang telah dibangun tidak dia lalui dengan kakinya sendiri, maka jembatan itu hanya akan jadi hiasan belaka.

Lucifer: Jadi sebenarnya yang namanya siksa dan hukuman atas dosa itu setelah mati tidak ada benarnya, Gab?

Gabriel: Setahu aku, itu hanya cerita belaka. Sekarang buktinya mana kecuali yang disebutkan dalam kitab-kitab suci dan alkitab? Apa ada orang yang sudah mati lalu kembali ke dunia lagi dan mengatakan bahwa eh…ternyata neraka itu ada loh…atau eh…ternyata siksa neraka itu bohong belaka yang ada hanya hura-hura di dunia setelah mati…Coba, ada gak orang yang begitu? Gak ada, ‘kan? Jadi anggap saja itu hanya legenda yang bikin takut orang-orang lain agar tidak berbuat dosa dan agar berdoa banyak-banyak.

Lucifer: Emangnya, berdoa banyak-banyak akan menjadi jaminan kalau kita bisa menjadi baik?

Gabriel: Gak jugalah, Luc…kalau emang itu patokannya, jangan-jangan nanti pegawai di departemen doa bisa-bisa lembur karena banyak terima doa dari bumi. Jangan-jangan nanti malah ada sogok menyogok juga di departemen doa biar semua pada jadi orang baik tanpa usaha yang tulus, langsung dan sendiri/mandiri.

Lucifer: Jadi jaminannya apa, donk…?

Gabriel: Tergantung sama orangnyalah, Luc…yang penting manusia itu menyadari hati nuraninya sendiri dan siap untuk menerima segala konsekuensi hidupnya. Tidak ada manusia yang benar-benar baik dan sempurna.

Lucifer: Ooohhh…

Gabriel: Kalau mau kita simak, bahwa banyak dari manusia sering menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, lebih bertakwa, lebih pintar, lebih tahu mana yang benar…Sering orang yang dianggap baik dan hatinya bersih, juga masih menyimpan sebersit keinginan yang liar, menyimpan iri hati dan dengki yang tak pernah ia tampilkan kepada orang lain…Mereka sering bersembunyi dalam ‘anggapan orang lain’ bahwa dirinya orang baik, tetapi kalau mereka disuruh mengintrospeksi diri sendiri; sering kali akan terlihat ego yang masih membara dan penuh kebencian. Kadang-kadang mereka menipu diri sendiri dan tidak ingin melihat kesalahan dan kekurangannya. Even, keinginan untuk dilihat orang lain sebagai orang yang baikpun jadi sebuah ego yang salah.

Maka dari itu, doa juga diperlukan oleh manusia karena pada dasarnya untuk mengingatkan agar tidak salah dalam melangkah, untuk menyadari keegoan yang salah…

Lucifer: Gue jadi bingung nih, tadi dibilang kalau doa yang sering dilontarkan oleh manusia pada umumnya hanya berkisar pada pengedepanan ego…lalu bagaimana sebuah doa menjadi jembatan kesadaran akan keegoan yang salah?

Gabriel: Begini…doa itu ‘kan bisa dianggap sebagai dialog atau monolog antara manusia dengan tuhannya, atau dengan dirinya sendiri. Kalau manusia itu jujur pada dirinya sendiri, maka pada tingkatan itu, doa juga jadi tempat perenungan atas segala dosa dan kesalahan yang kemudian dilanjutkan dengan pertobatan, penyesalan, rasa benci akan dirinya sendiri karena perbuatan yang salah atau menyeleweng. Pada dialog atau monolog itulah manusia menyadari kesalahannya, menyadari bahwa egonya terlalu sombong dan bangga yang seharusnya tidak pada tempatnya seperti itu. Doa yang bersifat renungan itu menuntut kejujuran manusia kepada dirinya sendiri. Jujur kepada diri sendiri itulah yang dinamakan jujur kepada tuhannya juga. Kalau ia tidak bisa jujur pada dirinya sendiri, lalu bagaimana ia bisa mengharapkan orang lain untuk jujur kepadanya? Benar gak? Bagaimana sebuah doa dapat dianggap tulus dan jujur kalau pendoanya saja tidak berani melihat kesalahannya sendiri?

Lucifer: Hmmm…Lalu, jika kita berdoa untuk orang lain, apakah kita mendapat pahala?

Gabriel: Ha ha ha…kamu terperangkap juga dalam konsep pahala dan dosa ya, Luc? Kalau kita mau berdoa untuk orang lain, selama itu tidak diselubungi oleh niat-niat yang lain kecuali demi kebaikan orang itu sendiri dan…aku garis bawahi kata-kataku yang ini, dan…kalau doa itu kamu angkat dengan ketulusan dan tanpa pamrih, maka sudah dapat dipastikan, tuhan akan mendengarkan doa itu. Kalau mau berdoa untuk orang lain, kenapa harus dipikirkan apakah saya akan dapat pahala atau tidak…? Itu namanya serakah dan tidak tuluslah Luc…

Lucifer: Apakah doa masih bisa disebut jembatan, Gab, saat sesosok manusia mengangkat doa yang berisi permintaan agar proyeknya bisa terwujud, padahal untuk mendapatkan proyek itu dia main sogok sana-sini, atau dia menerima sogokan dari orang lain. Atau ketika sebuah doa diangkat dengan permintaan agar penyelewengannya tidak tercium oleh orang lain. Kadang-kadang semua doa serupa itu disertai dengan iming-iming kalau terkabul nanti aku akan berbuat amal ini dan itu…seperti yang pertama-tama disebutkan dalam tulisan ini, Gab.

Gabriel: Aku rasa, kamu sudah bisa menjawab dengan sendirinya apakah hal tersebut pantas dan layak disebut sebagai doa…

Lucifer: Tapi apa ya, yang ada dalam pikiran mereka, ketika mereka mengucapkan itu semua dan menyebutnya sebagai doa…?

Gabriel: Nafsu, Luc…Ego dan Nafsu. Dua hal itu yang menunggangi mata hatinya dan merajalela dalam jiwanya. Kalau jiwa sudah tidak bisa mengendalikan ego dan nafsu, malah sebaliknya jiwa dikuasai oleh ego dan nafsu, maka manusia menjadi lupa dan menghalalkan segala cara. Rasa malunyapun sudah tidak diperhitungkan lagi, yang penting dia mendapatkan apa yang dia inginkan.

Lucifer: Bagaimana kita tahu bahwa tuhan mendengarkan doa kita dan akan mengabulkan doa kita?

Gabriel: Tuhan itu maha tahu dan maha pemurah, maha segala daya…dia akan selalu mendengarkan doa setiap manusia. Soal dikabulkan atau tidaknya, ya jangan maksa tuhan untuk mengabulkannya. Semua itu terserah dia sendiri, kita tidak bisa menyogok dan ikut campur dalam pengambilan keputusan untuk mengabulkan atau tidak. Tuhan itu tahu apa yang kita butuhkan, apa yang kita perlukan. Pada saat yang tepat dan pada kondisi yang telah digariskan, tuhan akan memenuhi semua kebutuhan dan keperluan masing-masing manusia. Kalau itu untuk kebaikan manusia sepanjang menyangkut usaha manusia dalam mengarungi kehidupan, tentu tuhan akan mengabulkannya. Tetapi mungkin pengabulan doa itu akan memakan waktu dan proses.

Lucifer: Waktu? Proses? Wah…masa pengabulan doa dari tuhan saja pakai dimensi waktu dan proses…

Gabriel: Ya…waktu dan proses pengabulan doa itu tergantung dari seberapa keras usaha manusia dalam menjalani jembatan ‘doa’ itu tadi, seberapa ulet manusia menghadapi kehidupannya, seberapa sabar dan seberapa teguh keyakinan manusia bahwa tuhan akan menolong dan mengabulkan doanya. Semakin ulet dia berusaha, semakin sabar dan bijak dia menghadapi hidup dan cobaannya, semakin kuat keyakinan dan imannya, semakin cepat doanya terkabulkan.

Lucifer: Dijamin pasti dibalas?

Gabriel: Yup…jamin…!

Lucifer: Aku baca lagi nih…Anggapan bahwa dengan rajin berdoa atau bermeditasi maka manusia akan menerima pencerahan jiwa juga belum 100% benar. Pada kasus-kasus tertentu hal tersebut dapat diterapkan. Tetapi, pada umumnya sebuah pencerahan jiwa tidak dapat datang tanpa melewati suatu kepahitan hidup, tanpa melewati suatu kesengsaraan dan kesadaran bertobat. Pencerahan jiwa datang melalui kegamangan bathin dan keragu-raguan yang maha dahsyat, tanya-tanya yang kelihatannya sederhana tetapi jawabannya tak pernah bisa memuaskan si penanya, melalui pencarian seumur hidup manusia, melalui kesedihan yang tak ada sumbernya, melalui air mata yang jatuh tanpa alasan yang jelas…

Gabriel: Kemajuan jaman dan teknologi malah membuat manusia sekarang menjadi hedonis dan ingin serba gampang. Mereka selalu cari jalan pintas untuk semua keinginannya, termasuk keinginan untuk mendapatkan pencerahan jiwa. Mereka lupa, jalan menuju alam baka dan akhirat itu tidak punya jalan tikus, semua harus melalui jalan yang hanya bisa dilalui oleh dirinya sendiri. Dan terlebih lagi, dalam perjalanan spiritual manusia, tidak ada yang aman, semua penuh godaan, penuh gangguan, penuh tipu muslihat.

Lucifer: Ini ada yang bagus nih isinya…bener-bener pas buat manusia…Kita, manusia, pada keadaan normal, tidak akan pernah bisa melihat punggung kita sendiri. Hanya orang lain yang bisa melihat punggung kita. Tetapi kita bisa melihat punggung teman kita dengan gamblang. Analogi ini memberi pemahaman bahwa kita sering kali tidak bisa melihat kelemahan diri sendiri, permasalahan yang berat, dosa dan kekurangan diri sendiri sering tak pernah tampak seperti apa adanya. Kalaupun kita mencoba melihat punggung kita dengan cermin, semua dilakukan pada keadaan yang tidak normal, karena kita melihatnya dengan terbalik.

Di mata tuhan, semua permasalahan dan kesalahan adalah sama, mempunyai banyak dimensi untuk mengkajinya. Jika kita menunjukkan 4 jari kita kepada orang lain untuk memberi tahu maksud kita adalah angka 4, ketika orang yang memandang tangan kita melihatnya dari sudut pandang punggung tangan kita, maka yang terlihat olehnya adalah 4 jari kita. Tetapi jika ia melihatnya dari sisi dimana kita berdiri, maka yang terlihat olehnya adalah 5 jari kita. Jadi, untuk menunjukkan angka 4 tersebut…sebenarnya yang terlihat itu apakah 4 jari atau 5 jari? Dan berapa jari diperlukan untuk membentuknya…4 jari atau 5 jari? Silahkan menjawab sendiri…

Gabriel: Jarang ada manusia yang dapat memahami bahwa sebuah jiwa manusia tidak sama dengan raga/jasmaninya. Manusia takut mati karena dalam pikiran mereka telah disuntikkan kepercayaan bahwa jika banyak melakukan dosa selama ia hidup maka saat ia mati nanti akan dan harus melalui siksa neraka. Manusia lupa bahwa yang mati adalah jasadnya, raganya sementara jiwanya akan tetap hidup.

Lucifer: Jiwa kita adalah ruh, cerminan dari citra tuhan sendiri. Kalau memang demikian, maka jiwa kita itu penuh cinta dan kasih sayang, penuh kelembutan dan keharmonisan. Jiwa kita tidak akan pernah bisa disiksa karena ia tidak akan pernah bisa mati atau dimusnahkan. Coba cari, dalam buku-buku agama dan kitab-kitab suci, apakah ada pasal-pasal atau ayat-ayat yang menyebutkan tentang pemusnahan jiwa-jiwa manusia? Hal seperti itu sama sekali tidak pernah ditemui dalam buku manapun. Secara logika, bagaimanakah memusnahkan jiwa-jiwa manusia, suatu hal yang tak dapat terlihat dengan mata telanjang? Lalu siapakah yang berhak memusnahkan jiwa-jiwa manusia? Dapatkah sebuah jiwa dikuasai oleh jiwa lainnya? Bagaimana menguasai jiwa-jiwa itu? Siapakah yang dapat mengajarkan tentang penguasaan dan pemusnahan jiwa-jiwa?

Gabriel: Iya, Luc…Jiwa-jiwa kita menjadi tercemar oleh tingkah laku, keegoan dan emosi kita. Pada dasarnya semua jiwa itu adalah suci dan lembut penuh kasih. Ketercemaran itu lah yang aku sebutkan sebelumnya sebagai kesalahan dan dosa. Ketercemaran itu selalu membawa dampak negatif kepada kehidupan yang terlibat.

Luc…kalau kita kaji lebih dalam, manusia atau orang sebagai manusia itu tidak punya eksistensi koq…manusia sebagai manusia itu hanya tampil secara fisik sebagai manusia. Eksistensi manusia, dimata tuhan, hanya terbatas pada kehadiran, pada tampilan sebagai fisik yang hidup. Eksistensi sebenarnya ada pada jiwa nya, pada ruh yang mengendalikan semua pikiran, rasa, emosi dan egonya. Itu yang manusia sering salah kaprah menafsirkan.

Lucifer: Dodol ach…pusing kalau sudah ngomong soal eksistensi dan jiwa, dari semula gue gak paham sama anggapan loe tentang eksistensi yang sebenarnya. Mendingan terusin bacanya…

Nih…kalimat terakhir pada tulisan tentang doa…Maka dari itu, doa pada dasarnya dapat dianggap sebagai penawar dosa, sebuah awalan dan tempat dimana pintu maaf tuhan selalu terbuka untuk seluruh umatnya. Manusia tidak bisa bertobat dari dosa-dosanya tanpa sebuah doa yang diucapkan dengan diam-diam. Tetapi doa tidak akan berarti apa-apa kecuali diikuti dengan usaha.

Gabriel: Nah…Usaha itulah yang bisa disamakan dengan perumpamaan menyebrangi jembatan doa yang gue sebutkan semula.

Lucifer: Doa diperlukan sebagai penguat bagi umat tuhan yang lemah, sebagai pemberi keteduhan bagi hati yang marah dan berang, sebagai sarana nikmat bersyukur yang tulus dan tanpa pamrih, sebagai penyedap bagi hati yang hambar, sebagai perhentian bagi yang lelah, sebagai sumber dari kasih sayang bagi yang haus hatinya, sebagai persinggahan bagi para pengelana sebelum mencapai rumah jiwanya.

You are the beauty itself, why are you looking for it outside yourself?

Why Does Love Always Turn Into A Power Struggle?

Remember when you met your Lover? Remember the excitement, those feelings that got you all tongue tied? Remember too the feeling like you’d known this person for ever, perhaps you’d even had past lives together?

Remember when this Soul Mate seemed to be able to finish your sentences for you and read your thoughts and how then these things felt comforting to you? Well, what happened? Why are the same things that endeared them to us now driving us crazy? For most of human history romantic relationships never lead to marriage.

The only ‘marriages’ were arranged by families to keep the wealth secure within the clans. The idea of marrying for love, didn’t exist. Marrying for love would have been considered foolish, everyone knew ‘love’ didn’t last. For romance, the male (sometimes the female) ‘took’ a lover and promptly ended the relationship as soon as it became power struggle.

We have come to know that the power struggle stage is a powerful and necessary stage in loving relationships, with a purpose never before realized. All Love relationships have three necessary stages, the romantic love stage, the power struggle stage and ultimately Real Love. Most couples never get past the power struggle. We either avoid the power struggle stage by leaving the relationship, or lead parallel lives within the relationship.

Some couples power struggle with each other for the rest of their lives. So why does Love have to look so unlike Itself ? Because embarking on a committed Love relationship is just like embarking on any Spiritual Path. Anything unhealed in our lives is calling to us for acknowledgement and healing. Committed relationships are a Path to Freedom. (Now there’s a twist for those commitment shy Ones.)

A conscious relationship is one where the couple realizes that there are stages on the journey and that the power struggle stage is an opportunity to heal dominator wounding inflicted on us in childhood. We are all wounded by an authoritarian society. Out of our wounding we wound and re-wound each other, often without even knowing it...As we grew we were sometimes labeled Trouble Makers, Difficult, Inappropriate, Selfish, Stupid, and/or Bad. We were told don’t look like that, don’t speak like that, don’t think like that, don’t Be like that!

So begins the power struggle with our parents and other authoritarian figures like school teachers, clergy, you name it.The character adaptations that result from power struggling with our parents and other authority figures prevent us from experiencing the full expression of our Selves. We decide to hide, and eventually to loose the parts of ourselves that were judged to be inappropriate, out of fear of being misunderstood and rejected for ever.

What we suppress on the emotional level lives on as disturbing habitual behavior, too often inflicting on our loved ones the same dominator wounding behavior that wounded us. As we mature into adulthood, Nature supports us in finding a partner with just the right dovetailing character adaptations and childhood wounding we need to re-visit and heal our childhood wounds. During the romantic stage of adult love relationship the couple feels whole, safe and alive, because they embody the missing, hidden and lost parts of each other.

The dovetailing effect of embodying each others missing parts, which is so comforting in the beginning stages becomes a source of fear and struggle later in the relationship. The attraction of romance bonds the partners into relationship in order to do the real work of love relationships which is to finish childhood. The ‘wounded selves’ sense in each Other the qualities needed to heal the wounds left over from childhood, so that together the couple can journey from an unconscious relationship to a conscious relationship, so that they can consciously journey through the power struggle to Real Love.

The power struggle intensifies as soon as the couple settles into commitment. This stage of relationship feels threatening because what we need in order to Be Whole is exactly what we were denied in childhood, and what we need most is what our partners are least able to give. For most of us in the power struggle it looks and feels like our partner is deliberately trying to hurt us.

What looks and feels like an attack is in fact our partner’s coping behavior in response to their childhood wounding, dovetailing with our own coping behavior. Daring to trust that our partner will give us the nurturing and unconditional love our care givers were unable to give, leaves us feeling vulnerable and afraid that we will be abandoned, rejected, disregarded, abused or whatever the original wounding was, all over, again and again.

The power struggle will show up in every committed love relationship, so it makes sense to work through the one you are in. It is possible to grow without being in relationship, but in order to heal the cycle of wounding inflicted on our freedom as children we need our partner who has the dovetailing wounding. During the power struggle stage of adult relationship the wounds left over from childhood flare up and hinder us and our partners from experiencing the relaxation of Real Love.

We begin to see our beloved as the antagonist! The good news is, conflict is healing wanting to happen! It is important to note that the very character adaptations that served to protect us while growing up are now being called upon to Let Go! They no longer serve to protect. Letting go requires. Can feel very threatening to the inner wounded child.

Realizing that the purpose of the power struggle stage is to heal the wounds so many of us sustained while growing up, and understanding the need for the dovetailing effects of each persons childhood wounding, opens a space for real communication, real empathy, real safety, real healing on the journey to Real Love.

As we heal the childhood wounds inflicted upon us by the dominator paradigm, we can effect world change and accelerate the shift into a Partnership Paradigm The power struggle is a necessary stage on the journey to Real Love. It cares not what the sexual orientation of the Lovers is.

Time after Time…

Muqadimmah,

Malam ini aku duduk sendiri merenungi ketelanjangan pikiranku atas apa yang telah terjadi selama ini. Setetes embun menetes dari selembar daun siji di depan teras rumah, seakan memperjelas atas apa yang sedang aku pikirkan saat ini.

Beberapa bulan yang lalu…

Ya, beberapa bulan yang lalu, saat aku kenalan denganmu. Ainie…ya, aku masih ingat, namanya Ainie. Seorang pramuria jagung yang ada di depan counter cd tempat adikku bekerja.. Seorang cewek manis, rambut pendek dan bermata Indah. Sosok yang telah mengubah hari-hariku menjadi penuh warna.

Namun sayang…

Beberapa hari yang lalu…

Ya, beberapa hari yang lalu, menginjak beberapa lamanya kami berhubungan, perpisahan itu akhirnya datang jua. Ternyata seseorang telah mengambil temanku, sahabatku, mutiara hatiku satu-satunya yang memang bukan milikku seutuhnya. Aku benci…sangat benci, namun kepada siapakah aku benci? kepada Tuhankah? kepada dirimu? atau kepada “orang itu”…? Aku muak jikalau harus mengingat saat itu.

Tiga kali ketukan nyaring di pintu kamarku telah menghentikanku dari lamunan. Ya, aku sadar, aku belum menyapa Tuhanku malam ini. Aku duduk menghadap kaca. Aku tertegun, termenung, terpaku…yang jelas aku merasa malam ini semuanya terasa sangat berat. Tanpa kusadari, sudah satu setengah jam aku duduk melamun. Ya Tuhan, berarti sudah selama itu pula umurku berkurang.
Aku…

Ya, aku, seonggok daging bernyawa yang sedang merasa sedih, haru, bimbang, dan sesal berkontemplasi. Alunan dawai kehidupan serasa memabukkan hidupku selama ini. Aku sadar, aku takkan bisa lari dari kenyataan bahwa aku adalah manusia. Manusia yang sedang terluka hatinya. Namun aku sadar, bahwa kenangan ini tidak perlu aku buka kembali…karena semuanya takkan mungkin kembali. Aku hanya cukup menyimpannya di hati saja. Dan kubiarkan kenangan itu menjadi sisa-sisa kebahagiaan yang selalu muncul di dalam warna-warni kehidupanku atau “mungkin” kehidupanmu. The show must go on, inside my heart is breaking, my wake up maybe flaking…whatever happens, I’ll have it all to change.

Sekarang…
Ya, sekarang…aku harus senantiasa bangkit dari keterpurukanku ini. Aku tahu, aku hanyalah sebuah bidak catur yang hanya bisa melangkah ke depan saja setahap demi setahap. Suka atau tidak, detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, dan bulan demi bulan yang telah kulewati takkan mungkin pernah bisa kunikmati lagi. Aku sadar, kenangan ini hanyalah sebuah sesi dari kehidupanku kemarin, sekarang dan kelak.

Sekarang…

Ya, sekarang…aku sadar, suatu saat jika asaku telah tiba, semuanya akan bias dan hanya menyisakan relief yang indah di hatiku. Kekasihku, belahan jiwaku, maafkan aku. Semoga kamu dapatkan apa yang kamu cari, yang tak kamu dapatkan dari aku. Demi waktu yang terus berlalu dan demi cinta yang menyisakan pesona indah di hatiku, aku pergi meninggalkanmu dan mencari dunia baru…

untuk sebuah kisah yang tak terungkap…

Puisi Paling Sedih

Aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini
Misalnya, menulis: “malam penuh bintang, dan bintang-bintang itu, biru, menggigil di kejauhan…”
Angin malam berkelit di langit sambil bernyanyi

Aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini
Aku pernah mencintainya, dan kadang-kadang dia pernah mencintaiku juga
Di malam-malam seperti ini, aku rangkul dia dalam pelukan
Aku cium dia berkali-kali di bawah langit tak berbatas
Dia pernah mencintaiku, kadang-kadang akupun mencintainya
Bagaimana mungkin aku tak akan mencintai matanya yang indah dan tenang itu?

Aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini
Karena aku tak memilikinya, karena aku kehilangan dia
Karena malam begitu mencekam, begitu mencekam tanpa dirinya
Dan puisiku masuk dalam jiwa seperti embun pada rerumputan
Tak apa kalau memang cintaku tak bisa di sini menahannya

Malam penuh bintang dan tak ada di sini dia
Jiwaku mati kini tanpa dia
Karena ingin menghadirkannya di sini, mataku mencarinya
Hatiku mencarinya dan tak ada di sini dia
Malam yang itu-itu juga, yang membuat putih pepohonan yang itu-itu juga
Kami, yang dulu satu, tak lagi satu kini
Aku tak lagi mencintainya, benar, tapi betapa cintanya aku dulu padanya
Suaraku menggapai angin hanya untuk menyentuh telinganya
Milik orang lain, dia akan jadi milik orang lain
Seperti dia dulu milik ciuman-ciumanku

Aku tak lagi mencintainya, benar, tapi mungkin aku mencintainya
Cinta begitu pendek dan memori begitu singkat
Karena di malam-malam seperti ini dulu aku rangkul dia dalam pelukan,
jiwaku mati kini tanpa dirinya

Mungkin ini luka terakhir yang dibuatnya,
dan ini puisi pertama dan terakhir yang kutulis untuknya…!

- Never More Again Will I Believe The Sun -